Danrem 172/PWY: Effendi Simbolon Berupayah Pecah Belah TNI

Danrem 172/PWY Brigjen TNI JO Sembiring memberikan keterangan pers meminta Effendi Simbolon Anggota DPRI RI minta maaf pada prajurit TNI atau mengundurkan diri. (foto: Penrem 172/PWY)

PAPUAInside.com, JAYAPURA— Danrem 172/PWY Brigjen JO Sembiring mengatakan ada upaya Effendi Simbolon memecah belah pimpinan TNI melalui pernyataannya gerombolan TNI.

‘’Dia berupaya memecah belah pimpinan TNI dan prajurit TNI, pernyataannya mengecewakan saya prajurit saya dan bahkan seluruh prajurit TNI. TNI bukan gerombolan tetapi bertugas menegakkan kedaulatan negara, menjaga keutuhan wilayah dan melindungi segenap bangsa,’’ tegasnya.

Kata gerombolan menurut JO sembiring adalah kelompok yang sering mengacau dan kalau TNI disebut gerombolan pasti seluruh prajurit TNI tidak terima. “Saya tegaskan prajurit saya tetap satu komando. Atasan kami bukan EF (Effendi Simbolon) tapi bapak Pangdam, Kasad, Panglima TNI dan Presiden,” tegasnya.

Pernyataan Effendi itu kata JO Sembiring hanyalah mencari popularitas murahan, karena dalam pertemuan dengan Komisi I DPR RI tersebut, hanya membahas masalah anggaran tetapi kemudian membahas lain serta meminta pertemuan tersebut terbuka.

Menurut Danrem JO, pernyataan Effendi Simbolon telah membuat kegaduhan di republik ini karena sebagai seorang intelektual, seharusnya bisa membedakan apa yang dimaksud gerombolan dan TNI. Gerombolan adalah sekumpulan orang-orang pengacau sedangkan TNI adalah benteng pertahanan negara.

Secara tegas, Danrem juga meminta Effendi Simbolon untuk meminta maaf atau mundur dari jabatannya sebagai wakil rakyat di DPR RI.

Jabatan kata JO Sembiring hanyalah sementara dan tidak abadi, sebaiknya menjaga tutur kata yang baik, sopan dan mencerminkan seorang wakil rakyat yang intelek.

JO Sembiring membandingkan sikap Effndi Simbolon dan Ketua DPRD Lumajang yang kstaria.  “Jika tidak bisa menjadi cerminan bagi masyarakat maka mundur saja, kami lebih hormat kepada Ketua DPRD Lumajang H. Anang Akhmad Saifuddin yang berani mengundurkan diri dari jabatannya, hanya karena salah melafalkan Pancasila, walaupun itu menurut kami hanya ketidaksengajaan. Tetapi kami menaruh hormat kepada beliau yang gentle mengakui kesalahannya,” katanya. **