Jadi Pembicara PMUN di Merauke, Muhsin Syihab: Diplomasi Indonesia Membanggakan

Staf Ahli Menteri luar Negeri Bidang Hubungan Antarlembaga, Muhsin Syihab saat menjadi pembicara dalam kegiatan Papua Model United Nation di Merauke, Papua Selatan. (foto: istimewa)

PAPUAInside.id, MERAUKE— Staf Ahli Menteri luar Negeri Bidang Hubungan Antarlembaga, Muhsin Syihab saat menjadi pembicara dalam kegiatan Papua Model United Nation menyampaikan pentingnya mengenal diplomasi yang bisa dilakukan oleh semua pihak seperti  seniman, olahragawan, pelaku bisnis, politisi serta pemuda.

‘’Semua pihak bisa melakukan aktivitas diplomasi seperti seniman, olahragawa, pemuda seperti anda juga bisa melakukannya,’’ ujarnya di hadapan 200 Pemuda Papua Selatan yang mengikuti kegiatan PMUN, Jumat (26/10/2023) di salah satu hotel di Merauke.

Dikatakan Muhsin, Indonesia punya modal diplomasi yang sangat besar dari dulu hingga saat ini. Bahkan, saat ini bonus demografi, potensi alam, dan status Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar nomor tiga dunia menjadi bagian dari modal diplomasi yang harus diapresiasi.

“Salah satu bukti sebagai negara demokrasi dunia adalah keikutsertaan dalam pesta demokrasi yang berlangsung di Pemilu kita (pada tahun 2019) hampir 81%. Padahal di AS, keikutsertaan pemilih hanya sekitar 60% saja,” tambah Muhsin. Dengan sejumlah indikator baik itu, tambah Muhsin, menjadikan Indonesia bukanlah sebuah ancaman bagi kawasan dan dunia, bahkan diandalkan dan sebagai ‘penyuara’ dan jembatan untuk kebaikan negara lain.

Pengalaman keberhasilan diplomasi Indonesia, kata Muhsin, telah tercatat di tinta emas sejak usia Indonesia masih belia. “Satu dekade setelah Indonesia merdeka, Bung Karno telah menancapkan peran diplomasi Indonesia dengan menjadi motor dan bidan lahirnya KTT Asia Afrika. Aksi ini menjadikan nama Indonesia dan Bung Karno sampai saat ini masih harum di sejumlah negara di Asia dan Afrika. Begitupun aksi diplomasi Indonesia yang lain, seperti lahirnya ASEAN, dan lain sebagianya, hingga yang terbaru menjadi presidensi G20,” ujarnya sembari menyebutkan penghargaan dari sejumlah dengan menjadikan nama Soekarno, Suharto, Joko Widodo, Ali Alatas dan lain-lain sebagai nama jalan di sejumlah negara.

Muhsin berpesan, disamping keberhasilan diplomasi, ada sejumlah tantangan dan tentu harapan yang harus dipersiapkan oleh masyarakat Indonesia. “Tanamkan diri kita sebagai warga dunia, global citizenship. Untuk hal itu perlu persiapkan. Kegiatan ini bagian dari upaya membuka diri masuk dalam warga dunia. Khususnya menyambut  Indonesia emas di Tahun 2045,” pungkas Muhsin

Dalam kesempatan tersebut, Muhsin juga menyemangati pemuda Papua Selatan yang meskipun jauh dari dari pusat ibu kota negara namun memiliki potensi dan kesempatan yang sama dalam berjuang meraih cita-cita.

“Saya lahir dan besar dari kampung kecil di Sumenep – Madura yang kondisinya seperti Merauke. Tapi saya bisa menempuh pendidikan ke UGM – Jogja, lanjut ke Jepang dan Oxford University di Inggris. Ini saya sampaikan untuk memberikan semangat kepada adik-adik bahwa kita itu semua sama dan bisa kalau mau berjuang untuk mencapai cita-cita,” tegas Muhsin yang pernah menjadi Deputi Wakil Tetap RI/Duta Besar Indonesia Untuk Dewan Keamanan PBB (2019-2020).

Pembicara lain Swary Utami yang berasal dari Dayak Kalimantan Timur menyampaikan bahwa dirinya berasal juga dari pedalaman, namun karena adanya kemauan ia bisa tembus kuliah di UI dan Monash University – Australia. “Saya selalu meyakinkan anak daerah untuk mau berjuang. Saya yakin adik-adik di Papua Selatan juga mampu berkontribusi bagi dunia,” tegasnya dihadapan sekitar 200 peserta. **

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *