BUMMA Solusi Menegakan Kembali Kedaulatan Masyarakat Adat Papua

Iram Kampung Akrua Ambrosius Waisimon dan Iram Kampung Berap Yulianus Yosua, mengalungkan noken kepada Sekda Jayapura Hana S Hikoyabi dan Lead Strategy Mitra BUMMA Abdon Nababan, ketika Stakeholders Conference BUMMA Namblong di Hena Uwakhe Imea, Kampung Ifar Gunung, Sentani, Jayapura, Selasa (28/11/2023). (Foto: Istimewa)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, SENTANI—Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) Namblong menggelar pertemuan para pihak atau stakeholders conference di Hena Uwakhe Imea, Kampung  Ifar Gunung, Sentani, Jayapura, Selasa (28/11/2023).

Stakeholders conference merupakan kerjasama antara Mitra BUMMA, The Samdhana Institute Bogor, PT Yombe Namblong, Pemerintah Daerah (Pemda) Jayapura dan Pusat Pembelajaran Komunitas Hena Uwakhe Imea.

Coordinator Executive Director Mitra BUMMA, Ambrosius Ruwindrijarto mengatakan tema stakeholders conference hari ini adalah merayakan hadirnya BUMMA yang pertama di Papua dan pertama di Indonesia. Bahkan ada keyakinan ini juga akan jadi yang pertama di seluruh Asia. Sebuah perusahaan yang dimiliki masyarakat adat dan mengelola wilayah adatnya.

Turut hadir Coordinator Executive Director Mitra BUMMA Dominic Tan, Lead Strategy Mitra BUMMA Abdon Nababan, Sekda Jayapura Hana Hikoyabi, Direktur Utama PT Yombe Namblong Yohana Tarkou, Direktur Operasional Umum PT Yombe Namblong Yusuf Kasmando dan para Iram Tekai atau Kepala Suku dari wilayah adat Namblong.

Sebagaimana diketahui, di Tanah Papua terdapat dua BUMMA, yakni BUMMA  Namblong, Kampung Sarmai Atas, Distrik Namblong, Kabupaten Jayapura, Papua  dibentuk 12 Oktober 2022. Selanjutnya, BUMMA Kampung Suswa, Distrik Mare, Kabupaten Maybrat, Papua Barat Daya


Stakeholders Conference BUMMA Namblong di Hena Uwakhe Imea, Kampung Ifar Gunung, Sentani, Jayapura, Selasa (28/11/2023). (Foto: Istimewa)

Lima Program

BUMMA Namblong memiliki lima program kerja, masing-masing unit bisnis vanili, usaha eko wisata, perdagangan karbon atau carbon trading, usaha kayu dan non kayu, usaha jasa, usaha pertanian perkebunan peternakan dan perikanan. Sedangkan program kerja tambahan penelitian dan pengembangan atau litbang.

Dari program tersebut baru dua  program yang sudah berjalan, yakni unit bisnis vanili, usaha eko wisata.

Ruwindrijarto mengajak semua kemudian merestui dan mendukung menjadi satu barisan, untuk  memastikan bahwa model ini menjadi solusi yang nyata bagi Papua pada khususnya bagi seluruh nusantara. Sebuah model sebuah solusi, dimana kedaulatan kembali berada di tangan masyakat adat.

“Artinya masyarakat adat berdaulat mengelola wilayahnya, berdaulat membangun usaha ekonomi di wilayahnya dan berdaulat memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya,” ujarnya.

Menurutnya, BUMMA adalah sebuah solusi untuk menegakan kembali kedaulatan masyarakat adat, ternyata solusi itu juga adalah solusi untuk mengatasi krisis yang kita hadapi di dunia, krisis energi yang akan datang, krisis pangan yang akan datang, krisis air yang akan datang dan krisis sosial yang akan datang. Tapi ternyata solusinya ada di BUMMA, karena BUMMA yang mendasarkan diri pada nilai-nilai masyarakat adat yang ada di filosofi noken.

“Itu adalah nilai-nilai yang dibutuhkan  oleh dunia, untuk mengatasi pelbagai krisis. Solusi untuk krisis kami ingin kita semua diskusikan dan kita ingin bersama berjalan memastikan solusi ini nyata dalam waktu dekat,” ujarnya lagi.

