Oleh: Ahmad Taufik (*)
SAPTA WENING dikenal lantaran Kedai Kopi yang berada di tengah hutan, yang jauh dari desa atau kampung, lokasinya tak jauh dari wisata termasyhur di Kota Batang dahulu kala.
Jauh sebelum menjadi tujuan wisatawan, kami terbentuk seperti ikatan batin yang terjalin. Kami merupakan satu kelompok kecil yang membentuk diri, tak terikat dengan instansi desa, kelompok karang taruna, atau instansi lainnya.
Sebagaimana diketahui, Kedai Kopi Sapta Wening menjadi salah-satu lokasi rangkaian kegiatan Menoken Kembali Mula “Baku Belajar” 2020-2024 pada 1 Desember 2024.
Turut hadir perwakilan dari berbagai wilayah budaya di Tanah Papua seperti Komunitas Menoken Animha, Komunitas Menoken Saireri, Komunitas Menoken Mee Pago, Komunitas Menoken Domberai, dan Komunitas Menoken Mamta, termasuk Nokeners Mitra BUMMA dan Nokeners BUMMA Namblong (PT Yombe Namblong Nggua), yang dimiliki Suku Namblong di wilayah budaya Mamta, Nokeners Sapta Wening dan lain-lain.
Menoken Kembali Mula “Baku Belajar” 2020-2024 adalah napak tilas, untuk mengingat kembali jejak menoken pertama pada November 2020 di sejumlah lokasi di Pulau Jawa pada masa pandemi Covid-19, yakni Garut, Banten, Batang, Magelang, dan Yogyakarta.
Kedai Kopi Sapta Wening sudah tiga kali menjadi tuan rumah pelaksanaan menoken. Pertama, Menoken pada November 2020. Kedua, Menoken Regional Youth Event pada November 2021. Ketiga, Menoken Kembali Mula “Baku Belajar” November 2024, yang beberapa Nokeners dari wilayah Indonesia, termasuk Papua.
Sapta Wening adalah kelompok pergerakan pemuda desa, yang didalamnya merupakan pemikir dan pelaku wisata.
Nama Sapta Wening sendiri diambil dari Bahasa Jawa Kuno, yang berarti “Tujuan Terakhir”.
Secara Bahasa Jawa Kuno/Kawi Sapta berarti 7 (Tujuh) dan Wening adalah tenang, bersih, ikhlas. Dalam agama Islam, makna Sapta Wening adalah puncak roh manusia bertemu dengan Allah SWT. Dan dalam Agama Jawa/Kejawen/Kawi, Sapta Wening memiliki makna Tempat Ngawulha Ing Gusti.
Sapta Wening secara keseluruhan memiliki makna suatu tempat yang menenangkan.
Dimulai tahun 2017 kami sekelompok terlibat dalam pembentukan sistem informasi desa, yang merupakan titik awal keresahan kami sebagai anak/pemuda desa. Potensi di desa kami sangatlah kaya. Destinasi wisata Curug Genting salah satunya, wisata ini sudah ada sejak zaman dahulu, yang menjadi Ikon Kabupaten Batang sekitar tahun 1990-an.
Serta hutan pohon pinus yang masih sangat asri, dan potensi kopi lokal tentunya. Keresahan kami sebagai anak/pemuda desa adalah kurangnya lapangan pekerjaan, untuk mengembangkan sumber daya generasi bukan sumber daya manusianya, dari masa ke masa “perantauan” merupakan salah-satu tujuan lapangan kerja .
Dari keresahan inilah kami sekelompok mulai membedah, menyatukan, memvisi-misikan sebuah sejarah bagi kami suatu hari nanti.
Visi-Misi Sapta Wening ialah mengurangi generasi urban, membangun sumber daya generasi, menaikkan citra kopi lokal, berguna bagi nusa, bangsa, dan agama. **
(*) Pengelolah dan Pemilik Kedai Kopi Sapta Wening














