Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.id, JAYAPURA—Menjelang HUT ke 1 Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) Namblong berlangsung kegiatan Menoken atau saling berbagi cerita selama tiga hari.
Acara puncak HUT ke-1 BUMMA Namblong direncanakan 21 November 2023 mendatang di Kantor Dewan Adat Suku (DAS) Namblong di Kampung Nimbokrang Sari, Distrik Nimbokrang, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua.
Kegiatan menoken hari pertama berlangsung di Kampung Warombaim, Distrik Nimbokrang, Rabu (8/11/2023). Hari kedua di Kampung Genyem Yeku, Distrik Nimboran, Kamis (9/11/2023).
Hari ketiga di Kampung Pobaim, Distrik Nimboran, Jumat (10/11/2023).
Kehadiran BUMMA Namblong berawal dari pertemuan 44 Iram Tekai atau Kepala Suku di wilayah adat Namblong di Kampung Sarmai Atas, Distrik Namblong 12 Oktober 2022 lalu.
Iram Tekai kemudian memberikan mandat kepada masyarakat adat, untuk membentuk BUMMA Namblong, sekaligus mengelola Sumber Daya Alam (SDA) setempat.
Kegiatan menoken hari ketiga turut hadir, antara lain, Direktur Utama BUMMA Namblong Yohana Tarkuo, Direktur Operasional BUMMA Namblong Yusuf Kasmando, Mitra BUMMA Namblong Piter Roki Aloisius, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Jayapura Benhur Wally, Kepala Kampung Pobaim Daniel Waricu dan masyarakat adat.
Direktur Operasional Umum BUMMA Namblong, Yusuf Kasmando mengatakan kegiatan menoken ini untuk mendapat masukan, saran dan kritik, terutama menjelang HUT ke-1 BUMMA Namblong.
Dikatakan pihaknya telah membentuk Panitia Pelaksana, untuk menyambut HUT ke-1 BUMMA Namblong.
Panitia Pelaksana telah mengagendakan kegiatan HUT ke-1 BUMMA Namblong, yakni ritual adat dan pengukuhan Badan Pengurus BUMMA Namblong.

Direktur Operasional Umum BUMMA Namblong, Yusuf Kasmando, berbincang bersama anggota, usai kegiatan menoken jelang HUT ke-1 BUMMA Namblong di Kampung Pobaim, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Jumat (10/11/2023). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Menurut Yusuf, BUMMA Namblong memiliki 5 program kerja, masing-masing usaha vanili, usaha eko wisata, perdagangan karbon atau carbon trading, usaha kayu dan non kayu, usaha jasa, usaha pertanian perkebunan peternakan dan perikanan. Sedangkan program kerja tambahan penelitian dan pengembangan atau litbang.
Dikatakan pada tahun pertama telah berjalan program kerja usaha vanili, usaha eko wisata, yang merupakan program jangka pendek. Dan progran jangka panjang adalah perdagangan karbon.
Kemudian menyusul di tahun 2024 untuk usaha kayu dan non kayu, usaha jasa, usaha pertanian perkebunan perikanan. Sedangkan program kerja tambahan bidang litbang.
Dikatakan pihaknya di tahun ini merencanakan membuat aspek lagalitas formal BUMMA Namblong.
“Kami target selesai tahun ini, sehingga masuk tahun 2024 kami sudah bekerja dengan program kerja yang telah kami rencanakan,” terangnya.
Yusuf menjelaskan, pihaknya telah menjalankan program kerja usaha vanili dan usaha eko wisata.
Untuk program kerja usaha vanili, ujarnya, pihaknya telah membangun rumah pengeringan vanili di Kampung Nimbokrang Sari di Distrik Nimbokrang bekerjasama dengan Komunitas Vanili Mbajing Yogyakarta pada 12 Oktober 2022, sekaligus mulai proses pembelian dan pelatihan budidaya vanili memanfaatkan pekarangan rumah.
Dijelaskan pihaknya menargetkan pembelian vanili basa dari petani sebanyak 200 kg dan pengembangan lahan atau kebun vanili di masing-masing Kepala Keluarga (KK) di wilayah adat Namblong.
Ia menjelaskan, luas hutan adat di wilayah Namblong kurang lebih 53.000 hektar. Luas hutan adat yang sudah terpakai masih dihitung. Untuk komuditas vanili sesuai peta potensi lebih banyak ada di wilayah adat Tabo.
Dikatakan untuk usaha eko wisata terdapat di Kampung Berab, yakni legenda Kali Biru, gua kelelawar, dua lokasi burung bermain dan air terjun.

Rapat Panitia Pelaksana menjelang HUT ke-1 BUMMA Namblong di Kampung Pobaim, Distrik Nimboran, Kabupaten Jayapura, Jumat (10/11/2023). (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.id)
Direktur Utama BUMMA Namblong, Yuliana Tarkuo mengharapkan melalui kegiatan menoken ini masyarakat adat Namblong dapat lebih memahami tujuan dari pembentukan BUMMA Namblong.
Dikatakan BUMMA Namblong ini adalah milik masyarakat adat Namblong melalui pendampingan dari Mitra BUMMA dan Institut Samdhana Papua.
Tekai di RT 2 Kampung Pombaim, Yuliana Yewi mendukung sepenuhnya kehadiran BUMMA Namblong, untuk membantu meningkatkan ekonomi masyarakat adat setempat.
“Kami masyarakat adat kan masih buta dengan BUMMA Namblong, tapi melalui menoken kami mendapat penjelasan, sehingga masyarakat merasa aman dan tentunya sangat bermanfaat bagi kami,” ujarnya.
Dikatakan sebelumnya para petani menjual hasil kebun ke pasar, tapi dengan kehadiran BUMMA Namblong kami menjual langsung ke Mitra BUMMA tanpa harus mengeluarkan ongkos tambahan seperti transportasi, waktu dan tenaga.
Ketua AMAN Jayapura, Benhur Wali mengatakan di wilayah Jayapura terdapat 13 komunitas AMAN, yang tersebar dari Kabupaten Jayapura, Kota Jayapura hingga Kampung Tobati dan Kayu Batu.
Benhur mengatakan, kehadiran BUMMA Namblong untuk memperkuat eksitensi hak-hak masyarakat adat setempat.
“Kami terus mendorong supaya masyarakat adat memiliki badan usaha sendiri tanpa bergantung dari pihak lain,” tandas Benhur.
Penanggungjawab Rumah Pengeringan Vanila BUMMA Namblong, Benyamin Bai mengatakan para petani membawa dan menjual vanili disini, tapi saat panen pihaknya turun langsung membeli ke kebun petani.
Benyamin juga menghimbau kepada petani untuk tekun dan sabar menanam dan memelihara tanaman vanili, agar memperoleh harga yang memuaskan.
Ia menuturkan, pihaknya membeli beli vanili basa dengan harga great A Rp 175.000, great B Rp 125.000 dan great C Rp 100.000. **














