Oleh: Makawaru da Cunha (*)
MENDAPAT berita kepergian Pater Henri Daros, SVD ke alam baka. Semua kehilangan, mengingat ia adalah seorang tokoh pers dan salah-satu imam Ordo Serikat Sabda Allah atau Societas Verbi Divini (SVD).
Pater Henri Daros meninggal dunia di Biara Santu Yosef, Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), 11 Agustus 2021 pukul 17.35 Wita.
Semasa hidupnya ia merintis Harian Flores Pos, bersama Pater John Dami Mukese, SVD, Pater Frans Ndoi, SVD, Thom Wignyanta dan Valens Doy.
Valens Doy adalah wartawan senior Harian Kompas sejak 1970-an dan perintis sejumlah koran daerah atau Kelompok Pers Daerah (Persda) dibawah payung Kelompok Kompas Gramedia (KKG).
Perintis Persda adalah Jacob Oetama, Owner KKG, untuk membantu koran-koran daerah, yang mati suri baik dari aspek redaksional maupun marketing.
Jacob Oetama kemudian menugaskan Valens Doy, yang saat itu menjabat Redaktur Daerah Harian Kompas, untuk kerjasama sejumlah koran daerah dengan sistem pembagian saham.
Diawali Surya Surabaya, Sriwijaya Pos Palembang, Serambi Aceh, Pos Kupang, Suara Timor Timur (STT) di Dili, Bernas Yogyakarta dan lain-lain.
Persda didirikan tahun 1988, yang kemudian bernaung dalam PT Indopersda Primamedia. Direktur Persda yang pertama Raymond Toruan dan Wakil Direktur Valens Doy.
Persda kemudian berubah menjadi Tribun Network pada 1 Juli 2020. Tribun Network telah menerbitkan jaringan dan puluhan surat kabar, yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia.
Saat ini, Tribun Network mengelola 25 surat kabar harian dan 45 jaringan website dibawah naungan Tribunnews.com, dan diperkuat lebih dari 500 jurnalis dari 260 kabupaten dan kota di Indonesia.
Tribunnews.com juga menyajikan halaman digital paper dari koran-koran Tribun Network. Berbeda dari e-paper yang merupakan replika dari edisi cetak, digital paper merupakan koran yang hanya terbit secara online dalam format digital.
Antara lain, Tribun Timur di Makassar, Banjarmasin Post, Tribun Batam, Tribun Jateng di Semarang, Tribun Kaltim, Tribun Manado, Tribun Papua, Tribun Flores.
Perkenalan dengan Pater Henri Daros sekitar Juni 1999 silam, saat ia hendak berangkat ke Jakarta. Kami bertemu di ruang tunggu Bandara Waioti. Kini Bandara Frans Seda, Maumere.
Perkenalan berlangsung singkat, tapi berkesan. Praktis hanya sekitar sepuluh menit. Itulah pertemuan pertama dan terakhir saya bersama Pater Henri Daros.
Saya menemuinya, karena ia punya rencana menerbitkan Harian Flores Pos di Ende. Saya menyampaikan keinginan bergabung dengan Flores Pos. Ia pun tersenyum dan mengangguk.
Itulah awal saya mulai meniti karier di Flores Pos. Apalagi saya pun sering menyumbang tulisan dan foto untuk SKM Dian, yang juga dipimpin Pater Henri Daros.
Kehadiran surat kabar harian di Pulau Flores memang suatu kebutuhan. Saya sempat sampaikan kepada Valens Doy sudah saatnya Flores memiliki surat kabar harian, saat bersama mendiang Johny Juang berjumpanya di Kantor Persda Kompas Gramedia, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta sekitar tahun 1990 silam. Johny Juang kemudian menjabat Manajer Iklan Harian Pos Kupang, saat terbit perdana 1 Desember 1992.
Valens Doy mengatakan kepada saya sebenarnya ada prospek menghadirkan surat kabar harian di Flores. “Tapi mereka disana mau kerja,” tanya Valens Doy.
