PAPUAInside.com, JAYAPURA— Pembagian meja jualan bagi mama-mama Papua pedagang sayur mayur dan buah-buahan di Pasar Mama Mama Jalan Percetakan Jayapura merupakan Program Sosial Bank Indonesia (PSBI) yang menyentuh OAP atau orang asli Papua
Meja jualan yang dibagikan gratis dilengkapi lemari penyimpanan sudah dilengkapi stiker QRIS sehingga layanan transaksi non tunai melalui QRIS atau Quick Response Code Indonesian Standard di setiap lapak dagangan mama-mama Papua juga tersedia.

Sebelum mendapatkan bantuan tersebut, mama-mama Papua berjualan di lantai beralaskan karung atau terpal. Kondisi yang terkesan kurang higenis ini dikhawatirkan oleh BI Papua.
Yuliana Pigai, ketua koperasi Mama-mama Papua kepada PAPUAInside.com mengatakan, meja jualan sangat bermanfaat bagi mama-mama Papua. Ia mengapresiasi BI Papua atas bantuan yang diberikan.
Selain itu, stiker QRIS pun diakuinya bermanfaat. “Kalau warga biasa itu banyak pakai uang, tapi QRIS ini juga biasa anak muda pakai, mama-mama memang ada yang paham, tapi mereka senang karena ada barang baru untuk bayar,” kata mama Yuliana.
Dengan adanya meja jualan mama-mama Papua juga bisa menyimpan dagangannya berupa umbi-umbian ataupun peralatan jualan lainnya.
“Sebelumnya, barang kami hilang-hilang, sekarang tidak lagi. Tapi baru di lantai satu, kita mau itu ada di lantai dua dan tiga,” ujar Yuliana, Kamis (17/2/2022).
Di sisi lain, Yuliana mengharapkan tak hanya bantuan meja yang diberikan. Ia menginginkan perhatian dari pihak lain selain BI Papua juga diberikan.
Yulita Gobay, wanita pedagang sayuran berumur 43 tahun ini pun mengutarakan hal yang sama.
Ia mengakui, meja jualan yang disediakan sangat cocok dengan kondisi mama-mama Papua, karena tak terlalu tinggi tapi cukup lebar.
Ditanya soal keuntungan dari hasil jualannya, Yulita mengaku tak banyak dapat untung, apa lagi saat masih berjualan melantai.
Sebagai pedagang kecil, ia perharinya dapat berjualan dengan modal Rp 500 ribu dengan untung Rp 100 hingga Rp 200 ribu.
“Sebelum ini jualan di bawah, di lantai, sekarang ini kami sudah cukup baik,” katanya.
Ibu tujuh anak ini mengaku sudah delapan tahun berjualan di Jayapura dan selalu berpindah-pindah tempat.
Perhatian BI dengan meja jualan diakuinya sangat bermanfaat. Hanya saja disampaikannya pembeli tak terus ramai. Untuk ltu ada harapan besar, agar ada perhatian selain pihak BI Papua.
“Kalau hari-hari biasa sepi. Pas rame itu anak hari Sabtu, pas malam minggu. Meja ini juga bagus, dulu kami tada-tada hujan, tada panas, sekarang sudah ada rumah, ada atap dan meja juga, ” ucapnya lagi.
Bersama teman jualannya, Siska Mote juga meminta, pemerintah Provinsi Papua dan Kota Jayapura bisa terus meninjau pasar tersebut. “Jadi kalau ada kekurangan, pemerintah bisa lihat kita,” katanya.
Selpina Keiya, pedagang buah pinang di pasar tersebut menjelaskan, bantuan meja untuk dirinya cukup bermanfaat. Hanya saja berjualan pinang tak terlalu ramai pembeli.
Kedepan kata Selpina agar tak sepi pembeli, ia menyarankan jalan masuk ke pasar tak hanya satu jalan. “Buka lagi yang di belakang. Saya mau bilang, meja sudah bagus, tapi biar kita punya dagangan kelihatan, pemerintah bisa buka jalan lagi dari arah belakang,” sarannya. **














