Evakuasi Ditunda, Ibunda Gabriella Harap Segera Melihat Jenazah Putrinya

Martina Rinding, ibu kandung Suster Gabriella Meilani saat diwawancarai wartawan. (Foto: Istimewa)

Oleh: Faisal Narwawan  I

PAPUAinside.com, JAYAPURA—Tim Gabungan TNI-Polri hingga kini masih berupaya mengevakuasi jenazah Suster Gabriella Meilani dari Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang  ke Kota Jayapura. Pasalnya, evakuasi harus ditunda, karena kendala teknis yang dialami Heli Caracal milik TNI AU.

“Ditunda, karena heli Caracal yang rencananya akan menjemput kami (bersama jenazah, Red) alami kendala teknis,” ujar Kapenrem 172/PWY Mayor Inf. Dewa Made Dharmawan kepada Papuainside.com melalui pesan WhatsApp, Sabtu (18/9/2021) sore.

Kata Kapenrem Dharmawan, direncanakan evakuasi akan dilakukan menggunakan Heli Bell dari Timika. Namun, belum bisa dipastikan kapan evakuasi bisa dilakukan.

“Kemungkinan hari Senin,” singkatnya.

Sebelumnya, evakuasi jenazah Gabriella dari dalam jurang baru berhasil dilakukan personel gabungan TNI-Polri pada Jumat (17/9/2021) kemarin. Itupun personel TNI harus berjuang keras, karena proses evakuasi diganggu kelompok separatis.

Sementara, Martina Rinding, ibu kandung suster Gabriella Meilani sangat mengharapkan jenazah putrinya bisa segera dievakuasi ke Jayapura.

Kepada wartawan ia mengungkapkan bahwa tak ada yang ia inginkan, kecuali melihat langsung jenazah putrinya.

“Kami sangat berharap, tolong kami, kami sudah terlalu lelah, terlalu sakit sekali, jadi mohon ada perhatian khusus untuk anak kami, agar sesegera mungkin bisa dievakuasi,” ucap Martina Rinding dengan suara lirih.

Ia juga mengaku, sebelum kejadian tersebut tak ada firasat sama sekali yang dialaminya.

“Tidak pernah ada firasat, karena anak saya komunikasi lancar dari atas,” katanya.

Diketahui, Almarhumah  Gabriella Meilani ditemukan meninggal dunia di dalam jurang sedalam 300 meter. Ia dibunuh dengan sadis oleh Kelompok Separatis Terotis (KST) pimpinan Lamek Taplo, Senin (13/9/2021). Kelompok ini secara membabi buta bersama KNPB melakukan penganiayaan terhadap tenaga kesehatan, pembakaran fasilitas umum termasuk puskesmas di distrik tersebut. **