Saya paham, karena saat itu Valens Doy sedang getol-getolnya merintis surat kabar daerah dari Sabang sampai Merauke. Valens Doy seperti biasa merintis sebuah surat kabar daerah. Setelah dinilainya berjalan baik ia pun menyerahkan kepada orang daerah untuk melanjutkan. Valens Doy bersama timnya berpindah merintis penerbitan di daerah lain.
Rencana penerbitan Flores Pos pun perlahan terwujud, setelah Pater Henri Daros bertemu Valens Doy di Kantor Majalah Prospektif di Menteng, Jakarta. Prospektif dibidani Valens Doy, Nanik R Deyang, Budi Purnomo dan kawan–kawan, untuk mengisi ceruk isu-isu bisnis dan investasi, yang belum maksimal digarap majalah sejenis.
Valens Doy sepakat bekerjasama dengan Pater Henri Daros menerbitkan Flores Pos. Valens Doy pun mengajak sejumlah orang kepercayaannya di Persda KKG, untuk mendukung penerbitan Flores Pos di Ende, antara lain wartawan senior Steve H Prabowo dan sejumlah tenaga keuangan.
Tim Valens Doy membawa peralatan kerja, seperti seperangkat komputer, modem dan lain-lain. Valens Doy memang berpengalaman dan “tangan dingin” jika menerbitkan surat kabar.
Ada wartawan, Teknologi Informasi (TI), tenaga keuangan dan marketing kemudian bergabung bersama karyawan SKM Dian mempersiapkan penerbitan Flores Pos. Totalitas dan komitmen Valens Doy membantu penerbitan Flores Pos begitu tinggi hingga ia rela berpisah sementara dengan istrinya Elsa Doy dan putra-putrinya Magdalena Elva Doy dan Alexander Valsa Doy di Jakarta.
Menjelang penerbitan perdana Flores Pos, saya ajak rekan Edmundus GMS Sadipun, untuk ikut tes calon wartawan Flores Pos di Ende. Edmundus saat studi di Yogyakarta rajin mengirim tulisan atau pun artikel ke Harian Kedaulatan Rakyat (KR). KR adalah koran legendaris dan terbesar di Kota Gudeg saat itu.
Saya dan Edmundus menumpang Bus Malam “Agogo” dari Maumere ke Ende. Tiba di Ende dini hari kami langsung menjumpai Bruder Ino Making, SVD di Biara Santu Yosef. Bruder Ino Making adalah Manajer Sirkulasi SKM Dian. Kami pun didaulat Bruder Ino Making menginap sementara dengannya.
Setelah istirahat sejenak saya dan Edmundus menuju Mabes Flores Pos. Di sana sudah menunggu Pater John Dami Mukese, Pater Frans Ndoi, Thom Wignyanta dan Valens Doy. Di ruang redaksi, Frans Obon, Philipus Suri, Kristo Lawudin dan Maxi Kunu tengah sibuk menata halaman Flores Pos. Minus Frans Anggal yang ditugaskan khusus Valens Doy belajar desain visual di Harian Warta Kota Jakarta milik Persda.
Beberapa saat muncul Kepala Biro SKM Dian Ruteng Anton Pandong, Kepala Biro SKM Dian Kupang Albert Vincent, Staf Redaksi SKM Dian Biro Lewoleba Vian K Burin, Kepala Biro SKM Dian Biro Bajawa Hubert Uman dan wartawan senior Jos K Diaz.
Mereka semua dipanggil, untuk memperkuat redaksi Flores Pos, juga melatih calon wartawan dipimpin langsung Tim Khusus, yakni Valens Doy, Thom Wignyanta, Frans Obon dan Philipus Suri.
Pelatihan calon wartawan berlangsung santai dan menyenangkan. Saya pun berkenalan dengan Anton Harus, Maxi Gantung, Berno Watan, Kornelis Rahalaka dan Frans Husni. Yang terakhir melanjutkan karier sebagai politisi di PDIP.
Di Divisi Marketing yang diampuh Pater Frans Ndoi, saya pun berkenalan dengan Ana da Silva dan Yunita Ina. Suasana kekeluargaan begitu kental.
