Bupati Puncak Pastikan Perbarui Lapter Perintis di Distrik Doufo

Lapangan perintis yang dibangun misionaris tahun 1950-an di distik Doufo, Kabupaten Puncak Papua. Kondisi terkini lapter tersebut yang dikunjungi Bupati Puncak, Willem Wandi, SE, M.Si Sabtu (27/08/2021). (foto: Diskominfo Puncak)

Oleh: Faisal Narwawan|

PAPUAinside.com, JAYAPURA – Bupati Puncak Willem Wandik,SE,M,Si berkesempatan melakukan kunjungan kerja ke  lapangan terbang Distrik Doufo, Jumat (27/8/2021).

Bupati memastikan akan melakukan peningkatakan lapangan terbang yang diketahui adalah salah satu lapangan terbang (lapter) terekstrim itu.

“Secepatnya kami kirim tim konsultan perencana untuk melihat kondisi lapangan terbang ini. Tahun ini tim konsultan masuk, tahun depan kami mulai kerja, apalagi bahan bangunan, bisa diambil melalui sungai, dari Kasonaweja ,Ibu Kota Mamberamo Raya diangkut ke sini, biaya juga murah tidak seperti kami bangun di wilayah pegunungan,” ungkap bupati.

Ia yakin lapter itu kelak menjadi sentral peningkatan ekonomi bagi masyarakat.

Bupati Puncak Willem Wandik, SE, MSi (jaket biru, tengah) bersama warga di Distrik Doufo. (foto: Diskominfo Puncak)

Lapter Distrik Doufa masuk lapter perintis yang cukup ekstrim karena panjangnya saja sekitar 800 meter dan tidak beraspal, hanya tanah merah yang disebelahnya dikelilingi Sungai Mamberamo.

Kemampuan dan pengalaman pilot sangat dibutuhkan untuk mendaratkan pesawat di lapter itu.

“Pesawat bisa saja tergelincir dan masuk dalam jurang bahkan bisa membuat kecelakaan,” kata   Captain Jesse baker, pilot asal Selandia Baru yang selama ini bekerja di pesawat Grand Caravan milik Pemkab Puncak jenis Cesna Grand Caravan.

Direktur PT. Aviation Puncak Papua perusahaan penerbangan yang dibawah naungan Badan Usaha Daerah (BUMD) Pemda Puncak Semuel Resubun mengatakan, salah satu penyebab lapangan terbang di Papua sangat ekstrim karena  berada di atas gunung dan lembah.

Selain itu, fsilitas lapangan terbang juga sangat minim ditambah kondisi cuaca yang tidak bisa diprediksi karena berubah setiap saat.

“Untuk menjadi pilot di Papua memang membutuhkan kemampuan khusus atau visual yang baik, mampu membaca tanda alam maupun cuaca, sehingga mampu mengendalikan pesawat tetap terbang pada jalurnya,” katanya.

Untuk alasan itu, setiap pilot di sana harus menguasai medan di Papua dan berpengalaman masuk keluar di landasan yang sulit.

“Kami biasanya ada pendampingan dari instruktur, bukan satu dua kali, tapi biasanya berkali-kali, sampai kami nilai sudah siap baru bisa dilepas,” jelasnya.

Salah satu warga Distrik Doufo Daniel mengatakan, warga setempat sudah lama sekali merindukan lapangan terbang diaspal, sehingga pesawat tidak ragu masuk di daerah tersebut.

“Landasan mungkin tidak bagus, jadi pesawat tidak mau datang ke sini, kami sudah lama merindukan lapangan terbang diaspal, bapak Bupati sudah datang, sudah liat sendiri, kalau bisa segera bangun lapangan terbang ini biar pesawat banyak masuk ke sini,” tambahnya.

Lapangan terbang di Distrik ini, sudah lama dibangun oleh para misionaris tahun 1950-an.

Sejak tahun 2017, pemerintah pusat melalui Program tol udara melakukan berbagai upaya, sehingga saat ini seminggu sekali fligth masuk di distrik itu.

Kedepan, Bupati Willem Wandik mengharapkan daerah itu mempunyai lapangan terbang yang layak dan mampu meningkatkan ekonomi di wilayah tersebut. ** (Diskominfo Puncak)