Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Ketergantungan pada beras mengancam budaya, kesehatan, dan hubungan masyarakat Papua dengan pangan lokal serta hutan yang menopang kehidupan mereka.
Hal ini ditegaskan Nokeners Mamta, Augustha Kopeuw, dalam pemaparan kegiatan Menoken tentang Melestarikan Alam bertajuk “Isi Noken Mama, Pangan Lokal dan Puisi” pada peringatan Hari Noken dan Hari Ibu 2025 di Café Isasai, Waena, Kota Jayapura, Sabtu (20/12/2025).
Kegiatan ini didukung Yayasan Menoken Membumi Membumma (Y3M) dan Balai Pelindungan Kebudayaan Wilayah XXII Papua.
Augustha menekankan pentingnya pangan lokal seperti sagu, papeda, keladi, dan ubi.
“Yang dirusak duluan itu mindset, bahwa hanyalah beras makanan yang paling luar biasa. Tapi sekarang yang muda-muda pun banyak yang sakit gula,” ujarnya.
Ia menambahkan, noken bukan sekadar tas tradisional, tapi simbol kerja keras mama-mama Papua dan hubungan manusia dengan alam. “Kalau bahan-bahan alam untuk membuat noken habis, bagaimana kita bertahan?”
Augustha menegaskan bahwa melestarikan noken mama dan pangan lokal berarti menjaga budaya dan ekosistem hidup masyarakat Papua. **














