Oleh: Pdt. Dorman Wandikbo (*)
DOA Ratapan untuk kesembuhan Bapak Gubernur Papua Lukas Enembe dalam ibadah Paskah Kedua Ikatan Keluarga Walak (IKWAL) Provinsi Papua di Pantai Holtemkamp, Jayapura, Senin (05/04/2021).
Selain mengucap syukur atas karya Tuhan dan pemberitaan kebenaran firman Tuhan.
Jemaat GIDI terdiri dari wanita, laki-laki, pemuda dan anak-anak menyampaikan doa ratapan untuk kesembuhan Bapak LE.
Bapak LE kini dalam keadaan sakit, maka doa ratapan akan memberikan jawaban untuk kesembuhan Bapak LE.
Hari ini kita serahkan Bapak LE kepada Tuhan. Kita minta Tuhan menjaga dan melindungi .
Ada video yang beredar beberapa hari ini Bapa LE pergi ke Vanimo, Papua New Guinea (PNG), tapi beliau menyampaikan bahwa saya mau mati saya ingin hidup saya pergi berobat.
Bapak LE bukan sakit malaria, bukan sakit sosial yang seperti kita ketahui. Tapi Bapak LE sakit karena memikirkan persoalan-persoalan yang ada di Papua.
Sekilas siapa itu Bapak LE di mata Bapak President GIDI sebagai hamba gembala umat di Tanah Papua.
Bapak LE adalah Gubernur Provinsi Papua yang ke- 9. Ke-9 Gubernur Papua masing-masing.
- Eliezer Jon Bonay tahun 1963
- Frans Kaisiepo tahun 1964
- Acub Zainal tahun 1973
- Izaac Hindom tahun 1982
- 5.Barnabas Suebu tahun 1988 kemudian terpilih lagi pada tahun 2006.
- Yakob Pattipi tahun 1993
- Freddy Numberi tahun 1998
- Jacobus P Solossa tahun 2000
- LE tahun 2013 hingga kini
Bapak LE adalah jemaat GIDI. Anak dari Pegunungan dari Suku Lani. Pemimpin peradaban Papua namanya LE.
Bapak LE mempunyai visi yakni perubahan Papua waktu kuliah di Manado. Beliau tak hanya sekedar untuk kuliah, tapi beliau juga berpikir untuk mengubah Papua, melayani orang Papua dan mengangkat harga diri dan martabat orang Papua kepada dunia internasional. Itu visi yang Tuhan kasih untuk Bapak LE waktu kuliah di Manado.
Bapak LE punya misi itu diwujudkan saat menjabat Wakil Bupati Kabupaten Puncak Jaya. Selanjutnya dipilih lagi menjadi Bupati Puncak Jaya. Waktu beliau tidur di satu kamar dirumahnya pernah terjadi peristiwa penembakan. Tapi puji Tuhan kamar yang beliau tidur terbuat dari beton yang cukup keras, sehingga peluru tak masuk.
Tantangan yang bapak LE hadapi bukan waktu menjadi gubernur Papua, tapi waktu jadi bupati Puncak Jaya. Iblis tahu bahwa orang ini berbahaya untuk Papua dan iblis sudah tahu selama ini saya mempermainkan orang Papua, memperbudak orang Papua, membutakan mata orang Papua, mentulikan telinga orang Papua. Hari itu iblis tahu bahwa orang ini kalau jadi pemimpin untuk masa depan Papua nanti berbahaya. Itulah sebabnya bapak LE hampir dibunuh.
Namun Tuhan Yesus membawa dan menempatkan bapak LE di Kantor Gubernur Papua, Dok II, Jayapura.
Bapak LE tidak datang untuk menjadi Gubernur Papua, tapi bapak LE datang untuk menjawab penderitaan panjang orang asli Papua.
Bapak LE datang dari suku terbesar di Papua yakni suku Lani. Dan hari ini saya dari suku yang kecil mendapatkan pelayanannya, karena itu saya deklarasi hari ini bahwa dialah pemimpin orang Papua.
Bapak LE bersuara lantang, untuk menghentikan konflik di Nduga dan Intan Jaya. Bapak LE tak mau ada konflik di Nduga dan dia juga tak suka konflik terjadi di Intan Jaya, karena akibat konflik banyak masyarakat yang mengungsi dan banyak pula masyarakat yang meninggal di pengungsian.
Waktu bapak LE sebagai Gubernur Papua dia minta supaya pasukan TNI non organik yang masuk disana ditarik pulang.
Bapak LE sungguh terancam. Mereka mengatakan kepada bapak LE jangan anda bicara Nduga nanti gubernur akan dicopot.
Dia bicara tentang keselamatan orang Papua pun jabatannya diancam dicopot, tapi itulah pemimpin Papua.

Bapak LE kirim anak-anak dan mahasiswa Papua, untuk belajar keluar negeri, baik di Australia, Amerika, Kanada, Jerman, Korea, China, Rusia dan lain-lain. Hari ini hampir ribuan anak- anak Papua pergi belajar keluar. Tapi itu pun mereka anggap bapak LE adalah koruptor. Padahal LE sedang mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) generasi muda Papua.
Walapun banyak KPK dan BPK datang di kantor gubernur, untuk mengetahui bapak LE menjadi sponsor untuk anak- anak Papua. Tapi bapak LE katakan tak apa-apa saya ditangkap, yang penting 1.000 LE yang saya kirim harus kembali untuk membangun di tanah ini. Itulah hati bapak LE.
Bapak LE sosok penuh kebapakaan. Bapak LE sederhana, tapi memiliki prinsip dan integritas dalam menghadapi suatu keputusan.
Bapak LE berjiwa tak mau berkompromi, ketika berbicara tentang martabat dan harga diri orang Papua hingga hari ini.
Bpak LE figur pemimpin pemersatu bagi semua kalangan dan agama yang ada di Tanah Papua dengan moto Kasih Menembus Perbedaan. Tak ada orang pantai, tak ada orang gunung, tak ada orang Selatan, tak ada orang merdeka dan tak ada orang budak. Pemimpin LE mempersatukan didalam kasih yakni kasih dalam Yesus Kristus.
Bapak LE selalu tegas, berani dan tak pernah takut mati. Bapak LE figur yang selalu menempati janji dan komitmen. Bapak LE selalu hafal dan tak pernah lupa kerabatnya atau teman-temannya dari kecil sampai dewasa. Apa yang bapak LE sampaikan dia tak pernah lupa dia selalu ingat. Itulah bapak kita yakni LE Gubernur Papua.
Bapa LE tak banyak bicara, tapi banyak kerja. Hari ini ada banyak perubahan di Papua. Banyak orang bilang bapak LE korupsi, tapi Otsus bukan umur 5 tahun. Otsus itu umur 20 tahun, gubernur- gubernur yang lain juga mereka pakai uang yang sama. Hanya LE yang pakai 5 tahun saja mereka bilang dia korupsi, padahal banyak bukti pembangunan yang luar biasa di masa kepemimpinan bapak LE.
Bapak LE katakan bukan masalah Otsus, bukan masalah korupsi dan bukan pula masalah penyakit. Tapi dia sedang menderita, sedang memikirkan nasib bangsa ini yakni orang hitam, keriting yang ada di tanah ini. Apakah orang hitam dan keriting ada harapan untuk masa depan atau tidak. Itulah yang membuat bapak LE sakit dan hari ini kita doa ratapan untuk beliau.
Bapak LE adalah simbol peradaban orang Papua.
(*) President GIDI














