Image  

Sakit, Di Tangkap KPK dan Doa Publik untuk Sang Tokoh

Lamadi de Lamato. (Foto: Dok/Pribadi

Oleh: Lamadi de Lamato (*)

Gubernur Lukas Enembe sudah tiba di RSPAD Gatot  Soebroto, Jakarta, saat penangkapannya oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Kota Jayapura, Papua. Saat diterbangkan dengan pesawat Trigana Air, publik mengkhawatirkan kesehatannya, yang belum pulih. Hasil laporan dokter RSPAD Gatot  Soebroto, Gubernur Lukas Enembe (LE) memang tidak dalam kondisi yang sehat.

Sehari penangkapan Gubernur Papua, Jayapura dikabarkan berpotensi konflik. 1 orang disebut meninggal dunia, dan beberapa lainnya luka-luka saat konflik antara massa pendukung Gubernur Papua dengan aparat keamanan, ketika aparat membawa orang nomor satu Papua itu meninggalkan kota Jayapura.

6 tahun lalu, saya memang sudah melihat Gubernur mulai tidak sehat. Dan itu ternyata benar. Bermula dari pemeriksaan di Singapura, yang sifatnya secreet karena saat itu, ia masih bugar. Ia yang biasanya rajin masuk kantor, mulai jarang masuk dengan durasi waktu yang cukup lama.

Stroke ringan membuatnya harus terbaring, yang kemudian disusul dengan sakit-sakit  kronis lain, makin membuat ia tidak lagi secekatan dulu bergerak. Jalannya gontai dan mulai di papah, ketika hendak beraktifitas.

Saya yang sudah tidak membantunya, karena dipecat, hanya bisa melihat beliau dari kejauhan sambil mendoakan ia bisa sembuh total. Gubernur ber “hati emas” ini makin hari, makin kritis dengan penyakit yang di deritanya. Saat ditangkap KPK, tampak ia harus berjalan dengan “tertati”. Sebagai orang yang pernah dekat dengan beliau, batin ini sedih melihat ia dibawah sendiri sebagai tertuduh gratifikasi, yang angkanya tidak seberapa.

Pakaian dan Sepatu Lusuh

Jiwa aktifisme Gubernur Lukas Enembe, memang sangat menakutkan. Dibekali talenta berpolitik yang jitu, Lukas kerap menghabiskan banyak waktunya berdiskusi hingga pagi hari tanpa istrahat. Saya sering mendapatinya tidak tidur dengan baik, ketika sedang mengatur strategi politik.

Sampai-sampai ia lupa mengurus dirinya. Bukan saja tentang kesehatan, tapi juga pakaian dan sepatunya yang lusuh. Saat staf-stafnya dan  bawahannya mentereng, mulai dari ruangan kerja, fasilitas kendaraan dan lain-lain, Gubernur LE ke kantor dengan pakaian dan  sepatu itu-itu saja.

Bahkan kulit sepatunya terlihat ada sobekan kecil. Ruang kerjanya pun terlihat tidak diperhatikan. Sedih, tapi itulah sosok sederhana darinya. Tapi jangan tanya, bila itu urusan publik atau kebijakan dan  kaderisasi, maka ceritanya sangat berbeda. Sebagai Ketua Demokrat Papua, mungkin baru satu-satunya ia sebagai tokoh yang dimandatkan pusat sebagai ketua dengan masa jabatan tiga periode. Kendati kondisi fisik dan psikisnya sedang sakit. Langit Papua yang sekian puluhan tahun berwarna kuning Golkar, di era Gubernur LE semuanya berubah jadi biru dominan mercy Demokrat. Kepiawaian politik yang brilian dari seorang maestro.

Legacy Seorang Lukas

Dari 28 kabupaten di Papua sebelum DOB (Daerah Otonomi Baru), Lukas dalam 10 tahun sebagai Wakil Bupati hingga Bupati Puncak Jaya, ia bisa mengkader 22 kepala daerah adalah “binaannya”. Seorang politisi pekerja keras, yang ada dalam dirinya ia buktikan sebagai tokoh kharismatik yang piawai.

Tak usah berpanjang-panjang, ia pun mengirim anak-anak  Papua sejak dari Bupati dan  Gubernur, berjumlah ribuan untuk studi. Ia pun mengubah skema anggaran lebih berorientasi botton up dari bawah. Kabupaten ia transfer 80 persen, sementara 20 persen ia letakan di provinsi. Ia ingin Orang Asli Papua (OAP) yang banyak terisolasi di kampung-kampung bertumbuh dengan kebijakan populis tersebut.

Ibarat menanam, Gubernur LE selama 20 tahun di birokrasi elit, ia tinggal memanen buah dari kader-kader terbaik dan  generasi Papua yang kritis, melanjutkan apa yang telah ia perlihatkan. Tidak banyak bicara, tapi banyak berbuat untuk negerinya. 20 tahun kerja kerasnya melanjutkan kepemimpinan senior-senior terdahulu, Lukas Enembe seolah meninggalkan legacy seratus tahun dari yang ia kerjakan sebagai seorang pemimpin.

Doa Itu Nyata

Sedih, menyayat hati dan tersinggung berat, saat dirinya yang masih sakit, tapi tangannya di borgol bagaikan seorang teroris. Yang lebih menyayat seorang busser Rp dalam Youtubenya, menyebut Gubernur LE pantas dihukum mati.

Benar-benar kalimat yang makin menyayat hati dan membuat generasi ini, antipati terhadap Jakarta yang semena-sema terhadap pemimpin Papua. Kalau ingin dipuji banyak orang, jangan jadi pemimpin. Tapi jadilah es krim yang meleleh dan dijilat tanpa sisa.

Sesadar-sadarnya, Lukas Enembe, lelaki sederhana itu tahu bahwa ia ditangkap dan diborgol KPK, dengan gratifikasi yang tidak seberapa, karena memang Jakarta menginginkannya berada di jeruji besi sejak lama. Seraya semua anak negeri, warga pesisir, gunung dan warga imigran pendatang mendoakanmu dengan tulus. Semoga sakitmu dan lelahmu untuk negeri ini, menjadi berkah dan sehat selalu. **

 (*) Presiden Warga Imigran Pendatang Se- Tanah Papua