Di Kebun Tuli Yotoro, Selain Jagung Ada juga Kelor

Koordinator Kebun Tuli Yotoro Anthon Marweri, menunjuk anakan kelor. (Foto: Dok/Samdhana Institut Papua)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAinside.id, SENTANI—Kebun Tuli Yotoro, selain penanaman jagung super BISI-18 seluas 2 hektar juga  ada anakan kelor, kangkung cabut, singkong sebagai tanaman tumpang sari.

Kebun Tuli Yotoro terletak di Kampung Kwadeware, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua adalah kolaborasi Komunitas Tuli Jayapura (KTJ) dan Kelompok Sadar Pariwisata (Pokdarwis) Yotoro, didukung Samdhana Institut Papua.

Penanaman perdana jagung di Kebun Tuli Yotoro dilakukan Sekda Kabupaten Jayapura Hana Hikoyabi pada 25 September 2023 lalu.

Penanaman jagung kini sudah tumbuh tunas dan diperkirakan panen dalam waktu dekat ini.

Koordinator Kebun Tuli Yotoro Anthon Marweri mengatakan pihaknya telah menanam puluhan anakan kelor, yang diambil dari wilayah Koya, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura.

Ia menyadari bahwa kelor memiliki cukup banyak manfaat, antara lain untuk sayur-mayur, tanaman obat, pupuk dan lain-lain.

“Kami tanam kelor sejak dua pekan lalu, kini sudah mulai tumbuh tunas. Kami akan menaman kelor lebih banyak lagi dari pada lahan ini dibiarkan kosong,” kata Anthon, Selasa (14/11/2023).

Anakan kelor umur dua minggu sudah muncul tunas. (Foto: Dok/Samdhana Institut Papua)

Koordinator Institut Samdhana Papua, Piter Roki Aloisius menjelaskan pihaknya merencanakan mengolah  Kebun Tuli Yotoro menjadi lahan pertanian terintegrasi menggunakan bahan-bahan organik, seperti pupuk negentropi.

Diketahui pupuk organik negentropi menggunakan bahan yang ada di sekitar, seperti daun kering dan basa, serbuk kayu, kotoran sapi, kotoran kambing dan lain-lain.

Pembuatan pupuk negentropi awalnya dilatih Tim dari Institut Samdhana Bogor, kini mulai dikembangkan di Pusat Pembelajaran Komunitas Hena Uwakhe Imea di Kampung Hena, Distrik Sentani Kota, Kabupaten Jayapura, Papua.

Salah-satu bahan untuk pembuatan pupuk negentropi adalah daun kelor.

“Kita berharap makin banyak daun kelor yang tumbuh, maka kita tak perlu cari lagi bahan, untuk pupuk negentropi,” tutur Roki.

Bahkan kedepan bakal dikembangkan tanaman sirih, yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi, khususnya di Papua.

Menurutnya, kelor ini sangat bagus menjadi inang atau tempat tumbuh sirih.

“Kalau sirih dipadukan dengan kelor, maka akan tumbuh subur sekali,” tandasnya.

Selain menjadi bahan baku pupuk negentropi dan juga sebagai inang untuk budidaya sirih, terangnya, kelor juga manjur untuk kesehatan. Bahkan kelor selalu dicari, karena  daun kelor salah-satu sayur yang kandungannya  memiliki protein tinggi, terutama untuk ibu hamil dan menyusui.

Selain itu, ungkapnya, kelor juga tak menggunakan bahan pestisida yang membahayakan tubuh. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *