Merawat Asa di Lanny Jaya, Moses Yigibalom Bangun Peradaban Kopi Bersama PLN

Moses Yigibalom (kiri) menuangkan biji kopi pascapanen ke rak penjemuran (drying bed) bersama petani di Tiom. Proses pengeringan dan penyortiran manual ini menjadi tahap krusial untuk menghasilkan green bean berkualitas. (Foto: PT PLN UIW PPB)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAINSIDE.ID, LANNY JAYA—Di balik udara dingin Lanny Jaya, Papua Pegunungan, Moses Yigibalom merawat harapan melalui kopi yang telah menjadi jalan hidupnya sejak kecil.

Kisah itu bermula pada 1985, saat keluarganya menerima bantuan bibit kopi dari pemerintah dan menanamnya di lahan seluas 4,5 hektare. Tanaman itu kemudian menjadi sumber penghidupan sekaligus membiayai pendidikan Moses hingga ke Bandung, kota yang dijuluki Paris Van Java.

Namun, ia lebih memilih pulang ke kampung halaman, untuk mnanam dan mengelolah biji kopi.

“Dunia kopi bukan hal baru bagi saya. Sejak kecil sudah terbiasa merawat hingga menghasilkan green bean,” ujarnya.

Sejak 2016, Moses mengembangkan usaha kopi dengan merek Lani Mendek. Ia juga memimpin Kelompok Tani Tiom yang beranggotakan 20 petani.

Pengalaman itu mendorongnya untuk tidak berjalan sendiri, melainkan tumbuh bersama para petani di kampungnya.

Petani Kelompok Tani 1 Tiom, Lanny Jaya, Papua Pegunungan, menanam bibit kopi dalam polybag sebelum dipindahkan ke lahan tanam. (Foto: PT PLN UIW PPB)

Tantangan Alam dan Solusi PLN

Perjalanan tersebut tak mudah. Cuaca yang tak menentu kerap menghambat proses pengeringan kopi yang masih dilakukan secara terbuka menggunakan terpal. Waktu pengeringan bisa mencapai satu bulan, dengan risiko biji kopi berjamur.

“Saat melihat kopi berjamur karena hujan, rasanya semua jerih payah hilang,” kata Moses.

Keterbatasan itu mulai teratasi setelah PT PLN (Persero) melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) membangun dome penjemuran beratap ultraviolet (UV) untuk Kelompok Tani Tiom.

Kini, proses pengeringan lebih terkontrol, kualitas biji kopi meningkat, dan risiko gagal panen menurun.

“Sebelumnya pendapatan sekitar Rp 27 juta, sekarang bisa mencapai Rp 40 juta dalam sekali panen,” ujarnya.

Kopi Lani Mendek, produk kopi lokal asal Tiom yang diproduksi dan dipasarkan oleh Moses Yigibalom sejak 2016 dalam bentuk biji dan bubuk. (Foto: PT PLN UIW PPB)

Menembus Pasar dan Menyalakan Harapan

Sejak 2025, kualitas kopi Lanny Jaya makin diakui. Hasil panen mereka mulai menyuplai berbagai roastery dan kafe, seperti Highland Roastery di Jayapura, Amungme Gold di Timika, hingga Gajah Mada Roaster di Jakarta.

General Manager PT PLN (Persero) UIW Papua dan Papua Barat, Roberth Romsaur, mengatakan PLN berkomitmen mendukung penggerak ekonomi lokal.

“Kami tidak hanya menghadirkan listrik, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat,” ujarnya melalui Siaran Pers, Rabu (15/4/2026).

Kini, dari balik dome penjemuran di Lanny Jaya, aroma kopi yang mengering sempurna membawa cerita tentang kerja keras dan kolaborasi.

Dari pegunungan Papua, Moses Yigibalom membuktikan bahwa kopi bukan sekadar hasil bumi, melainkan jalan untuk menyalakan harapan. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *