Oleh: Vina Rumbewas |
PAPUAInside.com, WAMENA – Kapolda Papua Irjen Polisi Mathius D Fakhiri memberikan nama kepada seorang bayi yang lahir saat kerusuhan Yalimo pada 29 Juni 2021 lalu.
Bayi berjenis kelamin perempuan itu diberi nama Marta, yang artinya Perempuan Tangguh.
“Saya beri dia nama Marta seperti nama ibu saya, Marta juga artinya perempuan tangguh,” ungkap Kapolda Papua sambil menggendong sang bayi, saat mengunjungi warga pengungsi di gedung Tongkonan Wamena, Selasa (06/07/2021).
Pemberian nama bayi oleh kapolda ini merupakan permintaan dari keluarga.

Kapolda berharap Marta nantinya menjadi perempuan tangguh yang pantang menyerah seperti disaat momen dirinya dilahirkan.
Marta merupakan satu dari tiga bayi yang dilahirkan tepat dihari terjadinya kerusuhan di Elelim, ibu kota Yalimo, yang merupakan dampak dari ketidak puasan sekelompok masyarakat di Yalimo terkait putusan MK dalam sengketa pilkda Yalimo pada 29 Juni lalu.
“Mudah-mudahan dia akan menjadi perempuan tangguh dan pantang menyerah sebagaimana dia dilahirkan ditengah peristiwa Yalimo,” pungkasnya.
Sri Komaria, ibu Martha menceritakan saat hendak melahirkan bayinya dirinya bersama suami kesulitan mencari tenaga bidan untuk membantu persalinan.
“Saya melahirkan tanggal 29 Juni di rumah, sekitar jam 4 subuh, dibantu bidan,” ungkap Sri Komaria.
Menurutnya, suaminya sempat kewalahan mencari pertolongan karena data kejadian situasi sangat mencekam dan banyak warga yang telah mengungsi.
Dituturkannya, saat itu dirinya bersama suami tidak tahu harus berbuat apa untuk melakukan persalinan.
“Suami cari bantuan ke Puskesmas tapi tidak ada petugas, jadi suami minta tolong bidan dibalai desa,” tuturnya.
Lanjutnya, saat itu dirinya hanya pasrah dengan situasi yang ada, namun dirinya bersyukur dapat melahirkan dengan selamat dan kondisi bayi Marta yang sehat.
Akibat kondisi Yalimo yang belum kondusif, Sri Komaria bersama suami dan anak-anaknya diungsikan ke Wamena melalui jalur darat pada Senin (05/07/2021) malam.
Ia dan keluarganya masih akan menempati tempat pengungsian hingga kondisi Yalimo kembali kondusif. **














