Perbandingan Efektifitas dan Efek Samping Kontrasepsi Alami Menggunakan Tumbuhan dan Kontrasepsi Hormonal pada Wanita Usia Subur di Kabupaten Lanny Jaya Tahun 2025 (Perempuan Suku Lani Lebih Menggunakan KB Alami)

Doli Kogoya, SKM, MKes. (Foto: Istimewa)

Oleh: Doli Kogoya, SKM, MKes (*)

Keluarga Berencana (KB) merupakan program, yang telah lama diterapkan di Indonesia, untuk mengendalikan pertumbuhan penduduk. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa masih ada tantangan yang dihadapi dalam penerapan KB ini. Salah-satu tantangan utama adalah minimnya kesadaran masyarakat akan pentingnya KB dalam menjaga kesejahteraan keluarga.

Sebagaiman dikutip dari Makan Keluarga, dr. Anissa, seorang ahli kesehatan reproduksi mengatakan, KB bukan hanya tentang mengendalikan jumlah anak, tapi juga tentang kesehatan ibu dan anak serta kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.

Namun, masih banyak masyarakat yang belum memahami hal ini dan menganggap KB hanya sebagai alat kontrol jumlah anak.

Selain itu, masalah aksesibilitas juga menjadi tantangan dalam penerapan KB di Indonesia. Banyak daerah terpencil yang sulit dijangkau tenaga kesehatan, untuk memberikan layanan KB. Hal ini membuat banyak pasangan di daerah tersebut sulit mendapatkan informasi dan layanan KB, yang mereka butuhkan.

Untuk mengatasi tantangan tersebut, diperlukan solusi yang tepat dan terukur. Salah-satunya adalah meningkatkan sosialisasi tentang pentingnya KB melalui berbagai media, seperti kampanye di media sosial atau acara talk show di televisi. Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat, diharapkan mereka akan lebih memahami manfaat dari KB dan mau untuk menerapkannya dalam keluarga mereka.

Selain itu, pemerintah juga perlu meningkatkan aksesibilitas layanan KB di daerah-daerah terpencil.

Prof Budi, seorang pakar demografi menjelaskan pemerintah harus memastikan bahwa setiap pasangan di seluruh Indonesia dapat dengan mudah mengakses layanan KB, yang mereka butuhkan. Hal ini dapat dilakukan dengan memperbanyak jumlah pusat layanan KB dan mendukung tenaga kesehatan, untuk bekerja di daerah-daerah terpencil.

Dengan upaya yang terus-menerus dan kolaborasi antara pemerintah, ahli kesehatan, dan masyarakat, diharapkan tantangan dalam penerapan KB di Indonesia dapat teratasi. Sehingga, keluarga di Indonesia dapat hidup dengan lebih sehat, sejahtera, dan berencana.

Animo Ikut KB di Papua dan DOB Masih Rendah

Sebagaimana dikutip dari Cenderawasih Pos, 10 Desember 2024, Kepala Perwakilan BKKBN Papua, Sarles Brabar mengatakan, partisipasi masyarakat di Papua dan Daerah Otonomi Baru (DOB), dalam mengikuti program KB masih cukup rendah, rata-rata setiap tahunnya hanya mencapai 39 persen.

Capaian ini mendorong mereka, untuk memasifkan sosialiasi kepada masyarakat, sebab KB ini bagian dari upaya untuk mencegah terjadinya resiko stunting bagi balita.

Sarles menerangkan, keikutsertaan KB di Papua masih rendah, ini terjadi karena berbagai faktor, salah-satunya kurangnya kesadaran masyarakat akan manfaat KB.

Ia pun menjelaskan program KB memiliki banyak manfaat, diantaranya menjaga kesehatan ibu dan anak, KB dapat mencegah kehamilan, yang tidak diinginkan, menurunkan risiko kanker rahim dan kanker serviks, serta mengurangi risiko kematian bayi.

Selain itu tumbuh kembang anak, dengan mengikuti program KB, maka dapat membantu orang tua mengatur jarak kelahiran, sehingga mereka memiliki lebih banyak waktu, untuk memperhatikan pertumbuhan dan perkembangan anak.

Kemudian kesejahteraan keluarga, dikatakan KB dapat membantu keluarga merencanakan kapan akan hamil, berapa jumlah anak yang akan dilahirkan, dan berapa lama jarak kelahirannya.

KB juga dapat mengurangi kebutuhan rumah tangga, seperti biaya untuk pemeriksaan kehamilan, biaya melahirkan, biaya kesehatan, dan biaya pendidikan. Serta dapat meningkatkan kesempatan bermasyarakat, karena keluarga akan mempunyai waktu luang yang lebih banyak.

Sarles menuturkan, jadi jangan pernah mempersepsikan bahwa program KB itu menghilangkan etnis tertentu, tapi ini dilakukan untuk mendorong pertumbuhan generasi penerus yang  berkualitas.

Beberapa Warga Papua Enggan Ber-KB

Dalam Pertemuan Nasional Diseminasi dan Sosialisasi Hasil Kajian Dialog Kebijakan Kependudukan di Grand Aston Hotel Yogyakarta, belum lama ini, sebagaimana dikutip dari detikhealth, 27 Jul 2016, meski wilayahnya tak begitu luas, Pulau Jawa dikenal karena kepadatan penduduknya. Kontras dengas kondisi tersebut, penduduk Papua justru tak banyak di tengah wilayahnya yang begitu luas.
Menariknya, hal ini berpengaruh langsung terhadap keberhasilan KB di Papua. Drs Yohanes Rahail, MKes dari Pusat Studi Kependudukan Universitas Cendrawasih Jayapura menyampaikan bahwa program KB bukan prioritas bagi orang Papua, karena jumlah penduduk lokalnya yang sedikit. Papua membutuh banyak penduduk lokal untuk mengimbangi jumlah pendatang.
Selain itu, mereka berpikir jika tidak menghasilkan banyak anak, lantas siapa yang akan mewarisi hak ulayat atau hak adat lainnya. Apalagi Sumber Daya Alam (SDA) Papua dan luas wilayah yang harus diwariskan dari generasi ke generasi begitu besar, sehingga membutuhkan banyak tenaga untuk mengelolanya.
Tak heran dari data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2012 dan Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) 2013, indikator keberhasilan KB di Papua belum memenuhi standar. TFR (Total Fertility Rate) atau angka kelahiran total di Papua mencapai 3,5 atau jauh di atas rata-rata nasional yang hanya 2,6. Begitu pun dengan CPR (Contraceptive Prevalence Rate), yang hanya 21,8 persen, Unmeet Need 23,8 persen, dan kehamilan yang tak diinginkan yang masih sebesar 11,8 persen.
Meski demikian, Yohanes mengungkapkan, di tiga daerah yang diamati, yaitu Jayapura, Jayawijaya dan Nabire, masyarakat merasa KB tak dibutuhkan, karena ada sejumlah kondisi adat yang berkaitan dengan program ini.

Diantaranya, masih adanya perang antarsuku. Bila mereka memiliki anak 2-3 saja, kondisi ini tidak menyulitkan mereka untuk mengungsi. Punya anak banyak juga mengganggu persediaan pangan dalam keluarga.
Menurut Yonanes, di satu kampung biasanya laki-laki atau suami tidak boleh datang ke honai perempuan selama istri menyusui. Bahkan ada sanksi sosial kalau ada yang melanggar ini, jadi ini buat mereka adalah pengendalian kelahiran dan mereka merasa tak perlu kontrasepsi.
Di sisi lain, Yohanes menyadari ada beberapa nilai lokal yang memang menghambat keberhasilan program KB, seperti sistem pernikahan di mana menantu takut kepada ibu mertuanya, yang sudah membayar mahar, sehingga muncul tanggungjawab, untuk melahirkan keturunan untuk suku suaminya.
Ada juga bupati atau kepala daerah yang terang-terang mengatakan tak butuh KB.
Namun bukan berarti orang Papua tak mau menerima KB begitu saja.

Yohanes menyebut tantangan sebenarnya ada pada keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang kesehatan dan sulitnya akses transportasi di Papua.
Ini terkait dengan ketakutan mereka jika pakai kontrasepsi dan terjadi masalah, mereka tidak tahu harus bertanya ke mana. Dan ketika ada cerita dari mereka yang gagal, ini menjadi trauma bagi orang sekampung.

