Guru adalah Pekerja Kemanusiaan Jangan Dituding sebagai Mata-mata

Jenazah Oktovianus Rayo dan Yonatan Renden saat tiba di Bandara Moses Kilangin Timika dan siap dibawa ambulance ke RSUD Timika untuk pemulasaran. (foto: Saldi Hermanto)

PAPUAInside.com, JAYAPURA— Guru yang bekerja dipedalaman adalah pekerja kemanusiaan sehingga jangan ada tudingan atau spekulasi bahwa mereka juga melakukan pekerjaan mata-mata atau intelijen sehingga dengan alasan itu bisa dibunuh.

‘’Sangat keji jika ada tudingan guru yang ditembak di Beoga memiliki pistol sehingga bisa dianggap sebagai mata-mata atau intel. Tudingan ini harus ada bukti tidak hanya spekulasi yang bisa mengancam keamanan seluruh pekerja kemanusiaan yang ada di sana,’’ terang Kepala Perwakilan Komas HAM Papua, Friets Ramandey saat dihubungi di Jayapura, Sabtu (10/04/2021).

Guru tidak membawa pistol tetapi membawa pensil alat tulis, perlengkapan peralatan lainnya untuk mengajar generasi penerus yang ada di sana.

‘’Kalau ada dugaan atau kecurigaan kan bisa diklarifikasi, ada kepala sekolah, ada kepala suku, tokoh-tokoh masyarakat dan adat dalam kampung. Karena jika tudingan tanpa pembuktian bisa mengancam keamanan siapa saja yang datang bekerja di sana,’’ tegasnya.

Guru yang ada di Beoga, mereka datang membantu pemerintah untuk mengatasi masalah Pendidikan. ‘’Guru datang karena pemerintah Puncak membuka lowongan, mereka kemudian bekerja untuk memenuhi kebutuhan pendidikan di sana, sehingga tudingan-tudingan harus disertai dengan bukti,’’ jelasnya.

Jangan juga langsung dituding sebagai mata-mata jika guru sering didatangi Polisi atau tentara karena  keberadaan mereka di sana untuk kemanusiaan.

Kepada pemerintah daerah Puncak agar memberikan rasa aman kepada para guru, medis dan pekerja kemanusiaan lainnya yang ada di sana, karena mereka datang untuk membantu pemerintah mengatasi masalah yang ada dalam masyarakat terutama pendidikan dan kesehatan. **