Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.com, SARMI—United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) dan Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua (Dishut-LH Papua), menggelar Lokakarya Kelompok Perlindungan Hutan Berbasis Masyarakat di Hotel Rivior, Sarmi, 18-20 Mei 2022.
Usai penutupan lokakarya dilanjutkan melihat dari dekat perkebunan buah merah, yang dikelola para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani Hutan (KTH) Guguta di Kampung Sewan, Distrik Sarmi Timur, Kabupaten Sarmi.
KTH Guguta terdiri dari 10 anggota, 5 pria dan 5 wanita. Mereka menanam buah merah diatas lahan seluas 1 hektar sejak 2017 lalu. Buah merah ini kemudian diolah menjadi minyak buah merah.
KTH Guguta adalah salah-satu binaan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Unit XXI Sarmi Mamberamo. KPHP ini adalah UPTD dibawah Dishut-LH Papua.
Kepala Seksi Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan pada KPHP Unit XXI Lintas Sarmi Mamberamo. Debora Ludia Sawen, SHut, MSi menjelaskan pengadaan bibit buah merah mulai pada 2017.
Bibit buah merah diambil dari Jayapura, tapi untuk pemeliharaan tahap selanjutnya ia menyarankan kepada Ketua KTH, untuk mengambil bibit buah merah, yang sudah tumbuh alami di sekitar Kampung Sewan.

Pengadaan bibit buah merah dibantu pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Kemen LHK) melalui Balai Pengelolaan Hutan Produksi (BPHP) Wilayah XV Papua di Jayapura, berupa 3 panci kukus lengkap dengan kompor listrik.
Hanya saja, ucapnya, untuk sampai tahap akhir produk minyak buah merah masih membutuhkan 4 jenis alat lagi.
“Untuk mengatasinya saya menyarankan KTH masak secara manual, yang penting bisa berproduksi dan ada pemasukan bagi kelompok,” katanya.
Selain membina KTH Guguta, ia juga membina KTH Masoi. Tapi lokasinya sering di masuki babi hutan dan tanaman kurang sinar matahri, karena ditutupi pohon lain, sehingga banyak yang mati.
Yang hidup hanya sekitar 30 % dari 1 ha, yang ditanami selang seling dengan tanaman durian dan rambutan.
“Ada juga KTH Gaharu, tapi mereka tak aktif. Bibit yang diserahkan tak ditanam dan dibiarkan begitu saja sampai mati. Oleh karena itu, kami tidak lanjutkan. Kami hanya bina KTH yang aktif dan mau menanam,” ucapnya.
Menurutnya, kalau KTH buah merah mau menanam dan memelihara, makanya pihaknya memberi tambahan lagi dari DPA Dishut-LH Papua 2 ha di tahun 2019.
“Selain itu, karena senang melihat Ketua KTH Guguta aktif saya suruh staf untuk bagi bibit rambutan, yang ada di persemaian, untuk ditanam di lokasi KTH di kebunnya,” tukasnya.

Debora menjelaskan, tantangan terbesar di tahun 2017, ketika KTH Guguta menyampaikan bahwa buah merah ini tanaman jangka panjang, sehingga menunggu lama untuk menikmati hasilnya. Apalagi panen buah merah 1 tahun 1 kali, karena hanya 1 kali musim yaitu Juni-Agustus.
Jadi solusinya ia atas inisiatif sendiri membeli bibit-bibit sayur kacang panjang, bayam merah dan bayam putih di Pasar Mararena Sarmi, yang dijual eceran untuk dibagi ke setiap KTH binaan yang terbentuk saat itu.
“Saya sampaikan ke mereka, untuk ditanam sambil tunggu tanaman jangka panjang ini. Disitu ada rasa bahagia, saya bisa menolong masyarakat saya, mungkin karena rasa memiliki mereka, karena saya putri asli Sarmi,” ungkapnya.
Kerja kerasnya bersama KTH perlahan membuahkan hasil, antara lain diundang menghadiri Pameran Usaha Kehutanan (PUSAKA), yang dibuka Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Hutan Pinus Mangunan, Yogyakarta pada tanggal 28-29 September 2018 lalu.
“Karena dana terbatas, jadi saya dengan KKPH saja yang ikut. Tapi saya bawa produk-produk kami diantaranya minyak buah merah,” tandasnya.
Kehadirannya di PUSAKA dibiayai pihak Kementerian LHK melalui BPHP Wilayah XV Papua di Jayapura. **