Pendekatan Program KB Harus Berbasis Kearifan Lokal Papua

Sebagaimana dikutip dari Papua Bangkit.Com, guna menyukseskan program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK) di Papua, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) harus melakukan pendekatan berbasis kearifan lokal di setiap wilayah adat. Sebab Provinsi Papua, yang sangat luas dengan dihuni dua ratus lebih suku ini memiliki lima wilayah adat, antara lain Tabi, Saereri, La Pago, Mee Pago dan Anim Ha dengan budaya dan karakter yang berbeda-beda.

Hal itu disampaikan Pembantu Rektor IV Uncen Fredrik Sokoy, SSos, MSi dalam Diskusi Terarah yang digelar BKKBN menghadirkan Kepala BKKBN RI, dr. Hasto Wardoyo, Sp, OG (K), Senin (18/11/2019) di Swiss-belhotel, Jayapura.

Menurut Sokoy, de facto program KB di Papua adalah isu yang sangat sensitif bagi kalangan masyarakat. Sebab stigma terhadap program ini sudah negatif yakni membatasi jumlah keturunan. Sementara kenyataan menunjukkan populasi penduduk Papua, terutama Orang Asli Papua (OAP) sangat rendah di tengah wilayah geografisnya yang maha luas.

Maka yang harus dilakukan adalah pendekatan berbasis budaya, agama, seni dan sebagainya di setiap wilayah adat, dan harus me-reimage tentang institusi dan tema yang akan dibawakan. Sehingga ketika kampanye KB, masyarakat Papua bisa tertarik dan mendengarkan. Padahal ada banyak nilai baik dari program ini. Reorientasi dari program KB membutuhkan pendekatan adat, marga atau keret.

Selain itu, menurut Sokoy, salah satu pendekatan yang dilakukan ialah bukti dan contoh. Misalnya di Program Kampung KB, dimana program ini bukan untuk bicara kontrasepsi, tapi di dalamnya ada perencanaan bersama dan sinergi dari sejumlah dinas dan swasta yang terbukti membantu menyejahterahkan keluarga di kampung itu.

Kampung atau keluarga contoh ini akan membawa dampak yang sangat besar ketertarikan dari masyarakat di kampung lain, untuk mengikutinya.

Anggota DPR Papua Natan Pahabol meminta agar Kepala BKKBN RI bisa menambah anggaran untuk Perwakilan BKKBN Papua. Dengan demikian, kinerja mereka lebih maksimal dalam melakukan sosialisasi dan pendekatan ke lima wilayah adat di Papua.

Menurut Pahabol, dulu memang para kepala suku di Papua rata-rata memiliki istri lebih dari satu. Tapi sejak nenek moyang Papua menerima Injil, kebiasaan ini ditinggalkan dimana monogami yang dianut. Herannya, saat ini malah banyak anak muda Papua yang kurang punya keturunan.

Pahabol berharap agar dengan forum ini, harus perkuat sosialisasi ke kabupaten.

Ia mengusulkan di setiap wilayah adat ada semacam Kantor UPT dari BKKBN selain Perwakilan BKKBN Provinsi demi menyukseskan program penguatan dan peningkatan kesejahteraan keluarga Papua.

Malaikat Alpius Tabuni selaku kepala suku Pegunungan Tengah mengatakan memang tak bisa dipungkiri masyarakat Papua masih sangat alergi tentang program KB di Papua, karena pemahaman mereka yang rendah.

Karena itu, ia sangat sangat mengapresiasi kebijakan dari Kepala BKKBN yang baru dr. Hasto yang berkomitmen datang ke Papua dan siap membangun KB di sini sesuai kearifan lokal Papua.

Wanita Lani dan Tali atau Cawat

Ketua DPD – PPDI PPP dan Wakil Ketua Umum IPMI, Angginak Sepi Wanimbo dalam artikel yang dipublish Ko’SaPa mengatakan perempuan Papua terlebih khusus wanita asli Lani berasal dari Pegunungan, yang ada di wilayah Tieyom Tiom, Yanekme Magi, Pirime, Kuyawagi, Piramid, Balingga, Tiomengga, Yulu, Beam, Bogolakme, Tagikme, Kelila, Bokondini, Poga, Karubaga, Mamit, Kanggime, Kembu, Mulia, Ilu, Sinak, Nduga Lani, Dimba dan sekitarnya.

