Koalisi Kampus Luncurkan Buku Hasil Riset di Tiga Kampung

Foto bersama tim peneliti dan pembedah dalam acara launching buku oleh Koalisi Kampus di Abepura. (Foto : Faisal Narwawan)

Oleh: Faisal Narwawan|

PAPUAInside.id, JAYAPURA— Satu tahun lamanya, Koalisi Kampus untuk Demokrasi Papua melakukan riset mengenai manajemen pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) hutan dan pesisir di Papua. Fokusnya pada akses masyarakat adat dan secara khusus perempuan adat dalam politik pengelolaan alam.

Ada tiga  kabupaten yang menjadi objek riset, yakni Kabupaten Jayapura bertempat di Kampung Kendate, Supiori di Kampung Rayori dan Boven Digoel di Kampung Aiwat.

“Ketiganya dipilih karena dinilai merepresentasikan masyarakat adat yang memiliki sumber daya hutan dan pesisir di Papua,” kata Sekretaris Koalisi Kampus Untuk Demokrasi Papua, Elvira Rumkabu di sela-sela kegiatan tersebut, Rabu (15/02/2023).

Disampaikan, kampung-kampung itu memiliki karakter sosial budaya yang khas dan memberikan kesempatan untuk melihat ragam kasus pengelolaan SDA secara lebih mendalam serta memungkinkan untuk melakukan studi perbandingan  ke depannya.

Hasil dari riset tersebut dipublikasikan dalam bentuk 3 buku dan film dokumenter yang dilaunching di Suni Hotel dan Convention, Abepura, Rabu (15/2/2023).

Kegiatan berthemakan  “Merebut Kendali Kehidupan, refleksi perubahan dan siasat masyarakat adat”.

Lebih lanjut kata Elvira Rumkabu, buku yang dibuat tak terlepas dari pertanyaan besar banyaknya regulasi keputusan -keputusan pemerintah yang mengatakan pembangunan berbasis masyarakat adat.

“Tapi kita lihat pendekatannya berbasis wilayah dan tak melihat karakteristik budaya. Sehingga kita mau sampaikan, kalau mau membangun mari kita pahami budaya masyarakat, karakteristik mereka. Sehingga kalau mau ada intervensi kebijakan harus betul -betul melihat lokalitas dari masyarakat adat,” tegasnya.

Ketiga buku yang ada tersebut juga merupakan potret masyarakat dari bawah di tiga kampung. Hal itu penting karena dapat mengetahui respon masyarakat terhadap intervensi pembangunan yang masuk.

Adapun tiga buku yang diluncurkan yaitu, Geliat Kampung Tersembunyi: Siasat Penghidupan dan Perubahan di Teluk Demenggong, Jayapura. Merebut Kendali Kehidupan: Perjuangan Orang Wambon di Boven Digoel Menghadapi Serbuan Investasi. Dan Bayang-bayang Kerentanan: Tantangan Penghidupan Orang Sowek di Supiori.

“Masing-masing tiga lokasi ini punya temuan berbeda misalnya di Supiori di Kampung Rayori  kami melihat ada kerentanan pangan, perubahan ekologis, kasus-kasus gizi buruk dan stunting kita temukan yang menurut kita sangat mengganggu gizi buruk di atas kelimpahan ikan,” katanya.

Pihaknya pun mengharapkan harus  lebih banyak advokasi kebijakan berdasarkan data.

Untuk peluncuran film dokumenter, diangkat tentang Perempuan Wambon di Kampung Aiwat dan Siasat Penghidupannya di tengah serbuan investasi.

Kegiatan ini diawali dengan Orasi Budaya “Merebut Kendali Kehidupan” oleh Dr. Benny Giay.

Dilanjutkan dengan Cerita Dari Kampung oleh Ibrahim Waisamon (Kepala Kampung Kendate, Filep Manufandu (Kepala Kampung Rayori) dan Pius Kanduga (Kepala Kampung Aiwat).

Dihadirkan juga tim peneliti lainnya selain Elvira Rumkabu, yaitu Apriani Anastasia Amenes, Asrida Elisabeth, I Ngurah Suryawan.

Juga menghadirkan Pembedah yakni, Naomi Marasian (Direktur Pt. PPMA), Yan Yap Ormuseray (Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua), John N.R. Gobay (Ketua Kelompok Khusus/POKSUS, DPR Papua), Wika Rumbiak (Manajer Program Papua, WWF Indonesia) dan Haris Azhar (Pendiri Lokataru) – yang hadir via zoom. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *