Gubernur Enembe Sebut LDII Mitra Pemerintah Membangun Tanah Papua

Upacara pembukaan Muswil VI LDII Provinsi Papua tahun 2020 diawali tabuh tifa di Grand Abe Hotel, Abepura. (Foto: Dok/LDII Papua)

Oleh: Makawaru da Cunha  I  

PAPUAinside.com, JAYAPURA—Gubernur Papua Lukas Enembe, yang diwakili Staf Ahli Gubernur Bidang Kemasyarakatan dan SDM Provinsi Papua, Elsye Penina Rumbekwan, secara resmi membuka Musyawarah Wilayah (Muswil) VI Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Provinsi Papua tahun 2020 di Grand Abe Hotel, Abepura, Senin (19/10/2020).

Elsye Penina Rumbekwan didaulat menabuh Tifa, didampingi Ketua Umum DPP LDII Ir. H. Chriswanto Santoso, MSc, Ketua DPW LDII Papua, H. Winoto, MPd, Ketua Panitia Muswil VI LDII Papua Sugiyono dan seluruh jajarannya serta pengurus DPW LDII Papua.

Turut hadir Dewan Penasehat Daerah LDII Kabupaten/Kota Se Papua, Pimpinan DPD LDII Kabupaten/Kota Se Papua dan Pimpinan Pondok Pesantren, Pondok Pesantren Pelajar dan Mahasiswa Binaan LDII Se Papua serta tamu undangan.

Muswil VI LDII Papua  juga dilaksanakan secara virtual dengan metode teleconference melalui aplikasi zoom meeting.

Pilih Ketua DPW LDII Papua

Elsye Penina Rumbekwan yang membacakan sambutan Gubernur Papua, mengatakan sebuah organisasi kemasyarakatan yang baik, maju dan berkembang wajib menjalankan hak dan kewajibannya, sebagaimana yang diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan dan yang diamanatkan dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga organisasi masing- masing, seperti Muswil VI yang diselenggarakan LDII Papua ini.

Dalam konteks ini, ujar Gubernur, pihaknya patut memberikan apresiasi kepada LDII Papua, karena pada kondisi pandemi Covid-19 ini mampu melaksanakan Muswil, yang salah satunya akan menetapkan program kerja untuk 5 (lima) tahun kedepan dan memilih Ketua DPW LDII Papua masa bakti 2020-2025.

“Ini merupakan hal yang sangat strategis dan terpenting dalam kehidupan organisasi,” ucapnya.

Gubernur menyebutkan, kalau menyimak laporan Ketua Panitia dan sambutan Ketua DPW LDII Provinsi Papua, LDII Papua ini telah esksis yang mampu membangun dan membina warganya dengan baik, sehingga dapat menjadi mitra pemerintah, untuk membangun Tanah Papua bersama Ormas Islam lainnya, seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, dan juga ormas-ormas keagamaan lainnya.

Hal ini perlu disampaikan, karena sejalan dengan tema Muswil VI LDII Papua tahun 2020, yakni Kontribusi Berkelanjutan LDII Papua dalam Membangun Bangsa Berakhlakul Karimah dan Profesional Religius Guna Mewujudkan Papua Bangkit, Mandiri, Sejahtera yang Berkeadilan Menuju Indonesia Maju.

Menurut Gubernur, Pemerintah Provinsi Papua sedang giat melaksanakan pembangunan, yakni upaya pemenuhan hak dasar Orang Asli Papua (OAP) untuk memperoleh pendidikan dasar 9 tahun, perbaikan generasi penerus Papua dan kekuatan ekonomi lokal, yang bertumpu pada potensi sumber daya lokal dan kampung yang ramah terhadap budaya Papua serta didukung tata kelola pemerintahan yang baik dalam rangka Papua Bangkit, Mandiri, dan Sejahtera yang Berkeadilan.

“Program ini harus disukseskan bukan saja oleh pemerintah daerah, tapi peran serta organisasi kemasyarakatan termasuk LDII Papua dan Ormas lainnya, untuk berperan serta mewujudkannya,” katanya.