Arti kata Lani orang asing dari Indonesia maupun dari dunia barat menyebut orang Lani dengan sebutan orang Dani. Yang sebenarnya ialah Lani. Kata “Lani” itu sendiri mempunyai tiga pengertian. Pertama, Kata “Lani” artinya “pergi”. Kata “Lani” untuk “Pergi” ini digunakan orang Papua Pegunungan yang bermukim di Lembah Baliem.

Kedua, kata “Lani” adalah sebutan bagi orang yang tidak selalu menyediri. Ketiga, kata, “Lani” itu artinya “orang – orang independen, orang – orang yang memiliki otonomi luas, orang – orang yang merdeka, yang tidak diatur oleh siapapun. Mereka adalah orang – orang yang selalu hidup, mereka mempunyai bahasa, mereka mempunyai sejarah, mereka mempunyai tanah, mereka mempunyai gunung, mereka mempunyai sungai, mereka mempunyai dusun yang jelas, mereka mempunyai garis keturunan yang jelas, mereka mempunyai kepercayaan yang jelas, mereka mempunyai kemampuan untuk mengatur dan mengurus apa saja, mereka tidak pernah pindah pindah  tempat, mereka selalu hidup tertib dan teratur, mereka mempunyai segala – galanya”. (Gembala Dr Socratez Sofyan Yoman, MA. Kita Meminum Air Dari Sumur Kita Sendiri, Hal 91 – 92 Tahun 2010).

Sali “Tali” pakaian bagi wanita Lani ini ada beberapa macam pakaian yang biasa dipakai bagi wanita Lani sebagai berikut.

a. Pakaian bagi wanita Lani biasa disebut “Tali” kata “Tali” memang bahasa asli Lani. Tali ini dibuat dari pohon – pohon khusus untuk membuat pakaian wanita Lani. Pakaian itu dibuat dalam berbagai jenis dan bentuk. Ada yang dipintal dan ada yang tidak dipintal. Yang dipintal itu agak kasar. Tapi yang dipintal itu biasanya bertahan lama dan sangat elegan dan anggun bagi setiap wanita yang memakainya. Wanita biasanya menyimpan celana/rok mereka ini ditempat yang khusus.

b. Wanita – wanita Lani mempunyai kembanggaan tersendiri, karena mereka mempunyai pakaian yang bisa menutup alat vital mereka bahkan di bagian tubuh wanita yang dianggap sensitif. Cara membuat sangat pintar walaupun tidak ada ilmuwan, yang mengajarkan kepada wanita – wanita Lani. Mereka mempunyai keunggulan, kehebatan, dan kemampuan untuk membuat Sali “Tali”. Tangan mereka adalah pabrik dan pikiran mereka adalah mesin yang telah Tuhan berikan kepada wanita – wanita Lani.

c. Pakaian wanita Lani yang satu ini biasanya disebut “Yinggonoak” dibuat pake kulit pohon, kecil – kecil dan kulit kayu biasanya pohon kecil – kecil itu ada dipingiran rumah, dan di hutang yang diambil itu dikasih kering di matahari kemudian ambil kulit saja mengamyam, merayut hingga jadi rok “Yonggonoak” jadi pakaian wanita Lani.

d. Sali “Tali” pakaian kaum wanita dibuat dari sejenis rumput namanya “Nggen Tali” biasanya perempuan Lani tanam di air/kolam Sali “Tali” dianyam dikasih kering dan diberi warna sesuai keinginan konsumen sedemikian rupa yang tersusun rapi dan pakai selayaknya seperti pakaian rok. Sali “Tali” ini ada beberapa macam empat macam seperti saja jelaskan di poin a, b, c, dan d, tapi ada jenis lain dan bahan yang dimiliki kualitas berbeda, diantaranya: “Abet Tali, Aut Tali, Yumakum Tali, Wabin Tali, Nuput Tali, Nggiru Tali, ada beberapa jenis Sali “Tali” ini hanya pakaian atau rok bagi wanita Lani.

