Mukjizat Yokina Tabuni Melahirkan Diatas Langit Papua, Bayi tak Menangis Selama 35 Menit

Yokina Tabuni (kiri) dan Bidan RSUD Mulia Elysabeth Pasaribu (kanan), tengah menggendong bayi saat penerbangan Mulia-Sentani. (Foto: Ipda Matheus Key)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.com, JAYAPURA—Suatu mukjizat atau miracle terjadi saat penerbangan antara Mulia, Kabupaten Puncak Jaya menuju Sentani, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua, Rabu (22/12/2021) pukul 13.41 WIT.

Mukjizat itu, Yokina Tabuni (48) melahirkan bayi laki-laki dalam pernerbangan di atas langit Papua. Bayi laki-laki itu adalah anak ke-6 dari Yokina Tabuni.

Yokina adalah pasien RSUD Mulia sejak Minggu (19/12/2021).

Elysabeth mengaku ada hambatan dalam menangani persalinan Yokina.  Ia melakukan diagnosa Yokina mengalami  partus macet (distosia), karena selama dua hari bayi tak lahir, letak bayi sungsang pijakan kaki atau salah satu atau kedua kaki bayi mengarah ke bawah, dekat dengan jalan lahir.

Selain itu, di RSUD Mulia tak ada dokter spesial.

“Jadi kita memilih rujuk, karena keadaan ibunya sangat lemah,” ujar Elysabeth Pasaribu kepada Papuainside.com di Jayapura, Minggu (26/12/2021).

Elysabeth Pasaribu adalah seorang bidan RSUD Mulia. Ia ditugaskan mendampingi Yokina, untuk dirujuk ke RSUD Dok 2 Jayapura.

Elysaberth mendampingi Yokina dalam   penerbangan Mission Aviation Followship (MAF) Nomor Penerbangan PK MED jenis CODIAK 100 rute Mulia-Sentani.

Yokina Tabuni dibaringkan setelah pesawat MAF landing di Bandara Sentani. (Foto: Ipda Matheus Key)

Setelah take off selama 30 menit dari Mulia sang ibu mengalami kontraksi hebat. Elysabeth melakukan observasi, selanjutnya ibu merasa mau buang air.

“Jadi saya langsung ambil tindakan sembari berdiri diatas kursi, karena ruangan sempit dan terjadi goncangan atau turbelensi di pesawat,” tuturnya.

Setelah Elysabeth suntik oksitosin 10 menit untuk merangsang melahirkan plasenta. Akhirnya kaki bayi perlahan keluar.

“Puji Tuhan ibu dan bayi selamat dan sehat walafiat,” ucap Elysabeth.

Elysabeth menolong pasien melahirkan dengan letak sungsang berat badan 3,660 gram, panjang badan 50 cm dan jenis kelamin laki-laki.

Pasca ibu melahirkan, ujarnya, ia pun memeriksa kembali tak ada robekan.

Namun bayi makin sesak, karena banyak minum air ketuban dan lendir. Tapi Elysabeth tetap berusaha untuk selamatkan bayinya.

“Perjuangan saya rujuk pasien begitu besar melalui kuasa Tuhan, untuk saya dan pasien serta semua yang ada dalam pesawat,” ujar Elysabeth.

Alumni Akademi Kebidanan Taruntung, Kabupaten Tapanuli Utara, Provinsi Sumatera Utara tahun 2010 ini  menuturkan, ia melakukan tes apgar score untuk cek kondisi bayi baru lahir, ternyata kondisi bayi sangat buruk. Letak kaki dengan keadaan biru dan tak menangis selama 35 menit.

“Saya berusaha terus untuk rangsang taktil. Puji Tuhan dengan kuasa Tuhan bayi mulai merah dan menangis,” terang Elysabeth.

Bidan RSUD Mulia Elysabeth Pasaribu. (Dok/Pribadi)

Elysabeth menyiapkan alat partus seadanya dari RSUD Mulia, karena kalau merujuk pasien ada protap.

Dikatakan setelah 30 menit tiba di Bandara Sentani. Tapi ironis, di salah satu bandara terbesar di Indonesia Timur ini tak ada satu pun mobil ambulance yang stand by.

Apa boleh buat. Kru dan semua penumpang MAF, termasuk seorang anggota Polres Puncak Jaya Ipda Matheus Key, berupaya menyewa kendaraan umum, untuk membawa pasien dan bayi ke RSUD Yowari.

Disana pihak RSUD Yowari menolak, lantaran tak menerima pasien Kartu Papua Sehat (KPS). Tapi mereka bersedia menolong bayi untuk mengeluarkan air ketupan dan lendir serta meminjamkan oksigen, untuk lanjut ke RSUD Dok 2 Jayapura.

Kondisi bayi makin membaik. Di RSUD  Dok 2 Jayapura mereka langsung menerima dan menangani pasien dan bayi.

“Puji Tuhan. Semua itu berkat kuasa dan kebaikan Tuhan. Tuhan Yesus baik,” ungkapnya.

Elysabeth pun menyampaikan terima kasih buat semua kru dan penumpang MAF,  yang sangat antusias membantunya menangani persalinan Yokina.

“Pak Polisi sampai buka jaketnya, untuk  bungkus bayi,” ucapnya.

Elysabeth pun menyampaikan terima kasih khusus buat Tim Bidan RSUD Mulia. Masing-masing Rosalina Tanni, Mega Lepongbulan, Sepina Wonda  dan Sherly Kasenda, yang telah  membantu menyiapkan alat persalinan  dari RSUD Mulia.

“Tim medis usaha cari tiket pesawat, karena penerbangan Mulia-Sentani sangat sulit. Penumpang banyak, tapi pesawat sedikit. Mereka bantu saya ke bandara  sampai saya terbang,” katanya. **