Kadis Kehutanan dan LH Papua: Banjir Keerom Tak Terkait Langsung Dengan HPH

Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua, Jan Jap Ormuseray. (Foto : Faisal Narwawan)

Oleh: Faisal Narwawan|

PAPUAinside.com, JAYAPURA – Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua Jap Ormuseray  mengungkapkan berdasarkan data dan fakta banjir Keerom saat ini tak berkaitan langsung dengan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) di Kabupaten tersebut.

Menurutnya, dari tiga perusahaan yang ada di Keerom (PT. Batasan, PT. Hanurata dan PT. Semarak) tak secara langsung berkontribusi terjadinya bencana banjir yang melanda 3 distrik di wilayah itu.

Namun, perambahan hutan mungkin saja berkontribusi dengan bencana tersebut.

‘’Tetapi tak bisa dipungkiri aktifitas perambahan mungkin bisa saja berpegaruh dan adanya pembukaan lahan untuk kepentingan lain, investasi di sektor lain ini yang mungkin berkontribusi. Secara teknis kami sudah melihat aliran sungai di Keerom dengan 3 perusahaan ini sama sekali tak berhubungan langsung,” jelasnya.

Wakil Bupati Keerom sekaligus Bupati terpilih Piter Gusbager. (Foto : Faisal Narwawan)

Kedepan, sejalan program Wakil Bupati Keerom untuk rehabilitasi dan reboisasi pohon terutama penanaman pohon MPTS (Multipurpose Tree Species) yang memiliki beragam fungsi terus digiatkan.

“Selama ini penanaman pohon MPTS ini sudah dilakukan melalui Dinas Kehutan Keerom. Dengan bencana banjir penanaman ini akan terus kami lakukan dengan menambah rehabilitas hutan dan lahan di Keerom,” ucapnya panjang lebar.

Dalam data peta aliran sungai  yang diperlihatkan kepada wartawan, ke tiga perusahaan tersebut memang tak berkaitan langsung dengan aliran sungai yang meluap.

Di Arso sendiri banyak terdapat sungai-sungai yang alirannya menuju ke satu sungai yakni Muara Tami.

Dijelaskan juga mengenai outlet (titik tuang) sungai yang bisa saja terbatas sehingga terjadi genangan di Wilayah Arso. Pihaknya masih terus melakukan kajian tentang hal ini.

“Artinya kalau kita lihat aliran sungai dan beberapa perusahaan kayu di sini, tidak memberi kontribusi langsung untuk bencana banjir, karena PT. Semarak contohnya ia kelolah di selatan dan masih ada hutan lindung afiar di tengah yang membatasi atau menyangga.

Wakil Bupati Keerom Piter Gusbager sekaligus Bupati terpilih Kabupaten Keerom juga mengungkapkan, intensitas hujan saat ini terdapat anomali atau cuaca tak biasanya yang melanda di Keerom.

“Hujan kali ini sedikit berbeda. Saya percaya perubahan iklim global mungkin berkontribusi, lalu tutupan lahan dan drainase kita buruk, dari dulu,” ucapnya lagi.

Ia juga mengakui terdapat perambahan hutan di Keerom.

“Untuk itu saya sudah perintahkan dinas terkait agar sepanjang Sungai besar ini tak boleh ada aktifitas. Sepanjang jalan Trans Papua dari Abe ke Kerom juga harus tak boleh ada perambahan,” tegasya.

Selain itu, pihaknya akan melakukan pengecekan outlet aliran sungai di Bendungan Muaratami.

“Kalau aliran ini tersumbat maka sungai tami meluap dan juga lainnya. Apa lagi kita lihat ada Daerah Aliran Sungai (DAS) dan sub DAS yang mengakibatkan aliran kembali ke dataran Arso,” katanya.

Pihaknya juga ingin memastikan, daerah hutan lindung dan daerah penyangga tak ada aktifitas sehingga tak memperparah.

“Hutan lindung kalau aman semua akan berjalan baik namun ini ada anomali curah hujan yang tak seperti biasanya,” tutup bupati terpilih ini. **