Harga Bersaing, Bupati Jayawijaya Ajak Petani Buka Kembali Perkebunan Kopi

Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua SE, MSi, melihat dari dekat tanaman kopi jenis Arabika Wamena di Kampung Perabaga, Distrik Piramid, Kabupaten Jayawijaya. (Foto: Vina Rumbewas/Papuainside.com)

Oleh : Vina Rumbewas  I

PAPUAinside.com, WAMENA—Kopi Arabika Wamena, kini telah memiliki lebel atau brand resmi yang telah dikeluarkan Kementerian Hukum dan HAM.

Dengan memiliki brand sendiri Pemkab Jayawijaya mendapatkan kemudahan, untuk mengatur harga dasar kopi yang tentu akan menguntungkan para petani kopi.

Bupati Jayawijaya Jhon Richard Banua SE, MSi, saat penanaman 15 ribu bibit kopi di Kampung Perabaga, Distrik Piramid, Kabupaten Jayawijaya, Selasa (24/11/2020), mengatakan, dengan adanya ijin penetapan harga kopi Wamena yang langsung dikeluarkan oleh kementerian,  maka  Pemkab Jayawijaya melalui dinas terkait sedang mengatur standar harga kopi Wamena.

“Penetapan harga ini penting, jangan sampai ada petani yang jual dengan harga 50 ribu atau 70 ribu, ini yang kita jaga supaya harganya bisa merata. Kalau harga bagus tentu masyarakat akan semangat membuka kembali lahan perkebunannya,” ungkap Bupati Banua.

Menurutnya, saat ini harga biji kopi Arabika Wamena mencapai Rp 110 ribu perkilo, jika dibeli langsung dari petani. Harga ini belum termasuk harga yang ditentukan oleh pemerintah, karena harga standar kopi yang akan dikeluarkan pemerintah masih dalam proses penetapan.

Sehingga nantinya dengan lahan yang luas serta jumlah panen yang melimpah, tentu akan menguntungkan para petani.

“Dengan harga yang akan kami tetapkan nanti diharapkan memotivasi petani kopi lainnya untuk kembali membuka lahan-lahan perkebunan kopi, karena kopi merupakan sumber daya kita yang potensial dibidang ekonomi,” ujarnya.

Masih lanjut bupati, di kota-kota besar seperti Jakarta banyak yang menjual kopi Wamena, bahkan berton-ton, namun banyak yang palsu.

“Di Jakarta banyak yang menjual kopi yang katanya kopi Wamena, tapi kita tahu produksi kita disini seperti apa. Jadi jangan namakan kopi Wamena padahal isinya bukan kopi Wamena,” katanya. **