Ia juga menyampaikan terima kasih dan dukungan dari Pemkab Jayapura, NGO, donatur dan lain-lain. Dukungan untuk kerjasama ternyata yang paling penting bukan dana. Tapi dukungan yang paling penting untuk BUMMA Namblong adalah kehadiran pertemanan, pendampingan, pengetahuan, jaringan. Kemudian dukungan dalam bentuk dana.

“BUMMA Namblong akan mengelola 53.000 hektar lahan atau satu level dengan Perusahaan-perusahaan  dari Jakarta, Hongkong, Singapura atau manapun. Artinya kita perlu pada level ini. Ayo kita bersama bekerja menuju cita-cita ini. Kemudian kita cari strategi dalam konteks perkembangan dunia nasional dan lokal,” jelasnya.

Senada dengan itu, Coordinator Executive Director Mitra BUMMA Dominic Tan mengatakan, BUMMA hadir untuk  menjamin keberlanjutan penghidupan dan kesejahteraan masyarakat adat.  

Selain itu, ujar Dominic, BUMMA hadir untuk membuat  terobosan penghidupan, perlindungan hutan-keanekaragaman hayati, dan penyelamanat paru-paru dunia dalam kemandirian, kedaulatan dan martabat masyarakat adat.


Coordinator Executive Director Mitra BUMMA Dominic Tan menyampaikan presentasi, ketika Stakeholders Conference BUMMA Namblong di Hena Uwakhe Imea, Kampung Ifar Gunung, Sentani, Jayapura, Selasa (28/11/2023). (Foto: Istimewa)

Turunkan Emisi Karbon

Dominic mengatakan stakeholders conference ini berbicara tentang apa yang perlu hadir disini supaya BUMMA Namblong menggapai sukses.

“Tapi mungkin yang belum kita bahas baik-baik atau belum kita cukup diskusikan adalah siapa yang akan memperoleh manfaat dari BUMMA ini,” terangnya.  Dikatakan BUMMA memberi manfaat bukan hanya untuk orang-orang Namblong atau bukan hanya untuk orang-orang di Tanah Papua ini bahkan untuk saya di Amerika Serikat. Tapi untuk semua masyarakat adat,” jelas Dominic.

Tapi sebenarnya BUMMA ini sifatnya akan membantu perusahaan dunia yang mempunyai target, untuk menurunkan emisi karbon pada tahun 2030 ini.

“BUMMA ini sebenarnya sebuah solusi bagi para investor yang didesak, untuk melakukan investasi-invesistasi yang ramah lingkungan dan ramah sosial. Dan tentu saja kita yakinkan bahwa konsep BUMMA adalah untuk membantu pemerintah memenuhi atau mencapai target-target pembangunannya. Jadi kami ajak mari kita lakukan ini. Mari bekerjasama bukan karena ini solusi atau ini untuk orang Namblong saja, tapi solusi bersama untuk menyelamatkan bumi,” tegasnya.

Dominic mengatakan data statistik menunjukan 90 persen dari bisnis, yang dimulai itu gagal di tahun pertama.

“Jadi karena ini sudah lewat satu tahun, maka kita sudah masuk ke 10 persen yang berhasil. Meskipun demikian, hal yang paling berat adalah bagaimana untuk mempertahankan operasi kegiatan. Tahun lalu 2023 pekerjaan banyak dengan persiapan dan perencanaan, membangun sistem dan prosedur dan lain lain. Tahun depan ini kita sudah harus masuk kepada standar kualitas dan kwantitas produksi misalnya untuk vanili dan kita yakin tahun depan ini kita akan bisa bekerjasama atau membangun jaringan dengan satu atau dua pembeli,” ujar Dominic.

Kunjungi Eko Wisata di Namblong

Diketahui wilayah adat Namblong memiliki sejumlah destinasi eko wisata yang dikelola BUMMA Namblong, antara lain, paket wisata 3 hari dua malam di Kampung Berap, trekking hutan melihat gua sejarah tempat kelelawar, pemantauan burung cenderawasih kuning, air terjun, legenda kali biru dengan naik benem selama 40 menit, tempat pemantauan burung cenderawasih kuning di Isyo Hill’s Ecotourism di Kampung Rhepang Muaif.

Dominic mengutarakan untuk unit bisnis eko wisata tahun ini 2023 sudah uji coba atau trials dengan tiga rombongan tamu dalam negeri atau wisatawan nusantara (wisnu).

Dikatakan tahun depan ini sudah akan ada rencana untuk rombongan tamu luar negeri atau wisatawan manca negara atau wisman dari Amerika dan Eropa.

“Bentuk wisata yang ingin mereka nikmati adalah eko wisata yang  memang sangat unik, karena sangat cocok dengan masyarakat adat dan sangat cocok dengan Namblong,” tuturnya.

Dominic menjelaskan, bagi orang kebanyakan kalau ingin wisata yang biasa- biasa saja orang Amerika pergi ke Kosta Rika atau ke Jamaika, tapi mereka adalah orang-orang khusus yang memang menjadi target pasar.

“Mereka ini adalah orang-orang yang tertarik sekali untuk mengetahui kok bisa masyarakat adat yang jumlahnya di seluruh dunia hanya 5 persen dari total populasi dunia, tapi 5 persen dari total populasi ini melestarikan atau menjaga 80 persen dari total keanekaragaman hayati  yang ada di bumi ini. Jadi yang sangat unik dan sangat kuat untuk dikembangkan eko wisata yang berpusat pada jalan hidup masyarakat adat,” tandasnya.

Untuk unit bisnis ketiga yakni karbon, maka tahun lalu 2023 dipakai untuk melakukan assignment awal untuk melihat potensi dan kelayakan usaha.

“Tahun 2024 kedepan kita harus mulai membangun kesiapan, untuk investasi supaya bisa memperoleh pendanaan untuk proyek tersebut,” katanya.

Kembali ke Masyarakat Adat

Lead Strategy Mitra BUMMA Abdon Nababan mengatakan beberapa tahun yang lalu ia telah berdiskusi hal ini bersama sejumlah tokoh adat di Jayapura, yakni bagaimana caranya, agar masyarakat adat di Papua yang jumlahnya 300 lebih suku berdaulat atas wilayah adatnya untuk menentukan nasibnya sendiri di wilayah adatnya dan menjadi tuan di tanah leluhurnya sendiri.

“Para leluhur menitipkan pesan kepada kita untuk menjaga tanah adat, agar bisa menghidupi seluruh keturunan dari leluhur kita masing masing,” terang Abdon.

Abdon sudah bisa memastikan bahwa wilayah- wilayah adat ini pasti kembali ke masyarakat adat. Suka atau tak suka pasti kembali ke masyarakat adat, karena sesuai amanat UUD 1945 dan UU Otsus Papua.

Pertanyaannya bagaimana mengelolahnya dan mengurusnya jangan sampai tanah-tanah adat justru malah lebih mudah pindah tangan.

“Saya bilang ini harus kita urus. Kita sudan on the track atau di jalan yang benar bahwa wilayah adat pasti kembali ke masyarakat adat dan pasti berdaulat di atas wilayah adatnya sendiri. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana mengelolanya supaya jadi berkat bagi semua,” tegas Abdon.

Dukungan Pemda Jayapura

Sekda Jayapura Hana S Hikoyabi mengatakan pihaknya memiliki berkomiten yang kuat bersama masyarakat adat, terutama unit bisnis vanili di Namblong, unit bisnis penanaman jagung di Kampung Kwadeware dan   Pusat Pembelajaran Komunitas  Hena Uwakhe Imea.

“Kami akan beri dukungan untuk unit-unit usaha tersebut, yang bersumber dari dana Otsus,” ujar Sekda.

Direktur Utama PT Yombe Namblong, Yohana Tarkou menyampaikan BUMMA Namblong ini baru berjalan setahun.

“Kami butuh dukungan dan masukan-masukan dari bapak ibu untuk kami kedepannya seperti apa,” tandas Yohana.

Direktur Operasional Umum PT Yombe Namblong, Yusuf Kasmando mengatakan pihaknya belum membeli vanili dari masyarakat.

Ia menargetkan di tahun ini hingga bulan Pebruari  2024 melakukan transaksi pembelian vanili basah 200 kg.

“Vanili basah akan dikeringkan dan kita timbang lagi dari 200 kg itu dapat berapa,” tutur Yusuf.

Yusuf menjelaskan, pihaknya memiliki quality control, sehingga vanili yang dibeli dari petani benar-benar bermutu tinggi.

“Kita tak terima dari petani, tapi datang lihat di kebun bahwa betul-betul sudah mencapai umur panen 8-9 bulan. Kalau mereka sudah pastikan sudah bisa panen baru kita bisa ambil,” ucap Yusuf.

Yusuf menjelaskan, harga sementara vanili basah untuk grade A ukuran 18 -20 cm keatas Rp 175.000. Grade B ukuran 15-17 cm Rp 125.000 dan grade C ukuran 10-14 cm Rp 100.000.


Stand Papua Cooffee ikut ambil bagian, ketika Stakeholders Conference BUMMA Namblong di Hena Uwakhe Imea, Kampung Ifar Gunung, Sentani, Jayapura, Selasa (28/11/2023). (Foto: Istimewa)

Penelitian Antropologi

Dosen STFT Fajar Timur, Papua, Pastor Bernardus Wos Baru, OSA menyampaikan terima kasih kepada BUMMA,  yang telah mempercayakan dan melibatkan  STFT Fajar Timur, Papua, untuk menyumbangkan sesuatu kepada masyakat, terutama masyarakat adat Namblong di Lembah Grime dan Maybrat di masyarahat adat Mare.

“Kami harap dukungan dari bapak-bapak terutama para para Iram Tekai kalau nanti kami akan kesana untuk penelitian antropologi dan tanya jawab ke wilayah adat Namblong dan seterusnya  supaya sepahan untuk merumuskan sejumlah kekayaan kebudayaan dan adat sebagai dasar pilar berdirinya PT Yombe Namblong ini untuk generasi ke depan bukan hanya untuk Namblong saja, tapi untuk seluruh Tanah Papua.

Sekretaris Umum Dewan Adat Papua (DAP) Leo Imbiri menyampaikan dua pesan penting. Pertama, kepada tokoh-tokoh adat para Iram Tekai bahwa BUMMA Namblong baru berumur setahun.

“Ini anak kita yang kita sama-sama lahirkan, jangan kasih beban terlalu berat kepada anak ini. Kita harus memberikan dukungan yang lebih besar, supaya air jernih itu kita terus nikmati,” tukas Leo.

Kedua, kepada mereka yang mau mendukung. “Dukunglah mereka dalam kapasitas yang mereka punya. Jangan dalam kapasitas yang melampaui kapasitas inisiatif mereka yang ada, karena kita bisa buat inisiatif awal yang baik menjadi sesuatu yang kabur dan kita sama sama tak nikmati hasilnya,” pungkas Leo.

Ketua Ombusdsman RI Perwakilan Papua, Dr Yohanes Rusmanta, SSI, MSi mengatakan ia ingin menarik benang merah dari beberapa penyampaian.

Pertama, bahwa ada partisipasi masyarakat sangat jelas dan konkrit yang sudah dijalankan selama setahun lebih.

“Kalau secara masa kritis itu sudah lewat, tapi kini sudah bertumbuh dari sebuah wujud nyata dari proses pemberdayaan masyarakat, yang memang mandiri dari bawah,” ujarnya.

Kedua, ada tanggungjawab pemerintah dan negara hadir untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur.

Ketiga, kami sebagai lembaga pengawas yang mengawasi jalannya lembaga publik dan pemerintahan secara umum untuk memastikan bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintahan baik tingkat kabupaten dalam hal ini terhadap kemandirian masyarakat yang seperti ini sudah berjalan sesuai dengan koridor atau tidak.

“Kalau tidak maka akan memberikan rekomendasi dan catatan catatan bahwa seharusnya seperti ini,” katanya.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Jayapura, David A Zakaria mengatakan pihaknya selaku pemda Jayapura, yang dalam hal ini berperan sebagai pemangku kebijakan.

“Kami berusaha semaksimal mungkin, untuk melakukan langka langka affirmasi, keberpihakan kemudian langkah-langkah pemberdayaan dan juga proteksi didalamnya dari sisi regulasi-regulasi yang menjadi payung hukum dari pada keberadaan PT Yombe Namblong,” pungkasnya. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *