PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA — Tokon Uropmabin mahasiswi Ilmu Keperawatan pada Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga ini memberi inspirasi bagi Tanah Papua. Dia baru saja pulang mengikuti Summer Immersion Programm di Shonan Fujisawa Campus (SFC) Keio University di Jepang.
Program pertukaran mahasiswa-mahasiswi dunia ini adalah kali kedua diikuti Tokon Uropmabin. Pada Agustus 2023, gadis kelahiran Kiwirok, 16 Mei 1998 ini juga mengikuti Program Summer School di Asia University, Taiwan.
Tokon adalah mahasiswi Jurusan Ilmu Keperawatan yang duduk di semester 8 atau semester akhir. Dia adalah salah satu dari 200 mahasiswa program beasiswa Kabupaten Pegubin yang dikirim Bupati Spei Yan Bidana, ST,M,Si sejak tahun 2021.

“Saya direkomendasikan oleh Kaprodi Fakultas Ilmu Kesehatan. Kami berangkat ke Jepang pada tanggal 30 Juni 2025 dan balik ke Salatiga tanggal 8 Juli 2025 untuk mengikuti Summer Immersion Programm di Shonan Fujisawa Campus (SFC) Keio University, Jepang. Dari UKSW kami ada 4 mahasiswa, 2 dari dari Fakultas Hukum dan 1 dari Fakultas Teknologi Informasi,” ujar Tokon melalui pesan whastapp-nya, Kamis (10/07/2025).
Perkenalkan Pegubin di Jepang
Menurut Tokon, ada beberapa agenda penting yang diikutinya selama Summer Immersion Programm di Shonan Fujisawa Campus (SFC) pada Keio University, Jepang. Agenda pertama ialah Indonesian Nigth Practice yaitu mahasiswa UKSW memperkenalkan pakaian adat masing-masing daerah.
“Ini sebuah kebanggaan bagi saya, dimana saya menggunakan pakaian adat perempuan Suku Ngalum Pegunungan Bintang dan tampil di sana. Saya juga memperkenalkan Kopi Okmemin, kopi asli dari Pegunungan Bintang yang ditanam di 3 distrik yakni Abmisibil, Kiwirok, dan Okbab. Saya memilih Kopi Okmemin sebagai Indonesian Food pilihan saya untuk diperkenalkan kepada mahasiswa Jepang di Keio University,” kata Tokon.
Selain itu, Tokon dan ketiga temannya dari UKSW Salatiga juga menampilkan permainan tradisional dari Jawa dan mengajak para mahasiswa Jepang untuk ikut bermain bersama mereka. “Yang ikut bermain bersama kami, sebagai bentuk terimakasih kami memberikan produk Kopi Okmemin dan sabun mandi bahan kopi asli Pegunungan Bintang,” urainya.

Agenda kedua, Tokon cs mengikuti “kenyukai” yaitu seminar tingkat internasional yang dihadiri oleh mahasiswa Keio University dan mahasiswa peserta Summer Immersion Program. Materi seminar dibawahkan oleh Prof. Vu Le Thao chi’s.
“Kemudian, kami melakukan cultural visit yaitu berkunjung ke kota Shibuya Tokyo dan mencoba makanan khas Jepang seperti sushi dan lainnya. Kami juga mengikuti Shonan Fujisawa Campus (SFC) Tanabata Festival yaitu “Festival Bintang” yang dirayakan di jepang saat musim panas,” tutur Tokon.
Menurut Alumni SMA YPPK Sentani ini, selama berada di Jepang, ia juga berkesempatan membuat penelitian mini dengan Topik “Independent Learning Strategies Used By Japanese Students In Indonesian Language Classes At Keio University In Learning Indonesian Languages”.
“Tujuannya ialah untuk mengetahui strategi mandiri mahasiswa dalam upaya meningkatkan pembelajaran Bahasa Indonesia serta kendala yang mereka hadapi selama proses mempelajari Bahasa Indonesia itu,” bilang Tokon.
Pesan Untuk Generasi Okmekmin
Di balik prestasi dan kepercayaan yang diterimanya untuk mewakili kampus UKSW, Tokon bukanlah sosok dari kalangan anak pejabat atau orang kaya. Malah, jauh di balik senyumnya di antara para mahasiswa lainnya di Jepang, ia memendam kepedihan masa lalu yang tak diketahui orang lain.
Tokon, anak kedua dari lima bersaudara itu, adalah anak yatim piatu. “Mama saya Yubelina Bidana sudah meninggal tahun 2012 dan bapa saya Arnold Uropmabin meninggal 2019,” kata Tokon.
Kendati sebagai anak yatim piatu, ia tak menyerah dan terus belajar. Sejak mengenyam pendidikan di SD Polobakon-Kiwirok, SMP Marganingsih Muntilan-Magelang, hingga SMA YPPK St. Fransiskus Asisi Sentani, Tokon sudah menunjukkan prestasi akademiknya, terutama kemampuan berbahasa Inggris.
“Terutama sejak SMP, saya mulai gemar Bahasa Inggris. Dari dulu memang saya bercita-cita kuliah di luar negeri, namun tidak kesampaian. Tetapi puji Tuhan, saya dipercayakan untuk ikut students exchange dua kali ini, dan saya bangga,” kata gadis yang hobby bermain futsal dan mendengarkan musik Barat ini.
Pada kesempatan itu, ia berpesan kepada pelajar dan mahasiswa Pegubin dimana saja yang sedang menjalani studi agar bisa serius belajar Bahasa Inggris, terus memotivasi diri sendiri, memanfaatkan berbagai sumber belajar, dan jangan takut untuk berlatih bicara dan menulis dalam Bahasa Inggris.
“Karena Bahasa Inggris membuka banyak peluang, baik dalam akademis maupun karir pastinya. Dan dengan fasih berbahasa Ingris, kita bisa mempunyai jaringan di kancah internasional, baik untuk studi level berikut ataupun bisa jadi untuk karir sebagai bentuk interpretasi dari orang Pegunungan Bintang di taraf internasional. So, bisa dibilang sebagai investasi untuk masa depan,” pesan Tokon.
Ia juga berpesan kepada para mahasiswa Pegubin lain untuk bisa mengikuti program pertukaran mahasiswa seperti ini. Sebab program ini sangat membantu untuk menambah wawasan, pengalaman, dan ajang bagus memperkenalkan budaya Pegunungan Bintang dan Papua di dunia internasional.
Tak lupa, Tokon menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah memberikan support kepadanya, secara khusus Bupati pegunungan Bintang Spei Yan Birdana, ST,M.Si, Anggota DPR RI Komisi XII Fraksi PDI Perjuangan Arif Riyanto Uopdana, ST, Wakil Rektor UKSW Bidang Kerjasama dan Kealumnian, seluruh civitas akademika Fakultas Ilmu Kesehatan UKSW, dan semua keluarga yang selalu memberikan dukungan penuh kepadanya.
Bupati Pegubin Spei Yan Bidana mengapresiasi dan mengaku bangga atas pencapaian Tokon Uropmabin. Ia berharap, ke depan ada mahasiswa dan pelajar lain yang mengikuti jejak Tokon untuk tampil di ajang internasional guna mengangkat nama Papua dan Pegunungan Bintang.
“Semoga ini bisa menginspirasi pelajar dan mahasiswa Pegunungan Bintang lainnya. Poin pentingnya ialah, harus belajar Bahasa Inggris dari sekarang. Karena dengan kemampuan Bahasa Inggris, peluang untuk studi di luar negeri juga lebih terbuka,” kata Bupati Spei. ** (ist).














