Progres SPBE Papua Capai 95 Persen, Harga Elpiji Bakal Turun

Seorang petugas tengah menyelesaikan pembangunan SPBE di Doyo, Kota Jayapura. (Foto: Dok/PT Pertamina MOR Papua dan Papua Barat)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.com, JAYAPURA—PT Pertamina Marketing Operasional Region (MOR) Papua dan Papua Barat, bekerjasama dengan PT Gas Abadi Sukses tengah membangun Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBE) di wilayah Papua yang berlokasi di Doyo, Jayapura.

Demikian disampaikan Sales Brand Manager Pertamina Jayapura Andi Reza Ramadhan, didampingi Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Regional Papua Maluku, Edi Mangun di Jayapura, Jumat (4/3/2022).

Andi Reza mengatakan, progres SPBE di Doyo telah mencapai 94 persen, yang diestimasi beroperasi selambat-lambatnya April 2022, dengan kapasitas mencapai 30 hingga 60 metik ton, untuk memenuhi kebutuhan warga di empat Kabupaten/Kota, yakni Kota Jayapura, Kabupaten Jayapura, Keerom dan Sarmi. Bahkan jika mencukupi akan didistribusikan ke delapan wilayah Pegunungan Tengah Papua.

Andi Reza mengharapkan dengan beroperasinya SPBE Doyo nantinya akan ada penyesuaian harga elpiji serta kemudahan bagi masyarakat untuk mendapatkan elpiji.

Dimana saat ini memang untuk suplay sendiri pihaknya masih mengandalkan pengiriman dari Surabaya yang mana untuk satu kali perjalanan memakan 10-14  hari.

“Nantinya ketika SPBE Doyo sudah beroperasi, maka agen-agen elpiji tak perlu jauh-jauh mengirimkan tabung kosong untuk diisi di Surabaya dan makan waktu sampai dua minggu, sehingga nantinya akan diisi dan langsung didistribusikan ke masyarakat,” ujarnya.

Andi Reza menjelaskan, tariff elpiji di SPBU ataupun pangkalan resmi adalah Rp 170.000 untuk 5,5 kilogram. Kemudian Rp 320.000 untuk 12 kilogram.

“Mengacu harga up date terakhir ada sedikit kenaikan namun dengan akan operasi SPBE ini nantinya  pasti akan berpengaruh terhadap harga dari elpiji itu sendiri,” terangnya.

Andi Reza menjelaskan, pihaknya mengestimasi kemungkinan akan ada penyesuaian harga atau turun kurang lebih di angka Rp 30.000-Rp 50.000 pertabung.

“Kami berharap masyarakat sudah mulai beralih dari minyak tanah subsidi ke elpiji,” katanya. **