Oleh: Faisal Narwawan I
PAPUAinside.com, JAYAPURA—Aksi saling serang antara masyarakat Kabupaten Nduga dan masyarakat Kabupaten Lanny Jaya terjadi di Kampung Wouma, Distrik Wouma, Kabupaten Jayawijaya, Papua, Minggu (9/1/2022) siang.
Diketahui, peristiwa itu disebabkan meninggalnya salah satu masyarakat Nduga.
Akibat pertikaian antara suku ini, satu warga atas nama Luok Heluka meninggal dunia.
Selain itu, 21 warga luka-luka dan 40 rumah dan honai habis dibakar.
Massa juga merusak/membakar 10 sepeda motor dan dua unit kendaraan roda empat.
Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol. Drs Ahmad Musthofa Kamal, SH dalam kesempatannya mengatakan, terkait korban yang meninggal dunia dan luka-luka sudah dievakuasi ke RSUD Wamena, untuk dilakukan pemeriksaan medis.
“Untuk mengantisipasi adanya aksi lanjutan, polisi melakukan penjagaan pada kedua kelompok massa,” kata Kombes Pol. Drs Ahmad Musthofa Kamal, SH dalam keterangan persnya, Minggu (9/1/2022) malam.
Peristiwa itu bermula, setelah pemakanan korban. Keluarga korban bergerak dari arah Ilekma menuju Wouma melalui pinggir Kali Uwe dan Walesi.
“Pukul 15.10 WIT terjadi aksi saling serang menggunakan alat perang tradisional berupa panah, parang dan batu antara masyarakat Nduga dan masyarakat Lanny Jaya di sekitar kampung Wouma Distrik Wouma,” katanya.

Personil Polres Jayawijaya di back-up personil Brimob dan TNI yang dipimpin Wakapolres berhasil memukul mundur kelompok masyarakat kabupaten Nduga dan kelompok masyarakat kabupaten Lanny Jaya.
Perang suku dilatarbelakangi meninggalnya Sibelu Gwijangge terjadi antara kedua kelompok masyarakat Lani Jaya dan masyarakat Nduga.
Sibelu Gwijangge diduga dibunuh masyarakat Lani Jaya yang tinggal di Kampung Wesakma Distrik Wouma.
Atas meninggalnya Sibelo Gwijangge, masyarakat Nduga serta keluarganya tidak menerima keluarganya dibunuh dan akan melakukan aksi balasan terhadap pihak pelaku dari masyarakat Lani Jaya yang bermukim di Kampung Wesakma, Distrik Wouma.
Atas peristiwa pembunuhan yang mengakibatkan kasus bentrok antar ke dua suku, Muspida Jayawijaya bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama kedua suku sepakat untuk menghentikan pertikaian tersebut.
“Pada saat ini kami langsung melakukan pendekatan kepada tokoh masyarakat dari kedua kelompok masyarakat untuk mengimbau kepada masing-masing kelompok, agar tidak mengulangi kejadian seperti saat ini, sehingga situasi kamtibmas tetap dalam keadaan yang aman dan kondusif,” katanya. **














