Pemkab Jayapura Apresiasi Menoken Mama Mama Abar Menuju Kampung Wisata

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura Fred Modouw, SSos. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, SENTANI—Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayapura, mengapresiasi kegiatan Menoken Mama-Mama Abar Menuju Kampung Wisata.

Kegiatan menoken ini berlangsung di Kampung Abar, Distrik Ebungfauw, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Jumat (28/3/2025).

Turut hadir Koordinator The Samdhana Institute Papua Piter Roki Aloisius, Founder Sama-Sama Learning Community Jayapura Edo Pattiradjawane, Ketua Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar Naftali Felle dan sejumlah komunitas lainnya.

Kampung Abar adalah satu-satunya penghasil gerabah di kabupaten Jayapura, bahkan di provinsi Papua.

Gerabah adalah kerajinan tangan yang terbuat dari tanah liat, yang dibentuk dan dibakar. Gerabah memiliki berbagai fungsi, seperti wadah penyimpanan, alat memasak, dan alat makan.   

Kegiatan Menoken ini adalah kolaborasi antara Komunitas Menoken Mamta, The Samdhana Institute, Pemkab Jayapura, dan Kelompok Gerabah Titian Hidup Kampung Abar.

Di Kampung Abar setiap tahun digelar “Festival Helay Mbay Hote Mbay” atau Pesta Makan Papeda di Sempe. Warga Kampung Abar kini tengah mempersiapkan Festival Helay Mbay Hote Mbay ke-5, yang direncanakan pada 28-30 September 2025.

Kegiatan Menoken ini diselingi permainan atau game “Tepuk Duit” Rp 1 Miliar, Rp 2 Miliar, Rp 3 Miliar, Rp 4 Miliar, Rp 5 Miliar Cair, dan diskusi kelompok.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Jayapura Fred Modouw, SSos mengikuti proses dari awal hingga akhir.

“Apa yang kami dari pemerintah sempat merencanakan, untuk program- program promosi pariwisata, mengangkat kebudayaan yang ada di kampung, ternyata itu juga sudah ada di pikiran dari pada masyarakat melalui mama- mama,” jelas Fred.

Filosofi Menoken Luas dan Mendalam

Menurut Fred, kegiatan menoken ini memiliki filosofi yang sangat luas dan memiliki makna yang mendalam, dimana kaum perempuan menyampaikan ide, gagasan dan harapan, untuk mendorong Kampung Abar menjadi kampung wisata di Kabupaten Jayapura.

Fred menerangkan, di kawasan Indonesia Timur hampir semua masyarakat memiliki noken hanya bahannya yang agak berbeda-beda, tapi maknanya sama.

“Di kampung hampir di setiap rumah ada noken, kemana pun pasti noken ini menjadi dari alat yang tak pernah dilupakan dan melekat terus di badan. Teman-teman di wilayah pegunungan Papua sana dorang pakai noken, untuk  mengisi apapun kelihatan kecil, tapi jika diisi dia bisa lebih lebar, kuat dan lentur,” jelas Fred.

Fred menyampaikan mama-mama yang ada duduk ini adalah nokeners-nokeners  indah di kampung Abar ini.

“Kenapa demikian, karena di mama mama ini semua fungsi sudah ada mama-mama bisa dayung perahu pergi jaring ikan bawa datang, di belakang rumah mama mama bisa tanam ricah, singkong, pisang kemudian mama-mama ambil olah dia menjadi makanan disajikan untuk suami dan anak anak,” tutur Fred.

Sekedar diketahui, Menoken adalah bagian dari program 3 M The Samdhana Institute. 3 M merupakan kepanjangan dari Menoken, Menanam dan Mem-BUMMA.

Menoken diinisiasi The Samdhana Institute adalah suatu gerakan bersama, yang terinspirasi dari nilai-nilai atau filosofi tas noken di Tanah Papua, yakni merajut tindakan dan membangun wadah, untuk menyambungkan komunitas, produk, pengetahuan, dan solidaritas.

Dengan demikian, menoken terdapat nilai-nilai yaitu kasih kerahiman, rajutan solidaritas, kekuatan dalam kelenturan, kedayagunaan, keterbukaan, memelihara kehidupan.

The Samdhana Institute adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), yang bergerak melakukan penguatan kapasitas bersama masyarakat adat dan komunitas lokal, khususnya terkait lingkungan hidup. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *