BUMMA Namblong dan Marga Daka Optimalkan Lahan Ulayat untuk Pengembangan Padi di Kuimeno

Staf Mitra BUMMA Rejeki Sihite, didampingi Ketua Kelompok Tani Yomakonasi, Oktovina Sem, meninjau lahan yang akan ditanami padi di Kampung Kuimeno, Kabupaten Jayapura. (Foto: PapuaInside.id/Makawaru da Cunha)

Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—
Upaya memperkuat kemandirian pangan masyarakat adat di Kabupaten Jayapura kembali mendapat dorongan baru. Lahan pertanian yang telah dibuka sejak beberapa dekade lalu oleh pemilik ulayat Marga Daka di Kampung Kuimeno, Kabupaten Jayapura kini kembali dioptimalkan melalui kerja sama dengan Badan Usaha Milik Masyarakat Adat (BUMMA) PT Yombe Namblong Nggua.

Staf Mitra BUMMA sekaligus Pendamping Unit Pertanian, Rejeki Sihite, menjelaskan bahwa lahan tersebut sejak lama menjadi sumber pangan keluarga pemilik ulayat dan warga setempat. Dengan sinergi baru ini, pengelolaan pertanian kembali difokuskan untuk meningkatkan produksi padi secara berkelanjutan.

“Ini adalah lahan lama yang dibuka sejak beberapa dasawarsa lalu untuk kebutuhan sehari-hari. Kini kami bersinergi dengan pemilik ulayat Marga Daka untuk melanjutkan usaha penanaman padi,” ujar Rejeki, Jumat (28/11/2025).

Dari delapan hektar lahan yang disiapkan, enam hektar telah rampung dikerjakan dan memasuki tahap akhir persiapan. Ia menyebut progres lapangan sudah mencapai 90 persen.

“Tinggal pembersihan terakhir dan penyemprotan pupuk organik. Target kami penanaman dimulai minggu pertama dan kedua Desember,” katanya.

Proses penanaman direncanakan berlangsung secara gotong royong bersama masyarakat, dengan pendampingan penuh dari Mitra BUMMA mulai dari pembibitan, perawatan, panen, hingga pengolahan gabah pascapanen.

Tanaman padi milik Ketua Kelompok Tani Yomakonasi, Oktovina Sem, tampak mulai berbunga di lahan pertanian Kampung Kuimeno, Kabupaten Jayapura. (Foto: PapuaInside.id/Makawaru da Cunha)

Sementara itu, Ketua Kelompok Tani Yomakonasi, Oktovina Sem, mengatakan lahan pertanian di Kuimeno memiliki potensi besar untuk kembali menjadi penopang pangan masyarakat adat yang hidup dari hasil bumi. “Kami hidup dari apa yang kami tanam. Karena itu petani harus tetap semangat,” ucapnya.

Kelompok Tani Yomakonasi yang beranggotakan 20 keluarga akan menanam varietas padi INPAKO 13. Jenis yang cocok untuk lahan basah maupun kering dengan masa tanam sekitar empat bulan. Oktovina optimistis produktivitas lahan akan tinggi seperti sebelumnya.

“Tanah subur dan hama hampir tak ada. Satu pematang bisa sampai 60 karung, dan sekali panen bisa sekitar 350 karung,” jelasnya.

Program ini diharapkan tak hanya memperkuat ketahanan pangan lokal, tapi juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat adat Kuimeno melalui pengelolaan pertanian yang terencana, terukur, dan berkelanjutan. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *