Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.com, SARMI—Pilemon Kantum adalah pengolah Virgin Coconut Oil (VCO) atau minyak kelapa murni pertama di Kabupaten Sarmi.
Bersama Samdhana Papua Coordinator Piter Roki Aloisius dan kawan-kawan, mendapat kesempatan mengunjungi lokasi pengolahan VCO milik Pilemon di Kampung Yamna, Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi, Provinsi Papua, Jumat (20/5/2022).
Lokasi pengolahan VCO milik Pilemon cukup strategis, yakni terletak di tepi Jalan Raya Sarmi-Bonggo.
Pilemon adalah salah satu warga binaan Samdhana Papua.
Pilemon memproduksi dua jenis minyak kelapa murni, yakni VCO dan sabun.
Untuk menjaga kepercayaan konsumen, Pilemon juga menyertakan merk dagang dalam kemasan di dua produknya.
Masing-masing VCO 80 gram Produksi Masyarakat Adat Yamna, Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi. Kemudian Pilemon Soap 70 gram Produksi Kelapa Kami Pilemon.
Pilemon menjelaskan, VCO dan sabun diolah dari buah kelapa bagian dalam, bervariasi baik buah kelapa besar dan kecil.
Rata-rata 13 buah kelapa dapat 1 liter bisa menghasilkan 100 botol VCO dan sabun.
“Saya beli buah kelapa dari warga sekitarnya Rp 1.300 perbuah, agar mereka juga dapat bagian dari saya,” katanya.
Pilemon mengolah VCO dan sabun dengan peralatan seadanya, dibantu sang istri Fredirika Ulim dan seorang ponakannya.
“Yang penting saya jaga produknya tak boleh sampai keluar dari petunjuk yang sudah diajarkan,” tandasnya.
Dalam mengolah VCO dan sabun, Pilemon memakai pakai toples, kertas saring kapas, dan batu siluet.
“Jadi untuk penyaringan pertama saya pakai kertas saring, setelah itu saya bikin penyaringan yang kedua terus ketiga,” ujarnya.
Kalau sabun cukup penyaringan pertama saja, yang penting keruhnya hilang, untuk mendapatkan hasil yang bersih langsung diolah jadi sabun.
Pilemon menerangkan, VCO mempunyai kegunaan mengobati pelbagai penyakit yang ditemui didalam tubuh.
Andre Liem, Papua Tour Guide menyampaikan testimoninya ia sudah konsumsi VCO yang didapatnya dari Pilemon.
“Saya minum sedikit disusul air panas di pagi hari sebelum konsumsi makanan yang lain. Lalu sebelum tidur saya minum lagi tambah air panas. Tubuh saya jadi lebih segar,” katanya.
Andre mengeluh malaria, tapi setelah minum VCO langsung pulih kembali. “Mungkin sakit yang lain saya kira begitu,” ungkap Andre.
Soal pemasaran, tukas Pilemon, ia didukung Samdhana Papua, untuk pemasaran biar lebih fokus produksi.
Pilemon menceritakan, ia bekerja pada sebuah kapal usaha kopra milik seorang pengusaha keturunan Cina.
“Kami kumpul kopra di seluruh wilayah Sarmi kemudian bawa dan jual ke Pulau Jawa,” ujarnya.
Setelah itu, ia istirahat dari laut dan turun ke darat. Lantaran tak ada sumber lain, ia pun memarut kelapa dan mengolahnya menjadi minyak kelapa.
Pilemon diajak Papua Home Industri Coconut Oil (PHICO), untuk ikut pameran presentasi produk produk rumah tangga di Jakart pada 2012 silam.
PHICO adalah lembaga yang dibentuk Bupati Sarmi Drs. E. Fontaba, MM, untuk membina para pelaku usaha rumah tangga.
“Waktu itu belum ada sesuatu. Jadi ketika saya muncul Sarmi ada VCO dan sabun,” katanya.
Kembali dari Jakarta, Pilemon bergabung dengan PHICO. Tapi beberapa lama kemudian ia memilih mundur.
Pilemon pun kembali kerumahnya. Ia kembali memarut dan mengolah minyak kelapa.
Suatu saat ia mendapat kunjungan dari Ketua Tim Penggerak PKK Pemerintah Kabupaten Sarmi, mendiang Ny. Amelia Worumi Fonataba pada 2017 silam.
Amelia tak sendiri, tapi membawa serta tim pengolah VCO dari Bandung, Jawa Barat.
“Mereka datang bawa ilmu kesini bagaimana kita membuat minyak kelapa yang baik dan higienis,” ucapnya.
Pilemon mulai belajar mengolah VCO di Betaf, ibukota Distrik Pantai Timur, Kabupaten Sarmi.
Selama seminggu Pilemon tekun belajar dan mampu mengolah sendiri VCO.
Pilemon mendapat pendampingan dari sejumlah NGO, antara lain IPI Papua, kemudian UNDP pada tahun 2012 silam.
“Sebetulnya saya mau berhenti, tapi keluarga dan anak sekolah saya harus berusaha maju lagi,” tuturnya.
Gayung pun bersambut. Samdhana Papua datang akhirnya Pilemon kembali mengolah VCO dan sabun.
Sementara itu, Roki Aloisius mengatakan pihaknya kebetulan berjumpa Pilemon, ketika hadir dalam kegiatan Menoken di wilayah Mamta, termasuk Sarmi.
Roki Aloisius miris, ketika Pilemon cerita industri PHICO yang dibangun tahun 2013, sejak tahun 2020 sudah tak beroperasi lagi.
“Saya sampaikan walaupun peralatan pendukung tak ada, tapi ilmu itu kan tetap ada. Jadi seharusnya tetap semangat untuk bisa terus berkarya. Akhirnya beliau termotivasi kembali untuk mencoba memproduksi VCO dan sabun,” terang Roki Aloisius.
Alhasil, Samdhana Papua berupaya mendampinginya dengan menyiapkan kemasan VCO dan sabun, sekaligus memasarkan produk milik Pilemon.
Roki Aloisius menuturkan, pihaknya mencoba memasarkan ke pelbagai kalangan, ternyata minat warga untuk menggunakan VCO dan sabun cukup tinggi.
“Kami hanya terkendala di kemasan yang terbatas. Kami harus pesan dari luar Papua. Tapi kedepan bagaimanapun caranya ketersediaan kemasan harus selalu ada, sehingga tak menggangu beliau untuk berproduksi,” jelas Roki Aloisius.
Rencana kedepan, jelas Roki Aloisius, dari aspek produksi akan terus ditingkatkan. Sedangkan dari aspek legal untuk memenuhi persyaratan Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (POM).
“Kami berupaya untuk memenuhi aspek legal dan sekarang sudah berproses,” ucapnya.
Roki Aloisius menjelaskan, Balai Besar POM Jayapura sangat mendukung, karena mereka mempunyai program pendampingan untuk membantu industri rumah tangga.
Menurut Roki Aloisius, pihaknya juga berkoordinasi dengan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, untuk memasang beberapa outlet pemasaran VCO dan sabun produksi Pilemon. **














