Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Chef Internasional asal Papua, Charles Toto, menegaskan bahwa kedaulatan pangan Papua hanya dapat terjaga jika wilayah adat sebagai sumber pangan dilindungi dan dikelola oleh masyarakat adat sendiri.
“Pangan lokal bukan hanya soal makan, tapi pengetahuan dan cara orang Papua bertahan hidup,” ujar Charles Toto dalam acara menoken Isi Noken Mama, Pangan Lokal dan Puisi pada peringatan Hari Noken dan Hari Ibu 2025 di Café Isasai, Gelanggang Remaja, Waena, Kota Jayapura, Sabtu (20/12/2025).
Acara ini adalah kolaborasi Yayasan Menoken Membumi Membumma (Y3M) bersama Balai Perlindungan Kebudayaan Wilayah XXII Papua.
Menurut Charles, hutan adat selama ini menjadi “pasar” bagi orang Papua. Dari sanalah masyarakat mengolah sagu, ikan, dan berbagai hasil hutan. Praktik pengolahan tradisional itu masih bertahan di sejumlah wilayah, seperti pembuatan garam dari sumber air pegunungan di Wamena serta dari daun plagellaria indica di wilayah selatan Papua.
Charles menilai melemahnya perlindungan wilayah adat telah berdampak langsung pada hilangnya ruang produksi pangan kampung.
Karena itu, tuturnya, penguatan kembali hutan dan dapur kampung harus berjalan seiring dengan perlindungan wilayah adat sebagai fondasi kedaulatan pangan dan kesehatan masyarakat.
“Kalau wilayah adat terjaga, dapur kampung hidup, dan identitas orang Papua tetap utuh,” ujarnya.**














