Dari Bakau ke Surga: Kisah Iman dan Kehidupan di Asmat

Cover depan dan belakang buku Dari Bakau Ke Surga: TUHAN Tidak Pernah Jauh. (ist)

PAPUAINSIDE.ID, ASMAT—Di ujung selatan Tanah Papua, di antara sungai pasang-surut dan hutan bakau yang tak mengenal jalan darat, hidup sebuah kesaksian yang jarang ditulis namun terus dijalani. Kesaksian tentang iman yang tidak lahir dari kemudahan, tetapi dari kehadiran yang setia. Dari sanalah buku Dari Bakau ke Surga: Tuhan Tidak Pernah Jauh bertumbuh, bukan sebagai cerita heroik, melainkan sebagai rekaman kehidupan yang nyata.

Buku ini merekam perjalanan pastoral Mgr. Aloysius Murwito, OFM, Uskup Keuskupan Agats, yang selama lebih dari dua dekade memilih tinggal dan berjalan bersama masyarakat Asmat. Ia bukan pemimpin yang hadir dari kejauhan, melainkan gembala yang menyusuri sungai, menunggu cuaca, dan tinggal di kampung-kampung sunyi, tempat iman diuji oleh lumpur, jarak, dan kesabaran.

Gereja Pupis, 2025. ISTIMEWA

Asmat selama ini kerap muncul di ruang publik dalam narasi krisis: gizi buruk, wabah, keterisolasian. Namun buku ini mengajak kita melihat sisi lain yang jarang diangkat tentang ketangguhan manusia, kearifan hidup, dan daya tahan iman yang tumbuh dari relasi. Di tanah bakau, pelayanan tidak diukur dari megahnya bangunan, tetapi dari kesediaan untuk hadir. Di sanalah Gereja menemukan kembali wajahnya yang paling manusiawi.

Lebih dari sekadar buku rohani, Dari Bakau ke Surga adalah refleksi tentang bagaimana pembangunan manusia seharusnya dijalankan. Ia berbicara tentang pendidikan, kesehatan, budaya, dan pendampingan sosial sebagai satu kesatuan. Di sini, iman tidak berdiri sendiri, melainkan berjalan seiring dengan upaya memuliakan martabat manusia. Pelayanan pastoral bukan proyek jangka pendek, melainkan relasi jangka panjang, bukan soal cepat sampai, tetapi tentang kesetiaan untuk tinggal.

Transportasi harian Masyarakat di wilayah Asmat. (Photo: Evi Aryati Arbay)

Dalam konteks Indonesia hari ini, pesan buku ini menjadi sangat relevan. Pemerintahan Presiden Prabowo melalui agenda Asta Cita menempatkan pembangunan manusia, pengentasan kemiskinan, penguatan pendidikan, serta perhatian pada wilayah tertinggal sebagai prioritas utama. Asmat, dengan segala tantangannya, adalah cermin nyata dari semangat itu. Buku ini menunjukkan bahwa membangun Papua tidak bisa hanya dengan infrastruktur, tetapi harus dimulai dari membangun manusia, literasi, dan harapan.

Karena itu, buku ini sesungguhnya bukan hanya milik Gereja, tetapi milik bangsa. Ia menawarkan cara pandang bahwa pengentasan kemiskinan tidak cukup dengan bantuan sesaat, melainkan melalui pendidikan, pembentukan karakter, dan kehadiran yang konsisten. Apa yang dituturkan dalam buku ini selaras dengan cita-cita nasional: membangun Indonesia dari pinggiran, dari desa, dari manusia.

Uskup mengunjungi umat di tepian Sungai Sires 2013, (foto: ist)

Di sinilah pentingnya buku ini untuk dibaca dan dimiliki. Membeli Dari Bakau ke Surga bukan sekadar membeli buku, tetapi ikut mengambil bagian dalam gerakan literasi, penguatan identitas, dan pembangunan manusia Papua. Setiap halaman yang dibaca adalah bentuk dukungan terhadap pendidikan, terhadap narasi yang adil, dan terhadap masa depan generasi muda Asmat.

Tak heran jika peluncuran buku ini disambut hangat oleh masyarakat Agats. Banyak warga mengaku baru kali ini membaca kisah hidup mereka sendiri dalam bentuk buku ditulis dengan hormat, tanpa stigma. Di wilayah yang akses bacaan masih terbatas, buku ini menjadi jendela pengetahuan sekaligus sumber kebanggaan. Ia membuktikan bahwa orang Asmat bukan sekadar objek pembangunan, melainkan subjek yang memiliki cerita, nilai, dan martabat.

Lebih jauh, buku ini mengingatkan kita semua, di Papua maupun di luar Papua bahwa Indonesia dibangun bukan hanya oleh kebijakan, tetapi oleh kehadiran orang-orang yang setia bekerja dalam diam. Bahwa iman, kepemimpinan, dan kemanusiaan dapat berjalan bersama. Bahwa di tengah dunia yang sering bising, masih ada suara sunyi yang menguatkan.

Membaca Dari Bakau ke Surga adalah membaca Papua dengan cara yang berbeda: bukan dari angka dan laporan, tetapi dari perjumpaan. Dari Asmat, kita belajar bahwa iman yang dijalani dengan setia selalu menemukan jalannya. Dan dari sana pula kita diingatkan bahwa Tuhan tidak pernah jauh, Ia tinggal bersama mereka yang memilih untuk hadir. ** (Evi Aryati Arbay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *