“Noken Diversity” Tampilkan Noken dari Tujuh Wilayah Budaya Papua

Para peserta workshop merajut benang sambil memperlihatkan noken hasil rangkaian praktik mereka bersama Rumah Talikat dalam Instalasi Budaya “Noken Diversity–Keragaman Noken” di Djuang Home Ground Jayapura, Sabtu (29/11/2025). (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)

Oleh: Makawaru da Cunha I

PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Instalasi budaya “Noken Diversity–Keragaman Noken” resmi dibuka di Djuang Home Ground Jayapura, Sabtu (29/11/2025). Instalasi akan dipajang hingga 5 Desember 2025, agar dapat diakses lebih luas oleh masyarakat.

Instalasi ini digagas Ki Basic bekerja sama dengan Indonesia Art Movement, yang turut membantu merancang instalasi, dengan concept dari Tim Ki Basic.

Instalasi ini merupakan bagian dari program Pikiran Terbaik Negeri 2025, Angin Foundations dan Yayasan BUMN.

Sejumlah brand lokal terlibat, di antaranya Lot Ta Project, Wadomu Art, Ki Basic, Papua Best Curly, serta Rumah Talikat, yang memimpin sesi workshop merajut benang. Ki Basic juga membuka workshop khusus pengenalan budaya noken Namblong.

Ragam noken dengan berbagai motif dan bahan dipamerkan dan dijual dalam Instalasi Budaya “Noken Diversity–Keragaman Noken” di Djuang Home Ground Jayapura, Sabtu (29/11/2025). (Foto: Papuainside.id/Makawaru da Cunha)

Co-Founder Ki Basic, Naomi Waisimon, mengatakan instalasi ini dirancang sebagai ruang edukasi terbuka mengenai kekayaan noken dari berbagai wilayah budaya Papua.

Naomi menyampaikan, aundence utama dari instalasi ini adalah kalangan anak muda, khususnya yang tinggal di kota Jayapura, untuk mengetahui lebih dalam mengenai keberagaman noken.

“Kami pilih venue di Djuang Home Ground sebagai tempat kongko atau berkumpul dan bercakap santai anak muda, dimana budaya dan noken khususnya masih relevan di kalangan anak muda Papua,” jelas Naomi.

Naomi menuturkan, Noken Diversity adalah cara kami mengenalkan kekayaan budaya noken kepada masyarakat. “Kami ingin generasi muda memahami bahan baku, teknik anyaman, dan makna noken, bukan sekadar memakainya,” kata Naomi.

Selain instalasi visual, acara ini juga memadukan workshop merajut bersama Rumah Talikat dan local market yang menampilkan berbagai produk kreatif.

Beragam noken dipamerkan dari tujuh wilayah budaya Papua: Mamta, Saereri, Mee Pago, La Pago, Anim Ha, Bomberai, dan Domberai.


Anak-anak muda dari berbagai komunitas, yang menjadi panitia pelaksana kegiatan menyampaikan salam menoken sebagai simbol persaudaraan dalam Instalasi Budaya “Noken Diversity–Keragaman Noken” di Djuang Home Ground Jayapura, Sabtu (29/11/2025). (Foto: Dok/Ki Basic)

Setiap noken dibuat oleh perajin lokal menggunakan bahan khas masing-masing daerah, seperti serat tumbuhan dan kulit kayu. Beberapa karya yang ditampilkan antara lain Mahi Timi (Bomberai), Kwok Plagi (Domberai), Nok’n Son (Saereri), Taire/Toware (Anim Ha), Agiya (Mee Pago), Aling (La Pago), hingga Kbo Rum dan Kbo Tamien dari Namblong.

Ki Basic dan semua pemuda yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan berharap pameran ini dapat memperluas pengetahuan publik mengenai keragaman noken sekaligus mendorong generasi muda, untuk ikut melestarikan budaya Papua, yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh UNESCO. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *