Menoken Kembali Mula di Kedai Kopi Sapta Wening, Ahmad Taufik: Mulanya Dicibir Kini Omzet Ratusan Juta

Menoken Mula Kembali Baku Belajar 2020-2024 di Kedai Kopi Sapta Wening etika menoken di di Batang, Jawa Tengah, 1 Desember 2024. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, BATANG—Kedai Kopi Sapta Weningmenjadi salah-satu lokasi rangkaian kegiatan Menoken Kembali Mula “Baku Belajar” 2020-2024, kembali menjadi lokasi kunjungan bagi para Nokeners, 1 Desember 2024.

Turut hadir Perwakilan Nokeners BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, Mitra BUMMA, Komunitas Menoken Mamta, Komunitas Menoken Saireri, Komunitas Menoken Mee Pago, Komunitas Menoken Domberai, dan Komunitas Menoken Animha.  

Sapta Wening berasal dari Bahasa Jawa adalah tempat yang tenang dan asri.

Kedai Kopi Sapta Wening terletak di Jalan Curug Genting, Desa Bawang, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang, Provinsi Jawa Tengah.

Nokeners menyampaikan salam menoken, usai menoken di Kedai Kopi Sapta Wening, Batang, Jawa Tengah, 1 Desember 2024.  (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Penuh Cinta

Nokeners pun disambut penuh cinta oleh Pengelolah dan Pemilik Kedai Kopi Sapta Wening, Ahmad Taufik, didampingi Penasehat Kedai Kopi Sapta Wening, Dewasturi.

Taufik mengungkapkan pihaknya mendirikan Kedai Kopi Sapta Wening sejak tahun 2019 silam atau setahun sebelum menoken pertama di Tanah Jawa.

“Kami disini terus menoken, terutama mengedukasi terkait lingkungan hidup, manajemen pengelolaan ekowisata dan lain-lain,” ungkap Taufik.

Taufik menuturkan, awal mula membangun Kedai Kopi Sapta Wening ia mendapat tantangan yang luar biasa, bahkan mendapat cibiran dari masyarakat sekitarnya.

“Ngapain bangun kedai kopi disini, biar bisa kasih makan monyet,” ungkapnya miris.

Tapi justru tantangan dan cibiran itu ia jadikan peluang, untuk terus menjalankan dan mengelola usahanya, yang kini omzetnya ratusan juta setiap bulan.   

Dikatakan tantangan yang lebih besar yang ia hadapi, ketika pandemi Covid-19. Usahanya sempat down dan berhenti sementara. Kemudian perlahan bangkit kembali hingga kini.

Taufik menerangkan, ia mendapat dukungan dari sejumlah komunitas, dan memanfaatkan platform medsos, untuk memperkenalkan usahanya. “Mulanya hanya 12-13 follower, tapi sekarang ratusan bahkan ribuan follower, yang setiap saat mampir untuk sekedar kongko-kongko, menyeduh kopi maupun menikmati makanan disini,” ungkapnya.

Taufik menuturkan, pihaknya merencanakan membangun sebuah galeri noken, yang berisi aneka produk kerajinan tangan, bahkan Nokeners Mitra BUMMA dan BUMMA Namblong bisa menitip merchandise khas Papua, untuk dijual di Sapta Wening.

Manajer Kehutanan BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, Bernard Yewi, mengalungkan noken kepada Pengelolah dan Pemilik Kedai Kopi Sapta Wening Ahmad Taufik, ketika menoken di Kedai Kopi Sapta Wening, Batang, Jawa Tengah, 1 Desember 2024.  (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Noken Itu Isi Hati

Direktur Operasional/Umum BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, Yusuf Kasmando didaulat memperkenalkan filosofi menoken, yang terinspirasi dari noken atau tas khas masyarakat di Tanah Papua.

Sembari membawa noken, Yusuf menjelaskan, noken terdiri dari bentuk dan ukuran kecil, sedang dan besar. Noken ukuran besar untuk mengisi barang-barang bawaan dari kebun. Bahkan digunakan untuk menggendong bayi dan balita didalam noken.

“Noken bersifat kuat, transparan, fleksibel kalau diisi makin mengembang mengikuti ukuran barang atau bayi dan balita. Noken menggambarkan isi hati apa yang kami dapat dari sini diisi dalam hati kami, sebaliknya apa yang kami dapat kami isi didalam noken ini,” jelas Yusuf.

Nokeners Mamta Piter Roki Aloisius berpose bersama Nokeners, ketika  menoken Regional Youth Event di Kedai Kopi Sapta Wening di Batang, Jawa Tengah pada November 2021. (Foto: Piter Roki Aloisius for Papuainside.id)

Menoken Bersama Tuna Netra

Nokeners Mamta Piter Roki Aloisius mengatakan ia sudah tiga kali menoken di Batang, yakni Menoken pertama tahun 2020, kemudian menoken kedua Regional Youth Event pada November 2021, dan Menoken Kembali Mula “Baku Belajar” 2024.

Menoken kedua ia mewakili The Samdhana Institute menoken di beberapa wilayah di Indonesia, termasuk Papua.

Roki mengaku merasa senang bisa kembali menoken di Kabupaten Batang, khususnya di Kedai Kopi Sapta Wening.

Roki mengatakan, menoken pertama kali digelar saat pandemi Covid-19 pada November 2020 silam di sejumlah lokasi Pulau Jawa.

Saat itu, ia dari Papua mewakili The Samdhana Institute mengikuti kegiatan menoken di sini. Yang istimewa menoken saat itu ia bersama Nokeners dari Komunitas Tuna Netra.

“Banyak hal yang saya belajar dari teman-teman tuna netra, walaupun dengan keterbatasnya mereka dianugerahi kelebihan, perkembangan pesat juga terjadi dengan teman-teman Komunitas Sapta Wening, yang mengembangkan kedai kopi dan menjadi tempat wisata.

“Tiga tahun lalu tak seramai saat ini, saya kagum dengan perkembangan usaha kawan-kawan komunitas disini, bahkan sekarang kami pun harus antri panjang, untuk sampai ke loket pemesanan aneka menu makanan dan minuman yang tersedia, Bahkan omzetnya mencapai ratusan juta perbulan,” pungkas Roki.  

Nokener Mitra BUMMA, yang mendampingi pengembangan ekowisata,  Ranum Mansawan menuturkan ia tertarik dengan upaya pihak Kedai Kopi Sapta Wening, untuk menarik tamu melalui platform medsos.    

“Bagaimana menjaring tamu dari nggak ada tamu jadinya udah banyak tamu, dan bagaimana juga partnership dengan pihak lain,” puji Ranum.

Penampakan pelataran Kedai Kopi Sapta Wening di Batang, Jawa Tengah, 1 Desember 2024.  (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)

Ekowisata di Namblong

Nokeners BUMMA Namblong Simon Manggo mengaku program capacity development atau peningkatan kapasitas melalui Menoken Kembali Mula “Baku Belajar” 2020-2024 membuat isinya nokennya penuh.

Simon berjanji mensosialisasikan cara pengelolaan ekowisata di Kedai Kopi Sapta Wening, khususnya kepada Nokeners BUMMA Namblong.

“Saya akan ajak nokeners, untuk kelola ekowisata di Namblong, yang dimulai  dengan cara sederhana, dan memanfaatkan kearifan lokal,” tandas Simon. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *