Oleh: Dr. Drs. Ave Lefaan, MS
Ketua Jurusan Sosiologi Fisip Uncen Jayapura |
COVID-19 yang berlangsung di semua negara di dunia saat ini, telah memaksa setiap negara untuk mengambil langkah cepat, tepat dan terukur dalam merumuskan dan menentukan kebijakan baru guna menangani penyebaran Covid-19, yang masih berlangsung hingga saat ini dan masif.
Di Indonesia juga mengalami perubahan yang sangat besar dalam mengambil kebijakan, untuk menangani penyebaran Covid-19.
Perubahan kebijakan tersebut telah mempengaruhi budaya kerja serta rencana dan kebijakan pembangunan di setiap institusi negara, seperti institusi ekonomi, institusi keuangan, institusi keagamaan, institusi pertahanan keamanan, institusi pendidikan, institusi kesehatan serta semua institusi negara.
Perubahan kebijakan pembangunan tersebut bukan saja dialami institusi negara saja, namun ikut berdampak pada setiap keluarga sebagai sistem sosial terkecil yang tidak dapat melakukan berbagai aktifitas untuk melangsungkan kehidupan yang normal, seperti sebelum adanya Covid-19.
Perubahan yang dialami dalam setiap keluaga sebagai sistem sosial terkecil sangat berdampak pada unsur-unsur dalam keluarga saat mengalami Covid-19.
Unsur-unsur tersebut terdiri dari nilai dan norma yang mempengaruhi kehidupan bersama, tempat tinggal, lingkungan kawasan tempat bekerja, yang selalu menopang kehidupan keluarga yang biasanya dilakukan secara teratur (social order), menjadi tidak berjalan secara tidak teratur (sosial disorder).
Pola hubungan sebagai sebuah sistem sosial tidak dapat berjalan dengan normal, karena peranan dan status setiap orang dalam keluarga tidak dapat dijalankan sesuai dengan fungsinya, untuk memenuhi kebutuhan sosial dan kebutuhan ekonomi, baik secara ke dalam maupun keluar.
Contoh dengan Covid-19 banyak keluarga harus berada di rumah, sehingga tidak dapat melakukan aktifitas untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya menjadi terbatas.
Hal ini mempengaruhi pengembangan ekonomi rumah tangga dan pola hubungan sosial yang tidak dapat berjalan normal, terutama dalam hal jasa.
Semua aktifitas keluarga sebagai sebuah sistem sosial terkecil menjadi terbatas, karena adanya kebijakan tentang pembatasan sosial (social distancing), pembatasan fisik (physical distancing) dan bahkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).
Ini perlu dimaklumi, karena salah satu metode yang dianggap ampuh untuk memutuskan mata rantai penyebaran Covid-19 adalah dengan melakukan pembatasan jarak sosial dan jarak fisik.
Selain pengobatan secara medis yang sudah dilakukan bagi pasien yang terpapar Covid-19 yang sudah sembuh.
Pertanyaan mengapa Covid-19 sangat berdampak pada keluarga sebagai sebuah sistem sosial terkecil? Hal ini dikarenakan.
Pertama, pada hakekatnya manusia sebagai makluk sosial adalah selalu hidup dalam keadaan saling ketergantungan dan saling mempangaruhi satu dengan lainnya.
Kedua, adanya saling ketergantungan tersebut mendorong manusia untuk berhubungan dan berinteraksi dengan manusia lain.
Ketiga, manusia tidak akan dapat hidup sendiri tanpa bantuan orang lain melalui interaksi sosial untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. (Elly Setuadi, 2010).
Dengan demikian, manusia memiliki dua keinginan sosial yang selalu melekat dalam dirinya yaitu keinginan untuk menyatu dengan alam lingkungnya dan keinginan untuk menyatu dengan sesamanya untuk memudahkan proses hidupnya.
Coba kita bayangkan seandainya Covid -19 masih berlanjut terus, maka:
Apa yang akan terjadi jika keluarga petani tidak menanam bahan makanan bagi masyarakat kota dan atau masyarakat yang bukan petani?
Apa yang terjadi kalau keluarga peternak tidak memproduksi hasil ternaknya bagi masyarakat yang bukan peternak?
Apakah yang terjadi kalau keluarga nelayan tidak menangkap ikan bagi masyarakat yang bukan nelayan?
Pekerjaan mereka ini merupakan salah satu unsur dari unsur-unsur kehidupan keluarga, yang sangat berhubungan erat dengan struktur keluarga sebagai sebuah sistem sosial terkecil, yang memiliki kontribusi bagi kehidupan keluarganya sendiri dan dan ikut menopang negara di sektor pertanian, pertenakan, perkebunan, perikanan dan lain sebagai.
Bila mereka tidak bekerja bagaimana kelangsungan hidup keluarganya.
Disinilah pemerintah telah melakukan upaya untuk memberikan bantuan sosial bagi setiap keluarga yang mengalami pembatasan sosial, maupun karantina bagi mereka yang tertular Covid-19, dalam sebuah sistem jaringan pengamanan sosial.
Ternyata keluarga sebagai data base yang paling utama untuk diperhitungkan dalam memberikan bantuan sosial, dimana setiap individu yang terpapar Covid-19 berada. Mengapa demikian? Karena setiap individu yang terpapar Covid-19 akan berdampak penularannya kepada anggota keluarga lainnya dalam sebuah keluarga.
Dan jika setiap keluarga telah terpapar Covid-19, maka ketahanan keluarga dalam membangun kehidupan yang normal menjadi terganggu.
Oleh sebab itu, pemberian bantun sosial bagi masyarakat yang terpapar Covid-19, terutama ditujukan kepada setiap keluarga untuk memulihkan penyebaran Covid-19, agar tidak berdampak kepada keluarga yang lainnya.
Ini menjadi penting untuk menentukan sejauhmana penyebaran Covid-19 pada suatu wilayah.
Maka dengan begitu keluarga sebagai sumber data yang dapat dijadikan sebagai basis atau sasaran pemberian bantuan sosial.
Dengan begini kita dapat memperoleh sebuah pemetaan tentang wilayah mana yang sudah terpapar, mana yang sedang dan mana yang masih belum terpapar, untuk membuat peta penyebaran Covid-19.
Walaupun kita tahu bahwa setiap masyarakat memiliki pola adaptasi menuju pola new normal atau kenormalan baru, namun pola adaptasi tersebut tidak serta merta dapat dilakukan dengan cepat.
Misalnya aktifitas masyarakat harus tetap berjalan, aktifitas ekonomi, kehidupan sosial, dan aktifitas lainya dapat berjalan kembali, namun hal ini membutuhkan penyesuaian dengan waktu, dan transformasi pengetahun, sikap dan perilaku yang baru bagi setiap keluarga sebagai sistem sosial terkecil.
Oleh sebab itu, sebelum masuk dalam kenormalan yang baru, maka masa adaptasi bagi setiap keluarga untuk penyesuaian dengan protokol kenormalan baru harus dijalankan secara tepat.
Jika dalam masa adaptasi ternyata masih berdampak kepada tingginya penularan Covid-19, maka bisa saja lockdown atau karantina wilayah berikutnya akan diberlakukan dan ini akan mempengaruhi ketahanan keluarga dan akan lebih berat menghadapi kehidupan yang lebih baik, bahkan menghancurkan tatanan sosial keluarga serta berpengaruh langsung kepada kehidupan masyarakat secara keseluruhan.
Ada semboyan yang mengakatan bahwa jika keluarga sehat, maka negara akan kuat. **