Calon wartawan Flores Pos dibagi tiga kelas. Masing-masing kelas redaksi, kelas iklan dan kelas sirkulasi. Kami di kelas redaksi mendapat lembaran soal berisi pengetahuan umum dan teknik menulis berita. Kemudian hasil kerja masing-masing kelas dipresentasikan dalam pleno. Hari terakhir kami mendapat tugas hunting di lapangan. Sementara Tim Khusus terus melakukan koordinasi dan meeting hingga larut malam.

Selama di Ende, Valens Doy tinggal di rumah kontrakan milik mantan wartawan Kompas Frans Sarong di Jalan Melati, Ende. Untuk melancarkan kegiatannya, Valens Doy memboyong peralatan kerja dan mobil pribadinya Isuzu Panter warna hijau beserta sopir dari rumahnya di Denpasar (Bali) ke Ende.
Suatu hari Valens Doy tak sempat datang ke Markas Besar (Mabes) Flores Pos di Jalan El Tari, Ende. Ia tinggal di rumah sembari mempersiapkan proposal. Redaktur Pelaksana SKM Dian/Flores Pos, Thom Wignyanta minta saya menyusul ke rumah Valens Doy.
Ketika saya datang Valens Doy sudah menunggu di teras rumahnya, dan menyerahkan disket kepada saya. Valens Doy pun memberikan uang Rp 100.000. “Om tak pegang proyek lagi,” bisiknya.
Sebagaimana cerita rekan-rekan wartawan yang pernah bekerjasama dengannya, Valens Doy royal kepada karyawannya. Gajinya tak dibawah pulang, tapi dibagi-bagi atau sekedar mentraktir makan anak didiknya. Tiba di Mabes, ternyata itu tulisan Tajuk Rencana atau Flores Pos menyebutnya Bentara.
Di tengah merintis Flores Pos, Pater Henri Daros mendapat tugas menjadi misionaris sekaligus dosen program studi Bahasa Indonesia, Departemen Studi Asia, Universitas Nanzan, Nagoya, Jepang.
Pater Henri Daros tinggal di Negeri Sakura selama 17 tahun. Kemudian kembali ke Ende hingga wafat.
Hari yang dinanti makin dekat. Pater John Dami Mukese keluar dari ruang produksi membawa lay out Flores Pos ukuran kertas stensil. Kami semua tercengang menyaksikan lay out halaman pertama Flores Pos hitam putih. Logo Flores Pos memakai huruf kapital. Dibawah logo ada tag line “Dari Nusa Bunga untuk Nusantara”. Flores Pos dicetak di Penerbitan Arnoldus Ende.
Halaman pertama atau etalase berjejal 6 sampai 7 berita, dengan banner head line, di tengahnya ada box dan di bagian bawa ada features. Di halaman dalam ada rubrik Ende, Manggarai dan Ngada, Sikka, Flotim dan Lembata. Kemudian Kupang dan Jakarta.
Pada master head muncul nama-nama pengelola Flores Pos. Pemimpin Umum: P. Henri Daros, SVD. Pemimpin Redaksi: P. John Dami Mukese, SVD, Pemimpin Perusahan: P. Frans Ndoi, Redaktur Pelaksana: Thom Wignyanta. Manajer Produksi: Frans Anggal. Manajer Peliputan Frans Obon.
Staf Redaksi: Philipus Suri, Kristo Lawudin, Maxi Kunu, Petronela Mada.
Manajer Sirkulasi: Bruder Ino Making. Redaktur Khusus: Valens Doy, Gaspar Parang Ehok, Johnny G Plate dan Romo Domi Nong, Pr. Johnny G Plate kini dipercayakan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjabat Menteri Komunikasi dan Informatika RI.
