Freddy Numberi: Paham Radikal Jadi Tantangan Pancasila di Era Milenial

Ketua FORSEMI PApua Freddy Numberi disambut santri dan santriwati di Pondok Pesantren Nuu Waar - Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) Bekasi, Sabtu (12/06/2021). (foto: Dokumen FORSEMI).

Oleh: Faisal Narwawan|

PAPUAInside.com, JAYAPURA – Ketua Umum Forum Senior dan Milenial (FORSEMI) Papua, Ambassador Freddy Numberi berkesempatan bertemu dengan ratusan santri dan santriwati di Ponpes NUU WAAR Al Fatih Kaaffah Nusantara (AFKN) Tambun, Bekasi, Sabtu (12/06/2021).

Dalam kesempatan itu, Freddy Numberi membahas berbagai tantangan Pancasila di era milenial saat ini. Salah satunya mengenai pandangan-pandangan radikal.

Ia mengatakan, walaupun Pancasila telah menyatu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,  namun tantangan yang dihadapi Pancasila tidaklah semakin ringan dan mudah.

Menurutnya, globalisasi dan interaksi antar bangsa-bangsa di dunia tidak serta merta menghasilkan kesamaan pandangan dan keberagaman tentang nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki.

“Kita harus mewaspadai pandangan-pandangan yang radikal dan keetnisan yang sempit serta cenderung membawa kita dalam rivalitas antara sistem nilai-nilai (UUD 1945, Bhineka Tunggal Ika) dan Pancasila,” ungkapnya dalam sambutannya yang diterima Wartawan, Minggu (13/6/2021).

Ia memandang, ideologi transnasional cenderung meningkat memasuki berbagai lini kehidupan.

“Contoh, ideologi merdeka OPM Papua, RMS Maluku, GAM di Aceh. Termasuk keinginan pertahankan identitas etnis atau agama antar kelompok seperti Ambon, Poso, Sambas dan Sampit. Juga perlindungan hak adat terhadap eksploitasi SDA lokal yang berlebihan contohnya Riau hingga Freeport Timika,” katanya dalam sambutannya.

Selain itu, ancaman dan tantangan juga datang dari berkembangnya  teknologi informatika.

Disampaikan, revolusi industri 4.0 telah menyediakan kemudahan dalam berkomunikasi dan interaksi hingga lintas negara.

Ditambah lagi, ketika konektivitas 5G yang melanda dunia maka disampaikannya interaksi antar generasi milenial di Indonesia dengan generasi milenial sedunia tidak dapat dikontrol.

“Kemudahan ini, bisa dimanfaatkan oleh ideologi-ideologi transnasional yang radikal untuk merambah ke seluruh Indonesia, seluruh kalangan, termasuk keseluruh usia tidak mengenal lokasi dan waktu,” katanya lagi.

Menghadapi semua ini, menurutnya perlu perluasan dan pendalaman serta penghayatan nilai-nilai pancasila tidak bisa dilakukan dengan cara-cara biasa, harus luar biasa.

Seluruh elemen bangsa Indonesia dari Merauke hingga Sabang harus bersatu padu dan aktif untuk memperkokoh, nilai-nilai Pancasila dan pilar-pilar kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. **