Indeks Kualitas Air Kota Jayapura Alami Penurunan

Kualitas air di Kali Acai yang menjadi titik pantau kualitas air di Kota Jayapura. (Foto: Faisal Narwawan/Papuainside.id)

Oleh: Faisal Narwawan  I

PAPUAinside. id, JAYAPURA—Indeks Kualitas Air  (IKA) di Kota Jayapura mengalami penurunan.  Tercatat, IKA di Kota Jayapura sebesar 45.56 atau kurang dari target yaitu senilai 53, 83.

Data tersebut  sesuai hasil uji kualitas air di Kali Acai yang menjadi titik pantau kualitas air di Kota Jayapura.

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup (DKLH) Provinsi Papua Jan Jap Ormuseray dalam sambutan pembukanya pada acara Bimtek Perhitungan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) di Provinsi Papua yang diselenggarakan DKLH Provinsi Papua, Selasa (8/8/2023) pagi.

Ia menjelaskan, IKLH adalah instrumen yang digunakan untuk mengukur dan memberikan nilai terhadap baik buruknya kualitas lingkungan hidup.

Beberapa parameter  disebutkan melebihi baku mutu yang mempengaruhi secara keseluruhan kualitas air di Kota Jayapura.

“Jadi memang terjadi pencemaran di kali Acai yang berdampak hingga Teluk Youtefa, ” kata Jan Jap Ormuseray kepada wartawan, Selasa (8/8/2023).

Tidak hanya itu, Kali Acai  bermuara ke Teluk Youtefa yang menyimpan cukup banyak potensi mangrove dan biota laut tentu juga sangat tergangganggu.

“Masyarakat lokal suka cari ikan, hidup dari teluk ini. Sehingga apa yang terjadi tentu berpengaruh dan berdampak bagi kesehatan masyarakat. Sehingga IKLH ini penting untuk langkah pengendalian, ” katanya lagi.

Ia mengakui, kondisi Kali Acai dibiarkan tanpa ada dukungan dan upaya untuk mengendalikan potensi pencemaran terhadap kali tersebut.

“Maka sudah tentu berdampak bagi kualitas air laut di Youtefa yang menjadi lokasi pemantauan secara rutin oleh Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, ” tambahnya.

Dilain sisi menurutnya, beberapa upaya pengendalian potensi pencemaran di kali Acai maupun Teluk Youtefa terus menjadi perhatian pemerintah Provinsi Papua dan Pemerintah Kota Jayapura.

“Diantaranya dengan kegiatan susur dan bersih sungai bersama stakeholder dan juga pemulihan kawasan mangrove dan pembersihan garis pantai di Hamadi,” ujarnya.

Selain itu, dalam rangka meningkatkan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup juga telah mencanangkan penanaman bambu di di Kawasan Peyangga Cycloop.

Upaya ini diharapkan merangsang semua pihak untuk terlibat menciptakan kondisi lingkungan hidup yang lebih baik.

Sehingga memberikan manfaat dalam rangka meningkatkan indeks Kualitas Lingkungan Hidup di Papua.

Dari kondisi ini, diperlukan tim pelaksana IKLH di Provinsi hingga Kabupaten Kota yang berkompeten. Memiliki keahlian dalam kemampuan merencanakan target dan penghitungan IKLH. Sehingga diharapkan dapat menjawab permasalahan di Kabupaten/Kota.

Diketahui, pada 2022 Indeks Lingkungan Hidup Papua berada di atas indeks yang menjadi target.

Sesuai raport pada Aplikasi IKLH Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup adalah sebagai berikut :

Pertama, Indeks Kualitas Air berada pada angka 55,07 (kategori sedang) dari target 55,1. Kedua, Indeks Kualitas Udara (IKU) 95,32 (sangat baik) dari target 91,73. Ketiga, Indeks Kualitas Lahan sangat baik nilainya 100 dari target 96, 25. Dan Indeks Kualitas Laut berada pada 87, 29 (kategori baik) dari target 80,02.

Dari data ini diperoleh nilai IKLH Provinsi Papua 2022 sebesar 81.46 dari target 78,74. Dan menempati tingkat nasional kedua dari 34 provinsi (sebelum pemekaran). **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *