Tak Hanya Bangun Spiritual Umat juga Tingkatkan UMKM Rakyat
Oleh: Faisal Narwawan I
PAPUAinside.id, JAYAPURA—Muktamar IIIMajelis Muslim Papua (MMP) periode 2023-2028 digelar di Suni Hotel & Convention Abepura, 9-12 Maret 2023.
Muktamar III MMP ini tak hanya memilih kepengurusan baru untuk 4 tahun ke depan, tapi dikemas dengan berbagai kegiatan. Salah satunya panggung rakyat, UMKM, yang menampilkan budaya lokal Papua.
Ketua Panitia Penyelenggara Muktamar IIIMMP, Latifah Buswarimba Alhamid mengatakan, persiapan Muktamar III dilakukan sejak 4 bulan lalu dan telah membangun komunikasi dengan berbagai pihak di Papua hingga tingkat nasional.
Muktamar III MMP sengaja dikemas dengan konsep yang lebih human interest sebagai sinyal bahwa MMP siap mengawal dan meningkatkan potensi ekonomi kemasyarakatan di Tanah Papua.
“Dari 42, ada 32 kabupaten Kota yang telah mengkonfirmasi akan hadir sebagai peserta maupun peninjau. Kami juga mengundang semua warga kota untuk hadir memeriahkan muktamar ini,” kata Latifah dalam sesi jumpa pers, di Suni Hotel & Convention Abepura, Senin (6/3/2023).
Sekretaris SC Muktamar III MMP, Marthen Luther Sesa, menjelaskan, untuk melakukan pemilihan pengurus MMP periode 2023-2028 akan hadir delegasi-gelegasi dari berbagai wilayah di Papua.
Tak hanya pemilihan Ketua MMP, Muktamar III MMP juga akan digelar dialog dengan berbagai isu di Papua.
“Salah satu materi dalam agenda ini adalah soal peluang dan tantangan DOB, termasuk membahas pengembangan ekonomi dan kerakyatan. Hal lainnya akan didiskusikan mengenai Pemilu 2024 mendatang,” katanya.
Senada dengan hal itu, Sekjen MMP Dr. Suparto Iribaram menjelaskan, Muktamar III tidak menutup mata dengan perubahan yang ada di Papua, termasuk pemekaran DOB.
“Banyak terjadi perubahan di Papua termasuk adanya DOB. Sehingga untuk internal, MMP akan membentuk badan koordinasi di beberapa provinsi baru dengan pusatnya di Provinsi Induk,” ungkap Iribaram.
Hal ini, kata Iribaram, sejalan dengan semangat visi MMP yakni Islam Rahmatan Lil Alamiin atau Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
“Perubahan yang ada membuat kami harus mengembangkan MMP di seluruh wilayah Papua dan bagaimana membangun eksistensi dan memanfaatkan, meningkatkan potensi rakyat Papua tanpa melihat suku, ras dan agama. Jadi tak hanya membangun spiritual umat tetapi bagaimana membangun ekonomi rakyat Papua tanpa melihat latar belakang agamanya,” ungkapnya lagi.
Dengan banyaknya dukungan dari berbagai pihak, ia optimis Muktamar dapat menjadi solusi dalam membangun Papua dan juga dapat menepis isu radikalisme yang masuk ke Papua.
Pendiri MMP Thaha Muhammad Alhamid, mengungkapkan, perlu adanya wadah yang dapat menyalurkan partisipasi muslim dalam rangka menjaga perdamaian di Papua.
“Harapan utama MMP Papua adalah bagaimana dapat memperbarui diri untuk bisa melaraskan dengan perubahan-perubahan yang terjadi di Papua. Bersama-sama dengan dominasi gereja dan lainnya untuk Papua damai,” kata Thaha Alhamid.
MMP lahir saat adanya gejolak Politik di Papua yang mana saat itu partisipasi muslim asli Papua tak jelas arahnya.
Dikatakan Thaha Alhamid, MMP dideklarasikan pada November 1999 silam yang saat itu bernama Solidaritas Muslim Papua yang kemudian mengganti nama menjadi MMP pada 2007.
Saat itu banyak yang menganggap Papua hanya ada orang Kristen tanpa melihat orang asli Papua Muslim. Hal ini karena tak adanya wadah untuk menunjukkan jati diri kepada publik. Saat itulah MMP lahir.
“Padahal ada komunitas-komunitas muslim di daerah pesisir termasuk Fak-fak hingga Raja Ampat. Tapi tak ada canalnya, tak mungkin kita memaksa NU atau Muhammadiyah untuk bergabung masuk dalam politik lokal di Papua, akhirnya kita berijtihad politik membentuk MMP,” jelasnya.
Langkah awal kita saat itu bersama teman-teman pendeta menjaga agar konflik Ambon tak sampai di Papua. Karena kita ingin menjaga isu politik di Papua,” katanya.
Hal terpenting saat itu adalah bagaimana MMP menjadi rumah besar dan jembatan, untuk membangun komunikasi budaya dan komunikasi agama.
“Sikap dasar, prinsip dasar MMP adalah dialog, moderat, tegak, toleran dan seimbang ini yang kami harapkan terus ada di MMP hingga kini dan nanti,” tutupnya. **