Biro Maumere: Andreas Lawe (Kepala), Densius Ria Eman, Bernadus Bango, Lukas R Lado, Biro Bajawa: Huber Uman (Kepala), Biro Ruteng Anton Pandong (Kepala), Andre Durung. Biro Lewoleba: Carolus Burin (Kepala), Vian K Burin, Staf Redaksi Biro Larantuka Frans Kolong Muda, Biro Kupang Albert Vincent (Kepala), Berno Watan dan Biro Jakarta Hilarius Japi (Kepala) dan Piter Sambut.
Flores Pos Akhir dilaunching pada 9 September 1999. Launching Flores Pos tanpa acara besar seperti lazim dilakukan, tapi hanya ibadah singkat yang dipimpin Pater John Dami Mukese.
Alhasil, penerbitan perdana Flores Pos mendapat sambutan hangat dari khalayak di seluruh wilayah Nusa Bunga. Edisi perdana pun ludes. Oplah Flores Pos saat itu 1.500 eksamplar setiap hari.
Flores Pos mengangkat isu utama, yakni wacana bakal calon provinsi Flores, penolakan pembentukan Korem di Flores dan penyakit rabies. Isu-isu terus digulirkan Flores Pos. Valens Doy ingin editorial policy newspaper Flores Pos agak berbeda dengan Pos Kupang, yang juga dirintisnya bersama Damyan Godho dan Rudolf Ngai.
Letak geografis Pulau Flores, Lembata, Solor dan Adonara yang jauh antara satu kabupaten dengan kabupaten lain pun ikut mempengaruhi sistem distribusi Flores Pos. Jadwal transportasi darat yang tak tetap membuat Flores Pos acapkali terlambat tiba di tangan khalayak.
Solusi satu-satunya adalah meningkatkan kapasitas para loper, untuk mengantar Flores Pos ke seluruh wilayah menggunakan sepeda motor. Belum lagi ada hambatan di jalan. Para loper yang mengendarai sepeda motor kadang membawa tiga bundel sekaligus, Flores Pos, SKM Dian dan Kunang-Kunang.
Ini bukan pekerjaan ringan, karena para loper harus turun gunung, lembah dan ngarai, agar Flores Pos lekas tiba di masing-masing kabupaten. Setelah tiba para loper lokal pun melanjutkan distribusi Flores Pos hingga ke kampung-kampung terpencil.
Misalnya Flores Pos selesai cetak pukul 04.00 Wita. Kemudian proses melipat da mengepak dengan cara konvensional memakan waktu satu jam, maka Flores Pos mulai star dari Ende sekitar pukul 06.00 Wita. Jarak tempu Ende-Maumere sekitar 2 sampai 3 jam. Sekitar pukul 09.00-10.00 Wita. Flores Pos mulai didistribusikan di wilayah Kabupaten Sikka.
Bagaimana distribusi di wilayah Flotim, Lembata, Solor dan Adonara? Petugas distribusi di Mabes Flores Pos Ende mengirim langsung via Bus “Orakeri” ke Larantuka. Kemudian menggunakan motor laut menuju Lewoleba, Solor dan Adonara. Flores Pos tiba disana sekitar pukul 15.00- 16.00 Wita. Itu pun kalau motor laut yang sandar di pesisir laut Larantuka tak mengalami hambatan. Belum lagi distribusi ke Bajawa, Ruteng, Labuan Bajo dan Mbay. Ini adalah rantai distribusi yang panjang.
Untuk urusan distribusi Flores Pos agak perlahan-lahan, jika dibanding Pos Kupang, yang sudah memperkenalkan Sistem Cetak Jarak Jauh (SJJ). Selain dicetak Kupang untuk distribusi di seluruh Pulau Timor, Sabu, Rote, Sumba dan Alor. Pos Kupang juga dicetak di Maumere, untuk wilayah Flores, Lembata, Solor dan Adonara.
Untuk memutus mata rantai distribusi yang panjang dan mahal, maka manajemen memutuskan mencetak Flores Pos di Kupang dan Jakarta, mengingat pembaca Flores Pos di kedua kota itu makin meningkat.
Albert Vincent di Kupang dan Hilarius Japi dibantu Piter Sambut di Jakarta mesti kerja ekstra mencari percetakan yang mau mencetak Flores Pos. Apalagi kertas cetak saat itu sulit didapat dan makin mahal.