Wanita Lani paling hebat, pintar, cerdas dalam memakai pakaian mereka rok Sali “Tali” perempuan Lani biasanya pake Sali “Tali” dengan beretika sopan santum berpakaian yang baik yaitu pake di pingan panjangnya berkuran rok lalu melakukan aktivitas sehari – hari sesuai profesi yang Tuhan kasih pada wanita Lani.

Wanita – wanita Lani sangat luar biasanya itu mereka mempunyai rumah honai bagi wanita Lani tersendiri, sehingga wanita Lani mengajak anak – anak wanita diwajibkan tidur bersama ibu – ibu di honai disana dengan tujuan mengajarkan bagaimana cara membuat Sali “Tali”, sebagai celana atau rok bagi wanita lalu diajarkan juga cara pake sesuai aturang berpakaian yang sopan, rapi dan baik.

Pembentukan Provinsi Papua Pegunungan

Undang-undang (UU) Nomor 16 Tahun 2022 tentang Pembentukan Provinsi Papua Pegunungan.

UU ini mengatur mengenai pembentukan Provinsi Papua Pegunungan, yang diberi Otonomi Khusus dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Provinsi Papua Pegunungan berasal dari sebagian besar wilayah Provinsi Papua yang terdiri dari Kabupaten Jayawijaya, Kabupaten Pegunungan Bintang, Kabupaten Yahukimo, Kabupaten Tolikara, Kabupaten Mamberamo Tengah, Kabupaten Yalimo, Kabupaten Lanny Jaya, dan Kabupaten Nduga. Ibu kota Provinsi Papua Pegunungan berkedudukan di Wamena.

Profil Singkat Kabupaten Lanny Jaya 

Kabupaten Lanny Jaya adalah sebuah kabupaten di Provinsi Papua Pegunungan, Indonesia, ibu kotanya adalah Distrik Tiom Kabupaten ini dibentuk pada tanggal 4 Januari 2008 berdasarkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2008, bersama-sama dengan pembentukan 5 kabupaten lainnya di Papua. Peresmiannya dilakukan oleh Mendagri H. Mardiyanto pada tanggal 21 Juni 2008.Nama kabupaten ini berasal dari Suku Lani yang mendiami daerah ini.

Kontrasepsi Hormonal

Dikutip dari tirto.id, kontrasepsi hormonal adalah metode kontrasepsi yang menggunakan hormon untuk mencegah kehamilan. Hampir semua metode kontrasepsi hormonal terdiri dari hormon steroid yakni termasuk estrogen dan progesteron.

Sementara itu, kontrasepsi hormonal yang utamanya digunakan untuk pencegahan kehamilan, juga bisa diresepkan untuk pengobatan sindrom ovarium polikistik, gangguan menstruasi seperti dismenore menoragia, dan hirsutisme.

Apa Itu Kontrasepsi Hormonal?

Seperti telah disebutkan di atas, kontrasepsi hormonal adalah metode pengendalian kelahiran hormonal mengacu pada teknik-teknik yang memengaruhi sistem endokrin untuk mencegah kehamilan.

Mayoritas metode ini melibatkan penggunaan hormon steroid, walaupun di India, salah satu jenis modulator reseptor estrogen selektif dipasarkan sebagai alat kontrasepsi.

Susan Scott Ricci dan Terri Kyle dalam artikel berjudul “Common Reproductive Issues”. Contraception (2009) menuliskan, penggunaan pil kontrasepsi hormonal pertama kali diperkenalkan sebagai metode kontrasepsi pada tahun 1960.

Dalam dekade terakhir, berbagai metode kontrasepsi lainnya telah dikembangkan, meskipun hingga saat ini, pil oral dan suntikan tetap menjadi yang paling umum digunakan. Secara keseluruhan, sekitar 18% dari pengguna kontrasepsi di seluruh dunia mengandalkan metode hormonal.

Saat ini, metode ini hanya dapat digunakan oleh perempuan, sementara penelitian aktif masih dilakukan untuk mengembangkan kontrasepsi hormonal untuk pria.

Meskipun kontrasepsi hormonal terbilang efektif dalam mencegah kehamilan, penggunaannya juga memiliki sejumlah efek samping.

Oleh karena itu, sebelum menggunakan kontrasepsi hormonal, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter untuk mengetahui risiko dan manfaatnya.

Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai serba-serbi kontrasepsi hormonal, simak informasi mengenai jenis kontrasepsi hormonal, cara kerja kontrasepsi hormonal, dan efek samping kontrasepsi hormonal berikut ini.

Jenis Kontrasepsi Hormonal

Jenis kontrasepsi hormonal dibedakan menjadi empat yaitu pil kontrasepsi (Pil KB), suntik KB, susuk KB atau implan, dan LNG IUS (IUD Cantik).

Dikutip dari situs Rumah Sakit Umum Daerah Pidie Jaya, berikut ini uraian tentang jenis kontrasepsi hormonal.

1.Pil Kontrasepsi (Pil KB) atau Pil KB

Pil KB terdiri dari dua jenis, yaitu Mini Pil/Pil Menyusui (hanya mengandung Progesteron) dan Pil KB Kombinasi. Saat menyusui, disarankan menggunakan Mini Pil.

Pil KB memiliki ciri warna yang sama, berbeda dengan Pil KB Kombinasi yang memiliki dua warna. Penggunaan Pil KB Kombinasi saat menyusui dapat mengurangi produksi ASI.

2. Suntik KB

Suntik KB dibedakan menjadi suntik 1 bulan atau 3 bulan. Suntik 3 bulan hanya mengandung progestin seperti Mini Pil. Sementara suntik 1 bulan merupakan kombinasi seperti Pil KB Kombinasi.

Bagi ibu menyusui disarankan untuk menggunakan suntik 3 bulan sebab suntikan 1 bulan dapat mengurangi produksi ASI.

3. Susuk KB atau Implan

Susuk ditanamkan pada lengan atas dengan variasi masa penggunaan, seperti susuk 1 dan 2 batang (3 tahun) atau susuk 6 batang (5 tahun). Susuk KB atau implan terbilang aman bagi ibu menyusui yang dapat dipasang, setelah 6 minggu pasca-persalinan.

4. LNG IUS (IUD Cantik)

Jenis kontrasepsi hormonal ini menggabungkan kontrasepsi intra uterine device (IUD) dan kontrasepsi hormonal dengan menambahkan hormon (levonorgestrel) ke dalam IUD.

Mirip dengan IUD, IUS melepaskan hormon levonorgestrel harian untuk mencegah pembuahan dan mengentalkan lendir rahim.

Cara Kerja Kontrasepsi Hormonal

Cara kerja kontrasepsi hormonal yakni dengan memanipulasi tingkat hormon alami dalam tubuh, seperti estrogen dan progesteron.

Manipulasi ini dilakukan untuk mencegah terjadinya ovulasi. Setiap jenis kontrasepsi hormonal memiliki cara kerja yang spesifik, berikut ini penjelasannya.

1. Pil Kontrasepsi (Pil KB)

Pil KB kombinasi mengandung hormon estrogen dan progestin yang mencegah ovulasi, menipiskan dinding endometrium dan menebalkan lendir di leher rahim. Dengan demikian, pertemuan sperma dan sel telur akan terhambat sehingga dapat mencegah terjadinya pembuahan.

2. Kontrasepsi Suntik

Seperti namanya, suntik KB dengan hormon progestin diberikan melalui suntikan setiap 1 bulan atau 3 bulan. Hormon ini bekerja dengan cara menebalkan lendir di leher rahim dan menipiskan dinding endometrium untuk mencegah pertemuan sperma dan sel telur agar tidak terjadi pembuahan.

3. Implan

Jenis kontrasepsi hormonal ini mengandung hormon progestin yang ditanamkan di bawah kulit lengan atas dan bertahan hingga 3 tahun. Cara kerja implan mirip dengan pil KB, mencegah ovulasi dan menghambat pertemuan sperma dan sel telur.

4. Spiral Hormonal

Mengandung hormon progestin dilapisi pada spiral dan ditempatkan di dalam Rahim. Bekerja dengan cara yang serupa untuk mencegah ovulasi dan menghambat pertemuan sperma dan sel telur.

Manfaat dan Efek Samping Kontrasepsi Hormonal

Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa manfaat kontrasepsi hormonal adalah untuk mencegah terjadinya ovulasi dan kehamilan.

