Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAinside.com, JAYAPURA—Di tengah keterpurukan tim kebanggaan masyarakat Papua, Persipura Jayapura dari Liga 1 turun tangga ke Liga 2, mendorong mantan Manajer Timnas PSSI, Drs. Mesak Manimbor, MMT untuk kembali mencalonkan diri sebagai Ketua Umum (Ketum) Asprov PSSI Papua periode 2022-2027 pada Musda Asprov PSSI Papua tahun 2022 ini.
Sebagaimana diketahui, Mesak Manimbor pernah mencalonkan diri sebagai Ketum Asprov PSSI Papua periode 2013- 2017 silam, tapi ia kalah dari saingan terdekatnya Dr. Benhur Tomi Mano, MM.
Mesak Manimbor, ketika dikonfirmasi di Jayapura, Jumat (1/4/2022) mengatakan sebagai seorang mantan pemain ia memiliki hak untuk bisa mencalonkan diri sebagai Ketum Asprov PSSI Provinsi Papua.
Mantan Bupati Sarmi periode 2011-2016 ini menuturkan, ia memiliki kapasitas mumpuni untuk memimpin Asprov PSSI Papua, karena memiliki jam terbang tinggi di dunia persepakbolaan.
“Itu penting, sehingga dia tahu bagaimana mengatur manajemen sepakbola bahkan mengatur pemain secara langsung, baik di lapangan maupun di luar lapangan,” tandasnya.
Mesak Manimbor mengatakan, ia bertekat secara penuh untuk mencalonkan diri sebagai Ketum Asprov Papua, setelah menjalin komunikasi dengan pelbagai pihak, baik dari tim-tim yang ada di daerah, Asprov PSSI Papua maupun pimpinan daerah maupun para pemain senior yang ada di Papua, dalam hal ini para mantan pemain Persipura.
Juga mereka yang mengamati tentang persepakbolaan, walaupun mereka bukan pemain. Tapi mereka pencinta bola.
“Kami mencoba untuk bagaimana memperbaiki apa yang sesungguhnya yang kita harapkan. Ya, saya kira dari beberapa waktu lalu sudah jalan, hanya ada kekurangan-kekurangan yang perlu kita benahi,” tutur mantan winger Assyabaab seangkatan Mustaqim ini.
Assyabaab adalah salah-satu klub anggota Divisi Utama Persebaya Surabaya.
Mesak Manimbor menuturkan, kesalahan yang paling fatal sesungguhnya dengan kejadian Persipura turun dari kasta tertinggi sepabola nasional ke Liga 2 menjadi satu pukulan telak bagi seluruh orang di Papua maupun Papua Barat dengan sendirinya. Bahkan Indonesia secara keseluruhan.
“Tapi dengan ini kita belajar, untuk melihat kesalahan. Kesalahan itu ada dimana kita coba membangkitkan apa yang kita lakukan dengan memberdayakan seluruh tim-tim yang ada di Papua, seperti PSBS Biak, Persewar Waropen, Persimer Merauke dan beberapa tim lainnya,” terangnya.
Hanya saja ia secara pribadi sesalkan ada berapa tim yang memiliki nama di Papua, justru menjual klubnya, seperti Perseru Serui.
Padahal, menurut dia, sesungguhnya masyarakat Papua, khususnya di wilayah Kabupaten Kepulauan Yapen mengharapkan bahwa sepakbola adalah satu bagian untuk bisa membina generasi muda, sehingga tak terjerumus pada hal-hal yang tak diinginkan seluruh masyarakat. **














