TNI dan Masyarakat Desa Omponi Aroanop Siapkan Tradisi Bakar Batu

Satgas Yonif 756/WMS Pos Aroanop, bersama masyarakat Desa Omponi Aroanop, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika gotong royong siapkan tradisi bakar batu. (Foto: Dok/Pendam XVII/Cenderawasih)

Oleh: Makawaru da Cunha  I 

PAPUAinside.com, MIMIKA—Menyambut Tahun Baru 1 Januari 2021, Satgas Yonif 756/WMS Pos Aroanop, yang berada dibawah Kolakops Korem 174/ATW bersama masyarakat Desa Omponi Aroanop, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika bergotong royong mempersiapkan tradisi bakar batu, Selasa (29/12/2020).

Danpos Aroanop Letda Inf Laode Muhammad Jafar mengatakan, kegiatan bakar batu dilakukan disamping untuk memeriahkan acara menyambut tahun baru 2021, tapi juga sebagai bentuk ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa, atas berkat yang diberikan bagi warga masyarakat setempat.

“Sebagai salah satu wujud kemanunggalan TNI dengan rakyat, maka kami hadir disini bersama warga desa Omponi Aroanop mempersiapkan acara bakar batu, yang mana acara intinya akan dilakukan pada keesokan harinya,” katanya.

Dikatakan, pihaknya turut terlibat secara langsung dan bergotong royong bersama masyarakat mulai dari menyiapkan tempat di lapangan depan Gereja GKI Bethlehem, mengambil bahan-bahan yang akan digunakan untuk acara bakar batu berupa, pengambilan batu di sungai, dan kayu di hutan.

Sementara itu, Kepala Desa Omponi Aroanop Deteminus Dimpau   memberikan apresiasi dan berterima kasih pada Pos Aroanop Satgas Yonif 756/WMS. Pasalnya, mulai dari awal masuk di Aroanop hingga kini selalu ada bersama masyarakat saling membantu dalam berbagai hal positif

“Terima kasih buat bapak-bapak pos 756/WMS karena sudah sering bantu kami warga Desa Omponi Aroanop. Acara bakar batu bukan selesai hari ini, tapi pada Rabu 30 Desember 2020, saya berharap bapak-bapak pos 756/WMS esok tetap ada bersama-sama dan membantu kami di acara bakar batu,” tutupnya.

Diketahui, tradisi bakar batu merupakan salah satu tradisi penting di Papua yang berupa ritual memasak bersama-sama warga satu kampung yang bertujuan untuk bersyukur, bersilaturahim (mengumpulkan sanak saudara dan kerabat, menyambut kebahagiaan (kelahiran, perkawinan adat, penobatan kepala suku), atau untuk mengumpulkan prajurit untuk berperang.

Tradisi bakar batu umumnya dilakukan oleh suku pedalaman/pegunungan, seperti di Lembah Baliem, Paniai, Nabire, Pegunungan Tengah, Pegunungan Bintang, Jayawijaya, Dekai, Yahukimo dan lain-lain.

Disebut bakar batu karena benar-benar batu dibakar hingga panas membara, kemudian ditumpuk di atas makanan yang akan dimasak. Namun di masing-masing tempat/suku, disebut dengan berbagai nama, misalnya Gapiia (Paniai), Kit Oba Isogoa (Wamena) atau atau Barapen (Jayawijaya). **