Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, SENTANI—Gereja Injili di Indonesia (GIDI) menyoroti pelaksanaan Pemilu 2024, baik Pileg maupun Pilpres di Tanah Papua.
“Pemilu 2024 sangat buruk, sehingga merusak tantanan hidup dan demokrasi, khususnya bagi orang Papua,” tegas President GIDI Pendeta Dorman Wandikbo di Sentani, Selasa (12/3/2024).
Dorman menyampaikan beberapa alasan. Pertama, terjadi kecurangan yang luar biasa dalam pemilu 2024. Hal ini menunjukan Indonesia negara miskin keadilan.
Pelaksanaan pemilu 2024, ujar Dorman, caleg terpilih lebih banyak didominasi orang non Papua dari pada orang Papua.
Ini bukti nyata, orang-orang non Papua sangat ambisi duduk dan menguasai kursi legislatif.
Menghargai Orang Non Papua
“Kami orang Papua tahu diri. Kami orang Papua tak pernah menjadi anggota legislatif di luar Papua, seperti di Pulau Jawa atau Sulawesi. Menjadi camat atau kepala desa pun kami tak akan lakukan, karena kami tahu bahwa itu tempat mereka, tempat kelahiran mereka, tempat mereka hidup dan mencari makan,” tandasnya.
“Kami hargai mereka, tapi kami lihat orang non Papua tak menghormat dan tak menghargai kami orang Papua. Mereka datang kesini hanya untuk mengejar materi dan jabatan yang sangat berlebihan,” tandasnya lagi.
Cenderung Mengawal Orang Berduit
Kedua, dalam pemilu 2024 aparat TNI-Polri lebih banyak memihak mereka yang berduit dan berkuasa.
“Aparat TNI-Polri cenderung mengawal orang-orang, yang berduit. Padahal mereka diberikan tugas mengayomi dan melayani mereka yang lemah dan tak berduit.
“Saya lihat aparat selama ini siapa yang berduit dia bergabung disitu, siapa yang punya uang dia kawal disitu. Yang terjadi semua aparat TNI-Polri lebih mendukung mereka yang punya uang dan yang kuasa. Itu yang terjadi,” tukasnya.
Ketiga, akibatnya terjadi konflik di masyarakat, seperti perang suku dan perang saudara. Masyarakat akhirnya datang ke lokasi rekapitulasi penghitungan suara, sembari membawa alat-alat tajam.
Masyarakat membawa alat tajam, terang Dorman, masyarakat tak salah. Tapi yang salah justru penyelenggara pemilu atau KPU, partai yang berkuasa, partai-partai lain dan para caleg tak mendidik dan tak mengajar pendidikan politik yang baik kepada masyarakat.
Dorman menuturkan, kekuasaan, ambisi dan jabatan mendapat termpat yang lebih tinggi dari pada pembangunan manusia, yang sebenarnya dibutuhkan orang Papua.
“Masyarakat jadi korban, ada banyak orang yang mati, terkena panah, pembunuhan dimana-mana, kendaraannya dihancurkan, orangnya dipukul dan rumahnya dibakar. Padahal satu nyawa orang Papua itu sangat mahal dan sangat dihargai dan dihormati, tapi yang terjadi ini nyawa orang Papua dianggap biasa saja,” tegas Dorman.
Berpengaruh kepada Gereja
Menurut Dorman, dalam situasi ini berpengaruh kepada jemaat dan juga kepada gereja-gereja di Papua.
“Gereja pecah dan banyak jemaat tak masuk ibadah, kemudian ada banyak yang sakit hati satu sama lain, sehingga melemahkan iman kekristenan, melemahkan iman persaudaraan, melemahkan iman kekuatan, melemahkan iman kebersamaan dan memecah belah satu sama lain,” sebut Dorman.
Dorman pun kwatir pilkada gubernur, bupati dan walikota serentak pada November 2024 mendatang akan lebih fatal lagi, karena Indonesia ingin Papua terjadi terus konflik berkepanjangan.
Selain itu, Dorman menyatakan, Indonesia terus menciptakan Papua sebagai tempat bisnis, ATM berjalan, membangun basis militer, menciptakan konflik mengakibatkan OAP kehilangan tanah, kehilangan dusun, kehilangan hak/nasib dan kehilangan masa depan menuju kepunahan.
Menurut Dorman, jika pemerintah Indonesia tidak memperbaiki masalah ini, maka konflik akan lebih para lagi.
Orang Papua Satu
Keempat, orang Papua itu penuh kasih, penuh kebaikan dan hidup dalam komunitas, tapi justru dihancurkan oleh Indonesia.
Karena itu, Dorman berpesan kepada orang Papua, walaupun wilayah Tanah Papua banyak Provinsi, tapi tak ada perbedaan orang gunung dan orang pantai serta tak ada perbedaan orang Papua di 7 wilayah adat. Tapi yang terpenting orang Papua harus bersatu, sadar dan tersulah membangun. **














