Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Noken, tas tradisional Papua, bukan sekadar alat membawa barang, tapi sarat nilai dan filosofi kehidupan masyarakat Papua.
“Nilai yang pertama adalah kasih kerahiman, bagaimana melahirkan kasih yang sesungguhnya dari seorang perempuan Papua,” ujar Yune Angel Anggelia Rumateray, Nokeners Anim Ha, dalam acara Menoken “Isi Noken Mama, Pangan Lokal dan Puisi” dalam rangka peringatan Hari Noken dan hari Ibu 2025 di Café Isasai, Waena, Kota Jayapura, Sabtu (20/12/2025).
Acara ini didukung Yayasan Menoken Membumi Membumma (Y3M) bersama Balai Perlindungan Kebudayaan Wilayah XXII Papua.
Menurut Yune, noken adalah simbol rajutan yang menyatukan marga, komunitas, dan suku, serta mencerminkan solidaritas, fleksibilitas, dan roh perempuan Papua.
“Nilai yang terkandung dari sebuah rajutan adalah menyambungkan satu marga dengan marga lain menjadi satu suku, dan menggambungkan komunitas menjadi satu komunitas yang besar dari Sorong ke Samarai, bahkan ke Papua New Guinea (PNG), kita satu,” jelasnya.
Menurut Yune, filosofi noken berbeda tiap wilayah sesuai adat setempat. Di Papua Selatan, noken berbentuk tertutup mencerminkan kehati-hatian dan adat setempat. Di Papua Pegunungan, noken transparan melambangkan keterbukaan, solidaritas, dan kejujuran. Meski berbeda bentuk, semua noken tetap mengandung nilai sosial, solidaritas, dan roh perempuan Papua.
Lebih jauh, tambah Yune, noken menyatukan lintas wilayah dan negara. Suku Kanum ada di wilayah perbatasan Indonesia dan PNG. Kita satu suku dan tak bisa dipisahkan oleh batas negara.
Noken itu kuat menyatukan satu suku dan satu darah,” tutup Yune, sembari menegaskan bahwa noken adalah warisan budaya hidup yang memperkuat identitas dan solidaritas masyarakat Papua. **














