Mendengar Pidato Kenegaraan Presiden, DPRP Mengenakan Pakaian Nuansa Papua

Pimpinan dan anggota DPR Papua, mengenakan pakaian dengan nuansa Papua, ketika Sidang Paripurna DPR Papua dengan agenda Mendengar Pidato Kenegaraan Pidato Presiden RI dalam rangka HUT Ke-77. (Foto: Makawaru da Cunha/Papuainside.com)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.com, JAYAPURA—Sidang Paripurna DPR Papua dengan agenda Mendengar Pidato Kenegaraan Pidato Presiden RI pada Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI dalam rangka HUT Ke-77 Proklamasi Kemerdekaan RI, memiliki penampakan yang berbeda  dari sidang-sidang terdahulu.

Sejumlah Pimpinan DPR Papua, masing-masing Ketua DPR Papua, Jhony Banua Rouw atau JBR, Wakil Ketua I DPR Papua, Yunus Wonda, Wakil Ketua II DPR Papua, Edoardus Kaize dan Anggota DPR Papua lainnya mengenakan pakaian dengan nuansa Papua.

Tak ketinggalan, Sekretaris DPR Papua, Juliana J Waromi dan para staf, juga mengenakan pakaian dengan nuansa Papua.

JBR sendiri mengenakan pakaian nuansa Papua dari wilayah La Pago, berupa  batik Papua, yang dirajut noken lengkap dengan dasi dan topi bulu, yang biasa digunakan para kepala suku dalam acara-acara resmi.

JBR, usai membuka lomba perahu hias di Dermaga DPR Papua, Selasa (16/8/2022) menjelaskan, pihaknya minta untuk mendesain sidang paripurna dalam rangka HUT Kemerdekaan RI ke-77 dilakukan dengan nuansa Papua.

“Pakaianyang kita gunakan beda dengan pakaian adat. Kalau pakaian adat, artinya kita harus pakai busana yang memang adat. Tapi ini adalah pakaian dengan nuansa Papua, yang kita modifikasi menjadi bahan yang bisa dikenakan dimana pun untuk aktivitas sehari-hari maupun acara resmi,” tutur JBR.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi, dalam pidatonya, antara lain, mengatakan tantangan yang kita hadapi saat ini sangat berat, sangat sulit, tidak mudah. Semua negara, di seluruh dunia, sedang menghadapi ujian yang sama.

Krisis kesehatan, pandemi Covid-19 belum sepenuhnya pulih. Perekonomian dunia juga belum sepenuhnya bangkit.

Tiba-tiba meletus perang di Ukraina, sehingga krisis pangan, krisis energi, dan krisis keuangan tidak terhindarkan lagi.

Kita tahu, 107 negara terdampak krisis dan sebagian di antaranya diperkirakan akan jatuh bangkrut. Diperkirakan 553 juta jiwa terancam kemiskinan ekstrem dan 345 juta jiwa terancam kekurangan pangan akut dan kelaparan.

“Ujian ini tidak mudah bagi dunia dan juga tidak mudah bagi Indonesia. Semua ini harus kita hadapi dengan kehati-hatian dan dengan kewaspadaan,” jelas Presiden.

Namun, di tengah tantangan yang berat, kita patut bersyukur, Indonesia termasuk negara yang mampu menghadapi krisis global ini.

Negara kita Indonesia termasuk negara yang berhasil mengendalikan pandemi Covid-19, termasuk lima besar negara dengan vaksinasi terbanyak di dunia, yaitu 432 juta dosis vaksin yang telah kita suntikkan. **