Efektivitas kontrasepsi hormonal sangat tinggi ketika digunakan sesuai jadwal, pengguna hormon steroid memiliki tingkat kehamilan kurang dari 1% setiap tahunnya.

Tingkat terjadinya kehamilaan saat menggunakan kontrasepsi hormonal dengan sempurna biasanya mencapai sekitar 0,3% atau bahkan kurang.

Namun, kontrasepsi hormonal juga dapat menimbulkan berbagai efek samping yang bervariasi tergantung pada jenisnya. Beberapa efek samping kontrasepsi hormonal yang umum terjadi meliputi pusing dan nyeri pada payudara, pendarahan atau bercak-bercak dan penurunan libido

Efek samping kontrasepsi hormonal pun dapat mengakibatkan mual, kenaikan berat badan, serta risiko terlambatnya kembali kesuburan.

Selain itu, gangguan siklus menstruasi dan perubahan mood juga dapat menjadi dampak dari penggunaan kontrasepsi hormonal

Adanya perbedaan respons tubuh tiap individu menyebabkan efek samping pada pengguna kontrasepsi hormonal dapat bersifat subjektif. Meskipun beberapa efek samping mungkin menghilang seiring waktu, namun ada pula yang dikarenakan tidak cocok sehingga memerlukan tindakan untuk mengganti jenis kontrasepsi.

Penting untuk diketahui, efek samping kontrasepsi hormonal tidak hanya mempengaruhi kesehatan fisik, tetapi juga dapat berdampak pada aspek psikologis dan reproduksi.

Oleh karena itu, penting untuk melakukan konsultasi dengan dokter sebelum memutuskan menggunakan kontrasepsi hormonal guna mendapatkan pemahaman yang baik mengenai manfaat serta risiko yang mungkin timbul.

6 Metode KB Alami

Dikutip dari helosehat, jika Anda dan pasangan sedang ingin mencegah kehamilan, ada berbagai jenis alat kontrasepsi yang tersedia. Pilihan kontrasepsi yang bisa Anda pertimbangkan adalah pil KB, IUD, suntik KB, implan KB, dan sebagainya.

Selain itu, Anda juga bisa mencegah kehamilan secara alami, lho! Nah, tahukah Anda apa saja KB alami yang bisa Anda lakukan? Simak penjelasannya berikut ini.

Cara Melakukan KB Alami, agar tidak Hamil

Mencegah kehamilan tak melulu harus menggunakan alat kontrasepsi. KB alami juga bisa membantu Anda menunda memiliki momongan.

Berikut beberapa cara KB mandiri yang bisa jadi pilihan.

1. Tidak Berhubungan Seks

Salah satu KB alami yang bisa Anda coba untuk mencegah kehamilan dan terjamin 100% efektif adalah abstinence atau tidak berhubungan seksual.

Selain itu, Anda juga sudah pasti tidak akan terkena penyakit menular seskual (kelamin) dari pasangan karena tidak melakukan hubungan seks.

Menghindari hubungan seks artinya tidak melakukan sexual intercourse (penetrasi) ataupun sexual outercourse (tanpa penetrasi).

Namun, jika Anda ingin menggunakan KB ini sebagai kontrasepsi alami, Anda dan pasangan harus sepakat untuk sama-sama menahan gairah seks satu sama lain.

2. Senggama Terputus

Senggama terputus adalah cara KB alami yang ampuh, yang dilakukan dengan cara pria menarik penisnya dari vagina sebelum ejakulasi untuk mencegah sperma masuk ke dalam rahim.

Metode ini sering digunakan karena tidak memerlukan alat kontrasepsi atau biaya tambahan, tapi efektivitasnya cukup rendah dibandingkan metode lain.

Hal ini disebabkan oleh kemungkinan keluarnya sperma dalam cairan pra-ejakulasi serta risiko kegagalan dalam menarik penis tepat waktu.

Berdasarkan Office on Women’s Health, 22 dari 100 pasangan yang menggunakan metode ini sebagai KB alami berisiko kebobolan hamil.

3. Metode Fertility Awareness

Fertility awareness juga dikenal sebagai natural family planning. Metode fertility awareness adalah salah satu KB alami yang dilakukan dengan cara mencatat siklus menstruasi Anda.

Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghitung masa subur Anda jika ingin menggunakan fertility awareness sebagai KB alami. Berikut beberapa cara yang bisa Anda lakukan.

  • Cek Suhu Basal Tubuh. Menghindari hubungan seksual pada hari ketika suhu basal tubuh meningkat, karena itu menandakan ovulasi.
  • Cek Lendir Serviks. Menghindari hubungan seksual saat lendir serviks menjadi jernih, elastis, dan licin, karena itu menunjukkan masa subur.
  • Metode kalender. Menghitung dan menghindari hari-hari subur dalam siklus menstruasi untuk mencegah kehamilan.

4. Memberikan ASI Eksklusif pada Bayi

Menariknya, memberikan ASI ekslusif pada bayi juga bisa menjadi cara KB alami. Metode ini dikenal dengan nama amenore laktasi.

Ketika seorang ibu yang menyusui secara eksklusif mengalami penundaan ovulasi dan menstruasi, karena tingginya kadar hormon prolaktin.

Prolaktin yang diproduksi selama menyusui menekan pelepasan hormon yang memicu ovulasi sehingga mengurangi kemungkinan kehamilan.

Metode ini paling efektif dalam enam bulan pertama setelah melahirkan, asalkan bayi disusui secara eksklusif tanpa tambahan susu formula atau makanan lain.

5. Outercourse

Cara KB alami lainnya, agar tidak hamil adalah outercourse alias tidak melakukan penetrasi.

Saat outercourse, Anda hanya diperbolehkan untuk melakukan aktivitas seks seperti berciuman, pijatan mesra, seks oral, masturbasi (onani), saling meremas, atau seks menggunakan mainan (sex toys).

Outercourse tentu bisa menjadi satu dari beragam pilihan KB, jika Anda ingin mencegah kehamilan secara alami.

Pasalnya, Anda masih bisa menikmati aktivitas seks dengan pasangan selama tidak ada pertukaran cairan tubuh dari alat kelamin.

Apakah KB Alami Masih Bisa Hamil?

KB alami masih memungkinkan terjadinya kehamilan, karena metode ini memiliki tingkat efektivitas, yang lebih rendah dibandingkan kontrasepsi medis seperti pil KB atau IUD.

6. Ramuan dan Obat Tradisional

Beberapa ramuan dan obat tradisional dipercaya dapat membantu sebagai kontrasepsi alami, meskipun efektivitasnya belum terbukti sebaik metode medis.

Salah-satunya adalah daun pepaya, yang mengandung senyawa yang diyakini dapat menghambat kesuburan pada pria dan wanita.

Daun ini dapat dikonsumsi sebagai lalapan atau direbus dan diminum airnya. Selain itu, jahe dan kunyit juga sering digunakan, terutama kunyit yang dikenal memiliki efek hormonal dalam mengatur siklus menstruasi.

Sementara itu, buah mengkudu (noni) dipercaya dapat membantu menjaga keseimbangan hormon dan menurunkan tingkat kesuburan, biasanya dikonsumsi dalam bentuk jus atau ekstrak.

Jumlah Peserta KB Aktif Tahun 2021 di Lanny Jaya

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Papua, jumlah penduduk Lanny Jaya sebanyak 203.524 jiwa. Namun jumlah peserta KB aktif tahun 2021 di Kabupaten Lanny Jaya masih sangat sedikit, yakni IUD 70 jiwa, MOW 0 jiwa, Kondom 79 jiwa, Implan 114 jiwa, Suntikan 159 jiwa, Pil 126 jiwa. Jumlah 548 jiwa.

Kesimpulan

Wanita Lani percaya beberapa tumbuhan tradisional dapat membantu sebagai kontrasepsi alami, meskipun efektivitasnya belum terbukti sebaik metode medis.

Wanita Suku Lani lebih nyaman menggunakan KB alami, yang sudah ada sejak leluhur Suku Lani, dimana sisa rumput yang digunakan, kalau terbakar wanita yang bersangkutan tidak bisa hamil. Tapi kalau ingin memiliki anak, maka sisa rumput tersebut dicampur didalam air lalu diminum.

Metode KB alami, yang dilakukan wanita suku Lani tanpa efek sampingan. **

(*) Mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kesehatan Masyarakat UNHAS Makassar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *