Oleh: Ignas Doy I
PAPUAInside.com, JAYAPURA—Jumlah kumulatif pasien positif Coronavirus Disease 2019 atau Covid-19 di Provinsi Papua hingga Minggu (17/05/2020) pukul 18.00 WIT mengalami lonjakan tajam. Bahkan hanya berselang sehari. Pasalnya, jumlah kumulatif pasien positif Covid-19 menjadi 436 kasus atau bertambah lagi 74 kasus baru dibanding sehari sebelumnya 362 kasus.
Juru Bicara Satgas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua, dr. Silwanus Sumule, Sp.OG (K) ketika menyampaikan keterangan pers secara virtual dari Media Center Satgas Covid-19 Provinsi Papua, Minggu (17/05/2020) mengatakan, dari 435 kasus tersebut dirawat 323 orang (74 %), sembuh 106 orang (24 %) dan meninggal 7 orang (2 %).
Dikatakan Silwanus, penambahan 74 kasus baru itu masing-masing kota Jayapura 36 kasus, Mimika 32 kasus, Boven Digoel 5 kasus dan Merauke 1 kasus.
Sementara itu, Orang Dalam Pemantauan (ODP) 2886, Pasien Dalam Pengawasan (PDP) 486 dan tes Polymerase Chain Reaction (PCR) 2959 sampel.
Menurut Silwanus, peningkatan ini juga mengindikasikan masih lemahnya kesadaran warga melaksanakan protokoler kesehatan, yang dianjurkan pemerintah, seperti pemgatasan sosial atau social distancing, jaga jarak atau physical distancing, cuci tangan dengan sabun pada air mengalir dan memakai masker.
Oleh karena itu, tuturnya, ia mendukung kebijakan Pemkot Jayapura membatasi aktivitas warga hingga pukul 14.00 WIT setiap hari.
“Hal ini dilakukan agar virus Covid-19 tak bergerak. Saat orang tak bergerak, maka virus pun tak berpindah,” tukasnya.
Dijelaskannya, Satgas Pencegahan dan Penanganan Covid-19 Provinsi Papua juga telah memutuskan RS Jiwa Abepura, untuk ikut melayani pasien Covid-19, meski tak ada kasus kejiwaan.
Sedangkan untuk warga yang telah melaksanakan Rapid Test dan hasilnya positif Covid-19 akan dikarantina di Diklat Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Papua, Kotaraja Dalam dan Balai Latihan Kesehatan (Balatkes) Papua di Padang Bulan.
Dikatakannya, pihaknya juga segera berkoordinasi dengan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Papua, untuk menyiapkan tenaga dokter yang nantinya bergerak dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain, seperti dokter spesialis paru, anastesi, penyakit dalam dan kandungan.
“Kami juga menyiapkan alat kesehatan yang bisa berpindah tempat, seperti ventilator atau alat bantu pernapasan dan HEPA Filter,” terangnya. **













