Ini Peran Kapolda Papua di Film “Si Tikam Polisi Noken”

Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw memerankan seorang Pendeta saat pengambilan gambar film Si Tikam Polisi Noken di Mapolres Jayapura di Jalan Raya Sentani Hawai, Doyo Lama, Waibu, Jayapura, Papua, Minggu (07/02/2021). (Foto: Dok/Humas Polda Papua)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.com, SENTANI—Kapolda Papua Irjen Pol Paulus Waterpauw di film layar lebar “Si Tikam Polisi Noken” berperan sebagai seorang Pendeta atau Hamba Tuhan, yang mendamaikan pertikaian antara Suku Waro dan Suku Bolakma di Kabupaten Puncak Cartenz, Provinsi Papua.

Kapolda Papua nampak begitu menjiwai perannya sebagai seorang pendeta, saat pengambilan gambar dan video film si tikam polisi noken di Mapolres Jayapura di Jalan Raya Sentani Hawai, Doyo Lama, Waibu, Jayapura, Papua, Minggu (07/02/2021).

Ia mengatakan, hari ini dirinya  berperan sebagai pendeta yang bertugas menyelesaikan masalah adat di Pegunungan Tengah Papua melalui arahan dan doa bersama Forkopimda kabupaten Puncak Cartenz, Bupati Puncak Cartenz, Dandim Puncak Cartenz dan Kapolres Puncak Cartenz serta melibatkan PJU Polda Papua dan Kodam XVII/Cenderawasih.

Menurutnya, film si tikam polisi noken mengangkat sebuah tradisi atau budaya yang memang sering terjadi konflik antara saudara-saudara di pedalaman Papua, yang menelan banyak korban jiwa.

“Tapi  Puji Tuhan sudah bisa diselesaikan dan kehadiran pendeta bersama Forkopimda Puncak Cartenz juga berperan dalam menyelesaikan dan mendamaikan permasalahan tersebut,” ujarnya.

Dikatakan permasalahan tersebut diselesaikan melalui prosesi patah panah dan pengakuan kedua belah pihak, untuk berdamai hingga rangkaian adat, seperti bakar batu dan denda adat dari kedua belah pihak yang bertikai.

Hadirnya polisi tikam merupakan sosok anggota Polri yang bertugas sebagai juru bahasa, guna meyakinkan salah satu dari suku yang bertikai.

“Disini kita hanya mengasumsikan nama suku yang bertikai yakni suku Waro dan suku Bolakma,” katanya.

Pengarapan film ini sendiri melibatkan tenaga profesional dari Jakarta dengan perlengkapan peralatan yang sangat baik dan canggih.

“Semoga film si tikam polisi noken ini dapat menyampaikan pesan-pesan yang erat akan budaya dan tradisi serta kehadiran sosok polisi di tengah masyarakat dalam menyelesaikan berbagai konflik yang terjadi di Puncak Cartenz,” ungkapnya.

Ia mendapatkan kesan selama mengikuti proses pembuatan film ini ternyata tak mudah dan membutuhkan perjuangan ekstra dan sikap profesional dari para pemain dan kru pendukung.

Namun, ia salut dan mengapresisasi segala upaya dalam proses pembuatan film si tikam polisi noken ini yang tak lain juga bertujuan untuk membakar semangat generasi muda Papua bahwa mereka juga bisa menggali potensi yang ada pada diri sendiri, dengan menjadi abdi negara.

Libatan 600 Pemain

Sementara itu, Karo SDM Polda Papua Kombes Pol Ade Djadja Subagja, SIK mengatakan film  si tikam polisi noken yang disutradarainya meliputi dua episode dan berjumlah 71 tuksin. Saat ini sudah selesai 45 tuksin mengambil lokasi shooting di Kota Jayapura dan kabupaten Jayapura.

“Jadi kurang lebih hampir dua atau tiga hari lagi kita laksanakan shooting. Tapi Puji Tuhan shooting hari ini adalah ending dari film si tikam polisi noken yakni penyelesaian atau perdamaian antara suku atau adat dengan cara patah panah,” tuturnya.

Namun, kata dia, kalau melihat kenyataan pada pelaksanaan shooting sebenarnya belum selesai, karena memang pihaknya sengaja, agar penonton menjadi penasaran.

“Jadi tak sampai selesai, dimana patah panah cut nanti untuk lanjutanya episode kedua film si tikam polisi noken, yang rencananya kita akan main di laut, karena episode pertama baik laga maupun action hampir 80 persen dilakukan di hutan,” terangnya.

Menurutnya, pihaknya menargetkan pembuatan film si tikam polisi noken selama enam bulan. Tapi agak molor, karena terpotong Pilkada dan pandemi Covid-19.

Ia merencanakan film si tikan polisi noken diluncurkan pada akhir Pebruari 2021. Pasalnya, tantangan terberat dalam pembuatan film ini yakni pada pra produksi, akibat pelbagai kesibukan dan rekrutmen para pemain yang melibatkan banyak orang sekitar 600 orang.

Disamping itu, para pemain pun diwajibkan melakukan swab antigen, untuk mencegah penularan Covid-19. **