Hal ini penting, ungkapnya, karena pemerintah daerah sadar, bahwa dalam membangun Papua yang sangat luas tanpa peran serta masyarakat luas, termasuk didalamnya ormas yang bernuansa keagamaan, maka tak akan memberikan hasil yang optimal.

Delapan Klaster LDII

Sementara itu,  Ketua Umum DPP LDII Ir. H. Chriswanto Santoso, MSc mengatakan tantangan yang dihadapi oleh negara Indonesia tentu juga merupakan tantangan LDII, karena LDII adalah bagian integral dari negara ini.

Selama ini jajaran  dan  pimpinan LDII telah mengupayakan, agar organisasi ini berpartisipasi aktif dalam pembangunan di Indonesia, bukan saja pada klaster atau bidang keagamaan dan dakwah saja yang menjadi ruang lingkupnya (core competence-nya), tapi juga merambah ke delapan klaster LDII yaitu keagamaan, kebangsaan, ekonomi, pendidikan, teknologi digital, kesehatan, energi, dan pangan.

Pertama, pada bidang keagamaan, LDII terus mengupayakan, agar dakwah Islam merupakan hak setiap umat Islam. Dengan demikian, LDII perlu memberi perhatian kepada kelompok-kelompok masyarakat marjinal yang selama ini kurang diperhatikan, seperti masyarakat di daerah terpencil dan perbatasan, penderita tuna rungu dan disabilitas lainnya, penderita kusta, dan narapidana.

Kedua, pada bidang kebangsaan, LDII akan terus mengupayakan bahwa Bahasa Indonesia merupakan aset pemersatu bangsa. Oleh karena itu, Bahasa Indonesia perlu terus dibina dan dikembangkan.

Ketiga, pada bidang pendidikan, LDII akan terus membantu pemerintah dalam membangun sistem pendidikan yang fokus pada pendidikan karakter atau profesional religius, yang mengkombinasikan moral character dan performance character yang bersumber dari ajaran agama Islam dan nilai-nilai luhur Bangsa Indonesia.

“Insya Allah dalam waktu dekat LDII akan segera melaunching  platform pendidikan yang diberi nama Pondok Karakter,” tambahnya.

Keempat, pada bidang kesehatan, LDII akan terus mendorong program- program pemerintah dalam penggunaan obat herbal, berdampingan dengan penggunaan obat konvensional, sehingga obat herbal bukan sebagai pelengkap, melainkan menjadi obat yang memiliki khasiat tersendiri.

Kelima, pada bidang energi baru dan terbarukan, LDII akan terus mendorong agar energi baru dan terbarukan ini dapat terus dikembangkan dan dimanfaatkan, mengingat potensinya yang sungguh sangat massif di Indonesia, dan hingga saat ini masih kurang dioptimalkan.

Keenam, pada bidang perekonomian, LDII akan terus mendorong bahwa perekonomian seyogyanya disusun sebagai usaha bersama berdasar asas kekeluargaan yang dapat diwujudkan melalui pengembangan ekonomi syariah, yang lebih menekankan kerjasama, bukan melulu persaingan bebas dalam mekanisme ekonomi pasar.

Ketujuh, pada bidang penggunaan teknologi digital yang di Indonesia sangat massif dewasa ini, menjangkau seluruh lapisan masyarakat, maka LDII akan terus mengupayakan agar penggunaan teknologi digital hendaknya lebih diarahkan pada hal-hal yang sifatnya produktif dan positif, bukan hanya pada yang konsumtif.

“Dengan demikian, sisi negatif dari teknologi digital ini dapat dieliminir,” tuturnya.

Kedelapan, pada bidang pangan. LDII mendorong agar Indonesia dapat mewujudkan ketahanan pangan Untuk itu, lahan lahan tidur yang tak produktit seperti lahan gambut supaya diinovasi agar dapat menjadi lahan yang produktif yang pada gilirannya dapat mewujudkan kemandirian pangan di Indonesia.

Diakhir kegiatan ditayangan video 8 kluster LDII dan penandatanganan komitmen bersama pencegahan Covid-19 di Papua dengan protokol kesehatan 3 M (memakai masker, mencuci tangan dengan sabun di air mengalir dan menjaga jarak).**