PAPUAInside.com, JAYAPURA— Pemkab Puncak akan menyalurkan dana beasiswa kepada mahasiswa asal Kabupaten Puncak di berbagai kota studi di Indonesia menggunakan aplikasi berbasis data elektronik untuk mencegah terjadinya manipulasi data.
Rencana tersebut mengemuka saat pertemuan antara Bupati Puncak Papua Willem Wandik, SE, M,Si dengan para mahasiswa yang melalui zoom meeting di Jayapura, Kamis (12/08/2021).
Saat ini tercacat sekitar 800-1000 mahasiswa asal Kabupaten Puncak yang tersebar di berbagai Kota studi menerima dana beasiswa dari Pemkab Puncak setiap tahunnya mulai semester tiga sampai diwisuda.
Pemberian beasiswa tersebut adalah salah satu program unggulan Bupati Willem Wandik untuk menciptakan masyarakat Puncak yang cerdas.
Namun dalam pelaksanaan kata Bupati Wandik, tidak terlepas dari manipulasi data yang dilakukan oknum-oknum pengurus mahasiswa dan oknum pegawai penyalur dana beasiswa.
‘’Setiap tahun hampir mencapai 800-1000 lebih mahasiswa diseluruh kota studi di Indonesia menerima dana beasiswa, yang menjadi persoalan adalah manipulasi data dari oknum-oknum pengurus mahasiswa bahkan oknum pegawai dinas penyalur beasiswa. Persoalan lain juga adalah menambahkan data mahasiswa dari kabupaten lain alias double, hanya karena marga sama sehingga oknum mahasiswa bisa menerima beasiswa di Kabupaten Puncak, bisa juga menerima beasiswa di kabupaten tetangga seperti di Kabupaten Puncak Jaya, Tolikara, Ndugama dan Mimika,’’ jelasnya.
Banyaknya persoalan yang ditemukan terkait penyaluran dana beasiswa mahasiswa Puncak, membuat Bupati Willem Wandik berpikir untuk menciptakan aplikasi berbasis data elektronik. Data mahasiswa asal Puncak akan terkoneksi dengan KTP, asal distrik, asal kampung serta nama perguruan tinggi tempat kuliah.
“Berbagai persoalan ini akhirnya kami berpikir untuk menciptakan aplikasi berbasis data elektronik ini, dimana data mahasiswa akan benar-benar terkoneksi dengan data penduduk, misalnya data KTP, data asal distrik dan kampung, koneksi juga dengan perguruan tinggi, fakultas dan jurusan, bahkan data semester, IPK, semua akan muncul dalam data ini. Kita akan tanya siapa nama kepala kampung, nama kepala distrik, kalau mahasiswa tidak tahu, berarti dia bukan dari Kabupaten Puncak,” ujarnya.
Lanjut Bupati, aplikasi ini juga akan sinergi dengan beberapa kabupaten tetangga, seperti Puncak Jaya, Nduga, Mimika, Nabire sehingga mencegah mahasiswa menerima double dana beasiswa dari kabupaten lain.
Nantinya biaya studi akan dikirim langsung dari Bank Papua ke kampus tempat mahasiswa kuliah dan juga ke rekening mahasiswa.
“Saya ini mantan pengurus mahasiswa Puncak, saya pernah kuliah juga, jadi saya tahu persoalan mahasiswa, makanya kita munculkan aplikasi ini saya jamin akan memangkas berbagai persoalan terkait manipulasi data yang dimainkan oleh oknum mahasiwa maupun staf saya, nantinya penerima beasiswa juga akan tepat waktu,” jelasnya.
Persoalan penyaluran beasiswa untuk mahasiswa kata Bupati Wandik sudah terjadi sejak masih satu dengan Kabupaten Puncak Jaya yang dimekarkan tahun 2001 kemudian dihadapi Pemda Kabupaten Puncak saat ini.
‘’Persoalan ini masih berlanjut sampai dengan Kabupaten Puncak dimekarkan 2008 lalu, terutama terkait dengan manipulasi data, padahal pemerintah Kabupaten Puncak begitu konsen ke pendidikan, dalam setahun saja anggaran yang diberikan untuk beasiswa mencapai 15-20 Miliar dari APBD sejak dirinya menjadi bupati tahun 2013. Yang jadi pertanyaan, kok jumlah mahasiswa yang kuliah tidak pernah berurang, malah selalu saja bertambah,’’ ujarnya.
Dikatakan, ada mahasiswa yang sengaja kuliah lama atau mahasiswa abadi gelar MA hanya karena persoalan manipulasi data, isi data mahasiswa, padahal sudah tidak kuliah. ‘’Aplikasi ini juga akan koneksi dengan perguruan tinggi, biaya kuliah kita bayar ke perguruan tinggi, mahasiswa tinggal kuliah saja, dengan jenjang waktu yang sudah kita sepakati,” terangnya.
Untuk itu, menurut Willem Wandik, para mahasiwa jangan kaget atau takut dengan aplikasi ini, sebab zaman sudah berubah, sudah masuk pada era digital, jadi mau tidak mau Pemkab Puncak juga menyesuaikan, nantinya juga aplikasi ini akan memangkas berbagai persoalan yang ada, semua demi kebaikan mahasiswa asal kabupaten Puncak.
“Kita masih tetap akan sosialisasi akan ketemu lagi yang kedua kali, saya harapkan para pengurus mahasiswa untuk bantu kami soal data, harus jujur ketika ada tim atau konsultan kami yang akan input data, semua demi mahasiswa juga,” harapnya.
Sementara itu, dalam dialog tersebut muncul beberapa masukan dari para mahasiwa, salah satunya berharap ada tim pengawasan dari pemerintah Kabupaten Puncak, yang turun ke setiap kota studi untuk mendata mahasiswa, sehingga data benar-benar valid.
Selain itu ada juga usulan untuk mendorong pembangunan asrama di Kabupaten Nabire maupun diluar Papua.
Untuk diketahui, Pemkab Puncak sudah membangun asrama mahasiswa di Kota studi Jayapura, Manokwari dan saat ini pembangunan sedang dilukukan di Manado dan segera diresmikan. ** (Diskominfo Puncak)