Flores Pos Edisi Kupang dan Edisi Jakarta makin mencuri hati warga Flores, yang cukup banyak tinggal dan bekerja di kedua kota itu. Mereka rindu kampung halaman dan ingin mengetahui informasi dari daerah lewat Flores Pos. Maklum waktu itu, informasi tak seluas saat ini.
Di tengah kesibukan, Thom Wignyanta memanggil saya dan menyampaikan, agar saya bertugas ke Biro Bajawa, Kabupaten Ngada, untuk memback-up Huber Uman. Rekan Edmundus GMS Sadipun mendapat tugas ke Biro Maumere.
Kabupaten Ngada adalah sebuah kabupaten di Pulau Flores, Provinsi NTT. Ibukota kabupaten adalah Bajawa.
Almarhum H. Nainawa, seorang tokoh dan pemuka adat (meninggal di usia 96 tahun pada tahun 2015) menuturkan bahwa nama Bajawa sebenarnya berasal dari “Bhajawa” yaitu nama satu dari antara tujuh kampung di sisi barat Kota Bajawa. Tujuh kampung yang disebut “Nua Limazua” tersebut adalah Bhajawa, Bongiso, Bokua, Boseka, Pigasina, Boripo dan Wakomenge.
Nua Limazua tersebut merupakan suatu persekutuan “Ulu Eko ” yang dikenal dengan “Ulu Atagae, Eko Tiwunitu”.
Nua Bhajawa adalah kampung terbesar dari antara tujuh kampung tersebut dan merupakan tempat tinggal Djawatay sebagai Zelfbertuurder atau Raja Pertama dan Peamole sebagai raja yang kedua. Mungkin karena itulah nama Bhajawa lebih dikenal dari yang lainnya dan digunakan oleh Belanda sebagai nama pusat pemerintahan Onder Afdelling Ngada. Bhajawa kemudian berubah menjadi Bajawa, karena penyesuaian pengucapan terutama bagi orang Belanda ketika itu yang tidak bisa berbahasa daerah dengan benar.
Dari aspek Etimologi, kata “Bhajawa” terdiri dari “Bha ” yang berarti piring dan “Jawa”yang berarti perdamaian. Jawa bisa berarti Tanah Jawa. Sehingga “Bhajawa” bisa berarti piring perdamaian, bisa juga berarti piring dari Jawa.
Dataran di sebelah timur dari tujuh kampung tersebut, yang kemudian menjadi pusat kota Bajawa, pada mulanya masih merupakan kebun ladang dengan banyak nama seperti “Mala”, “Ngoraruma”, “Surizia”, “Umamoni”, “Padhawoli”, “ Ngedukelu ”, dan lain-lain.
Kawasan Gereja dan Pastoran Paroki MBC bernama Surizia, kawasan rumah jabatan Bupati, Mapolres dan Kantor Bupati lama bernama Ngoraruma, kawasan tangsi Polisi dengan nama lain lagi, dan seterusnya.
Saya menyaksikan dari ketinggian kota Bajawa tak ubahnya piring atau mangkuk. Tiba di Bajawa saya disambut penduduk yang hangat dan ramah, udaranya dingin, alamnya cantik, airnya jernih dan segar.
Setelah beristirahat sejenak saya pun langsung ke Kantor SKM Dian/Flores Pos di depan RSUD Bajawa, untuk bergabung dengan Huber Uman dan kolega.
Selama bertugas di Bajawa, saya menumpang di kediaman kerabat Pater Ansel Doredae, SVD persis di depan Restoran Borobudur, Bajawa.
Ansel Doredae adalah Biarawan dan Dosen Antropologi di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Kini Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Maumere, Flores, NTT.
Tugas pertama saya berangkat ke Mbay, untuk meliput kedatangan Pendiri PT Astra Group William Soeryadjaya, bersama tokoh nasional Frans Seda, didampingi Staf Bappeda NTT Raja Pono. Mereka tengah survei untuk rencana pembukaan peternakan sapi berskala besar. Selama sehari penuh saya ikut road show meninjau sejumlah lokasi hingga Pelabuhan Marapokot sekitar akhir September 1999 silam.
