Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, JAYAPURA—Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Gerakan Rakyat Cinta Indonesia (DPN Gercin) Hendrik Yance Udam atau HYU menegaskan, oknum TNI yang menginterogasi dan menganiaya warga Papua didalam drum harus diproses sesuai hukum yang berlaku.
Penganiayaan itu ditayangkan melalui video yang viral di sosial media di Kabupaten Puncak, Provinsi Papua Tengah. Namun waktu kejadiannya tak disebutkan.
“Saya dengan tegas menolak aksi – aksi kekerasan di Papua hal tersebut tidak dibenarkan oleh hukum yang berlaku di NKRI, saya juga minta oknum anggota TNI tersebut untuk bisa diproses sesuai dengan hukum yang berlaku. Karena negara kita adalah merupakan negara hukum,” tegas HYU di sela-sela kegiatan buka puasa bersama dengan insan pers di tanah Papua di Hotel Horison Padang Bulan, Kota Jayapura, Sabtu (30/3/2024) petang.
Turut hadir Wakil Ketua DPD Gercin Provinsi Papua Martinus Kacuwai, Wakil Sekretaris DPD Gercin Provinsi Papua Samsudin Manatu, dan Ketua DPC Gercin Kabupaten Jayapura Marthen Ehaa.
Sebagaimaan diketahui, Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Candra Kurniawan dalam keterangannya, Senin (25/3/2024) mengatakan Pomdam III/Siliwangi melakukan penahanan terhadap 8 oknum prajurit TNI terkait kasus penganiayaan sadis terhadap seorang warga di Papua. Kedelapan oknum TNI itu diketahui berasal dari satuan Yonif 300/BJW.
“Diperoleh bukti-bukti awal bahwa terdapat 8 orang prajurit diduga melakukan penganiayaan, sehingga kini dilakukan penahanan oleh Pomdam III/Siliwangi untuk diproses hukum,” ujar Candra Kurniawan.
Sebelumnya, pihak Kodam XVII/Cenderawasih telah menelusuri dan memeriksa rekaman video tersebut. Menurutnya, setelah diperiksa memang benar telah ditemukan adanya aksi penganiayaan terhadap warga asli Papua.
Bisa Dipakai Kelompok Kontra Pemerintah
HYU menjelaskan, seharusnya oknum anggota TNI tersebut, setelah menangkap pelaku atau anggota Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) langsung diserahkan kepada pihak yang berwajib yaitu kepolisian untuk diproses secara hukum positif yang berlaku di NKRI, karena NKRI adalah negara hukum.
Sebab, menurut HYU, video yang lagi viral tersebut bisa dipakai oleh kelompok – kelompok yang selama ini kontra dengan pemerintah, untuk di goreng- goreng dan menciptakan konflik horizontal di Tanah Papua.
HYU juga memberikan apresasi sebesar- besarnya kepada Pangdam XVII/Cenderawasih Mayjen TNI Izak Pangemanan, yang dalam pernyataan – penyataan persnya sudah melakukan klarifikasi terhadap aksi oknum TNI tersebut, karena hal tersebut dapat mencederai institusi TNI dan Pangdam menyampaikan bahwa oknum tersebut akan di proses sesuai dengan hukum yang berlaku.
Permohonan Maaf
Tidak hanya itu, Pangdam juga menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat yang ada Tanah Papua atas kejadian tersebut yang mencoreng upaya – upaya negara dalam mensejahterakan masyarakat yang ada di tanah Papua.
Menurut HYU, sikap tegas yang diambil Pangdam XVII/Cenderawasih patut diapresiasi oleh masyarakat Papua.
“Sebab inilah sikap pemimpin milter yang sangat humanis dan diberkati Tuhan serta menjadi contoh bagi para pemimpin – pemimpin, yang ada di tanah Papua. Sehingga cepat bertindak untuk meredam konflik dan gejolak yang terjadi lebih besar lagi dengan melakukan langkah – langkah preventif,” tandas HYU.
HYU juga ingin meyampaikan bahwa warga Papua yang mendapatkan interogasi dan penganiyaan oleh oknum anggota TNI itu adalah KKB pimpinan Egianus Kogoya, yang bertentangan dengan NKRI dan selalu melakukan kekerasan bersenjata di wilayah Pegunungan.
“Mereka tidak hanya menembak mati aparat TNI/Polri yang bertugas di wilayah Papua Pegunungan, tapi mereka juga melakukan kegiatan – kegiatan kriminal lainnya yang yang meresahkan masyarakat setempat,” ujarnya.
Karena pendekatan – pendekatan kekerasan tidak dapat menyelesaikan persoalan, tapi justru akan menimbulkan kekerasan – kekerasan baru lagi yang jauh lebih besar.
Pendekatan Cinta Kasih
Oleh sebab itu, lanjut HYU, perlu mengunakan pendekatan cinta kasih, yang akan melahirkan cinta kasih dan perdamaian serta kesejahteraan.
HYU mengajak kepada seluruh masyarakat Papua untuk bersama – sama memberikan dukungan kepada TNI/Polri, agar KKB tersebut bisa mendapatkan tindakan hukum yang terukur kepada kelompok tersebut.
Kehadiran TNI dan Polri di Tanah Papua sangatlah penting untuk menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat, sehingga masyarakat tidak menjadi barbar atau main hakim sendiri terhadap tindakan – tindakan hukum yang ada di masyarakat.
“Oleh sebab itu, di bulan suci Ramadhan serta ibadah Paskah Yesus Kristus ini mari kita sama – sama sebagai masyarkat Papua serta komponen masyarakat lainnya, untuk bisa menjaga kamtibmas yang kondusif di tanah Papua,” tandasnya.
Warga Jangan Terprovokasi
HYU juga meminta kepada masyarakat yang ada di tanah Papua, agar jangan terprovokasi dengan isu video viral tersebut, karena isu tersebut sudah ditangani oleh aparat penegak hukum untuk diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.
“Saya juga mencurigai bahwa ada kelompok – kelompok tertentu yang sedang memanfaatkan isu viral tersebut, memancing emosional masyarakat yang ada di tanah Papua untuk membuat Papua membara dan terbakar lagi,” tegas HYU.
Dikatakan mereka ingin menciptakan situasi di tanah Papua tidak kondusif, sehingga terjadi konflik dengan memanfaatkan isu isu serta gejolak – gejolak sosial yang ada di tanah Papua.
Menolak KKB di Tanah Papua
HYU juga minta kepada semua elemen masyarakat yang ada di tanah Papua, untuk kita sepakat dalam menjaga tanah Papua sebagai tanah damai dan menolak KKB di tanah Papua, yang selalu membuat kekacauan dan kekerasan. Dan tak terpengaruh dengan aksi – aksi demonstrasi yang dilakukan kelompok – kelompok tertentu dengan memanfaatkan isu video viral oknum TNI yang menganiaya anggota KKB.
“Dan sampai saat ini tanah Papua dalam keadaan aman dan kondusif, karena TNI/Polri selalu berada di garda paling terdepan dalam mengawal kamtibmas di tanah Papua,” pungkas HYU. **