Frans Seda mengatakan Mbay sangat potensial, diantaranya untuk peternakan sapi. Selain memiliki hambaran jutaan hektar lahan yang luas, air dan pakan tersedia dan jarak yang relatif dekat, jika ingin ekspor ke Australia dan New Zealand.
Di Mbay saya kesulitan mengirim berita dan foto via Faxi Mile ke Mabes Flores Pos di Ende, lantaran jaringan buruk. Harap maklum saat itu belum ada Email dan Whats App. Apalagi Mbay tempo dulu hanya salah satu Kecamatan dari Kabupaten Ngada, tentu fasilitas telekomunikasi belum terkoneksi seperti saat ini.
Mbay kini ibukota Kabupaten Nagekeo. Kabupaten Nagekeo adalah pemekaran dari Kabupaten Ngada sejak 22 Mei 2007 silam.
Saya pun kembali dan mengirim berita dari Kantor Telkom Bajawa. Berita tiba di Mabes Flores Pos, walaupun terkadang tulisan kabur. Tapi masih bisa terbaca.
Puji Tuhan, berita dan foto saya dimuat di halaman pertama Flores Pos. Sejenak saya menikmati hasil karya saya, sembari menandai mana fakta dan data yang belum terangkum.
Menjelang Turnamen El Tari Memorial Cup (ETMC) 1999 di Ende saya dipanggil ke Mabes Flores Pos, untuk bergabung dengan Tim Peliput ETMC bersama Albert Vincent, Vian K Burin, Jos K Diaz dan “darah baru” Edward L. da Gomez. Vicky nama panggilannya memilih bergabung dengan Flores Pos di Ende, setelah kuliah di Jakarta. Vicky beruntung, karena dibimbing langsung Valens Doy.
Vicky kini merintis Suara Sikka.com. Vicky juga aktif menulis buku melanjutkan karya ayahandanya mendiang EP da Gomez.
ETMC adalah turnamen sepakbola empat tahunan antar kabupaten/kota di Provinsi NTT. Gubernur NTT mendiang El Tari mencetuskan turnamen El Tari Cup (ETC), untuk menjalin persahabatan dan kekeluargaan antar warga Flobamora. Tuan rumah ETC bergilir. Setelah El Tari wafat, ETC berubah menjadi ETMC hingga kini.
Tim Peliput ETMC kami sangat solid. Albert Vincent sebagai play maker. Saya, Vicky dan Vian K Burin mengumpan bola ke sang goal getter Jos K Diaz, untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya.
Jos K. Diaz memang didatangkan khusus Valens Doy dari Kupang, sebagai tandem Frans Anggal untuk halaman pertama Flores Pos.
Betapa bergensinya ETMC, membuat saudara tua kami Pos Kupang merasa perlu menerjunkan kolumnis sepakbola Dion Bata Putra hadir langsung Ende. Liputan ETMC menjadi primadona dan ikut menaikan oplah Flores Pos. Setiap hari khalayak membaca Flores Pos hanya untuk memberi dukungan bagi tim daerahnya.
Valens Doy belum puas dengan liputan ETMC. Semua pun tahu Valens Doy berpengalaman meliput even-even olahraga internasional. Kejuaraan Dunia Bulu Tangkis Thomas Cup, Uber Cup, Olimpiade di manca negara. Valens Doy bersama kolumnis sepakbola Kadir Yusuf dikirim Harian Kompas hadir di Piala Dunia 1982 di Spanyol. Liputan Valens Doy dan Kadir Yusuf mendapat perhatian luas khalayak. Oplah Kompas saat itu pun meningkat drastis. Bahkan duet Valens-Kadir disebut-sebut menyajikan liputan terbaik sejak Harian Kompas terbit perdana 28 Juni 1965.
Valens Doy dan Kadir Yusuf penggemar jogo bonito atau sepakbola indah. Dimana pun tim samba tampil entah di Stadion Santiago Bernabeu, Madrid atapun Stadion Camp Nou, Barcelona keduanya tak pernah absen. Meski Zico, Eder dan Socrates disingkirkan Italia lewat drama yang menegangkan di perdelapan final, tapi di mata Valens dan Kadir Brazil tetaplah tim terbaik di dunia.
Setiap pukul 07.00 Wita, rapat perencanaan dipimpin Thom Wignyanta, dihadiri Valens Doy. Sebelum rapat, Valens Doy sibuk memegang pena dan Flores Pos. Ia mencoret beberapa bagian, memberikan catatan dan menambahkan berita yang wajib di follow-up keesokan harinya. Hal ini rutin dilakukan Valens Doy di mana pun ia memimpin media.
“Kenapa profil pemain bintang ETMC terlalu serius,” gerutu Valens Doy. Valens Doy ingin profil disajikan lebih ringan, agar dahi tak berkerut.
Usai ETMC saya ke Biro Maumere, untuk mendukung Lukas R Lado dan Edmundus GMS Sadipun. Saat tengah sibuk mengejar deadline. Valens Doy muncul. Mengenakan jeans dan kaos warna putih berkrak. Sorot matanya tajam, bicaranya pelan dan lembut. “Kantor ini lumayan nyaman. Pressurenya juga ketat,” tuturnya memberi spirit.
Kantor SKM Dian/Flores Pos Biro Maumere, menempati ruang kecil, berdampingan dengan Toko Buku Nusa Indah dan berhadapan dengan Pasar Tingkat, Maumere.
Kantor SKM Dian/Flores Pos Biro Maumere dan Tokoh Buku Nusa Indah, sebelumnya adalah kediaman mendiang Paulus Samador da Cunha, Bupati Sikka pertama sejak 1960-1967.
Mentari perlahan tenggelam, Valens Doy menjamu kami makan malam di sebuah Restauran China di tengah Kota Maumere. Turut hadir Andreas Lawe dan Edmundus GMS Sadipun. Kami makan sepuas-puasnya. Maklum, proses mencari berita dan menulis butuh waktu yang panjang, membuat jam makan kami kadang-kadang tertunda.
Usai makan malam, kami berbincang santai. Valens memberikan kami bekal berupa filosofi media massa, teknik menulis dan menyajikan berita, jaringan berita antar biro dan bagaimana memimpin organisasi media massa. Pesan yang disampaikan pun to the poin dan apa adanya, sehingga kami gampang memahaminya.
Valens memulai karier di Harian Kompas sejak tahun 1972 silam. Di harian terbesar di Indonesia ini, Valens bergabung di Desk Olahraga bersama Thomas A. Susilo, Ignatius Sunito dan Sumohadi Marsis.
Valens wafat dalam usia 61 tahun pada 3 Mei 2015 di ICCU RS Sanglah, Denpasar (Bali).
Kehadiran Flores Pos bukan tanpa hambatan. Semua sumber daya yang ada dicurahkan untuk Flores Pos. SKM Dian, yang sudah jadi bacaan wajib orang Flores pun sering kedodoran. Saya acapkali menemui SKM Dian ketiadaan berita dan foto, karena lebih banyak disuplai untuk Flores Pos.
Hal ini membuat jadwal terbit SKM Dian terganggu. Bahkan juga Majalah Bulanan Anak-anak Kunang-Kunang. Dan tentu ikut pula mempengaruhi sistem marketing. Apalagi SKM Dian menjadi langganan tetap khalayak hingga ke wilayah terpencil di Flores. Bahkan tersebar di lima benua hingga China dan Jepang.
Saya mendapati Pater John Dami Mukese, SVD selalu berada di ruang produksi, untuk mempercepat jadwal terbit SKM Dian. Terganggunya jadwal terbit SKM Dian disadari sepenuhnya manajemen. Karena itu, solusi yang diambil adalah menjadikan SKM Dian sebagai Flores Pos Minggu. Namun demikian, SKM Dian belum sepenuhnya normal.
Untuk menerbitkan Flores Pos dibutuhkan investasi yang tak kecil. Yayasan Flores Media tak punya dana. Mesin cetak pun masih numpang di Penerbitan Arnoldus Ende.
Mengapa Flores Pos tak berada dibawah Persda Kompas Gramedia? Saya tak sempat bertanya kepada Valens Doy maupun Thom Wignyanta. Tapi saya maklum, karena Persda Kompas Gramedia sudah investasi di Pos Kupang. Mana mungkin mereka investasi di dua penerbitan dalam satu provinsi. Persda Kompas Gramedia hanya membantu mensuplai berita nasional untuk Flores Pos dan SKM Dian.
Bagaimana mengatasi krisis dana di Flores Pos? Bukan Valens Doy kalau tak bisa mencari terobosan. Manajemen kemudian melakukan strategi lobbyist journalist, maka diutuslah Thom Wignyanta membujuk para Bupati se Flores, untuk proyek kerjasama.
Bupati Manggarai saat itu Gaspar Parang Ehok rela mengucurkan dana untuk membantu Flores Pos. Sedangkan Bupati lainnya hanya sepakat membayar kerjasama halaman. Syaratnya, Flores Pos wajib menyampakan informasi pembangunan di wilayahnya.
Ada dana maupun tak ada dana Flores Pos berkomitmen, untuk tetap terbit. Suka atau pun tak suka selama 20 tahun SKM Dian kemudian Flores Pos mampu menerobos ketertinggalan informasi dan mendorong perubahan dalam masyarakat dan ikut pula mencerdaskan kehidupan bangsa, khususnya di Pulau Flores dan sekitarnya.
Ada cerah ada suram. Masa cerah Flores Pos, yang begitu diminati khalayak Flores akhirnya perlahan suram. Kabar mengejutkan itu datang dari rekan Yunita Ina dari Ende.
“Kak, kita semua sedih Flores Pos berhenti terbit,” ucap Yunita Ina via Chat kepada saya. Yunita Ina adalah mantan karyawan divisi marketing Flores Pos dan SKM Dian. Ia kini pegawai di Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Ende.
Hati saya miris. Meski begitu, saya sadar. Di tengah badai krisis praktis seluruh aspek kehidupan manusia ikut terkena dampak, termasuk bisnis media cetak. Dari biaya produksi yang terus naik, penjualan di loper yang makin berkurang dan khalayak lebih suka membaca di media sosial, sehingga biaya operasional tak sebanding dengan pemasukan atau income.
Di era digital munculnya citizen journalism atau jurnalisme warga. Peristiwa apa pun yang terjadi di tengah khalayak dalam waktu sepersekian detik saja, anak-anak atau pun ibu rumah tangga sudah memposting di media sosial.
Untuk tetap menjaga eksitensinya, media pun memunculkan karya jurnalistik yang lebih memikat dan mendalam, antara lain jurnalisme investigasi, yang kini diperkenalkan Majalah Tempo.
Jurnalisme warga meski cepat, tapi berita yang disajikan tanpa struktur berita. Bahkan lebih parah lagi mereka acapkali mengabaikan kode etik jurnalistik.
Lantas kemana karyawan Flores Pos kini? Sejumlah awak Flores Pos memilih bertahan bersama Yayasan Flores Media, mereka sepakat melanjutkan Flores Pos. Maka diputuskan menerbitkan Flores Pos versi online yakni Flores Pos.Net sejak 10 Oktober 2019.
Wim de Rozari, Wartawan Flores Pos.Net mengatakan kepada saya Flores Pos sudah punya branding. “Sayang kalau tak dilanjutkan,” tukas Wim.
Itulah secuil kenangan saya bersama Pater Henri Daros dan Valens Doy. Selamat jalan. Rest in Peace. Beristirahatlah dalam Damai.
(*) Mantan Wartawan SKM Dian/Flores Pos, Tinggal di Jayapura, Papua













