Pemprov dan Pemkab Papua Pegunungan Upayakan Mediasi Damai Pasca Konflik Antarwarga

Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol, Bupati Jayawijaya Atenius Murip, dan Sekda Lanny Jaya bersama unsur forkopimda, LMA, serta tokoh masyarakat mendatangi kelompok Suku Lany di Sinakma untuk melakukan mediasi, Selasa (20/1/2026). (Foto: Papuainside.id/RF)

Oleh: RF  I

PAPUAINSIDE.ID, WAMENA–Penyelesaian masalah yang berujung konflik antarwarga suku antara suku Lanny di daerah Sinakma dan suku Yali di kampung Maplima di pusat kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, Senin (19/1/2026) petang, mulai mereda di hari kedua pasca konflik.

Kedua kelompok sepakat untuk tidak saling serang,  setelah berhasil dimediasi pemerintah provinsi (pemprov) Papua Pegunungan, pemda Lanny Jaya, dan pemda Jayawijaya, dengan menemui langsung ke dua kelompok yang bertikai.

Sebagai pemilik wilayah tempat terjadinya aksi saling serang tersebut, Bupati Jayawijaya Atenius Murip, menyampaikan rasa prihatin terkait kejadian itu karena berdampak pada terganggunya kedamaian, keamanan dan aktifitas masyarakat serta pemerintahan.

“Kami pemda Jayawijaya sebagai ibu kota kabupaten dan juga ibu kota provinsi Papua Pegunungan turut prihatin dengan kejadian ini, karena kedamaian, keamanan dan aktifitas masyarakat dan pemerintah di kabupaten Jayawijaya terganggu,” katanya kepada wartawan usai mediasi, Selasa (20/1/2026).

Aparat keamanan bersiaga di pusat Kota Wamena pasca aksi saling serang antar kelompok warga yang terjadi pada Senin (19/1/2026). (Foto: Papuainside.id/RF)

Oleh sebab itu, kata bupati Jayawijaya untuk mengakhiri pertikaian ini maka sebagai kabupaten induk maka pemda Jayawijaya menginisiasikan mediasi perdamaian, dengan melibatkan pemerintah provinsi Papua Pegunungan, pemda Lanny Jaya, TNI/Polri, MRP, LMA, para tokoh adat, tokoh agama, dan tokoh masyarakat dari kedua kelompok.

“Kami sudah temui masyarakat Lanny dan masyarakat Yali, hasilnya disampaikan secara terbuka, bahwa tidak akan lagi terjadi perang tetapi bersepakat bersama-sama untuk menyelesaikan secara damai,” katanya.

Lanjut bupati, saat menemui kedua kelompok yang bertikai pemda Jayawijaya memberi bantuan masing-masing dua ton beras kepada massa suku Lanny di daerah Sinakma dan suku Yali di Kampung Maplima.

“Bantuan ini sebagai bentuk kekeluargaan dan kedamaian dari kami pemda Jayawijaya, dimana mereka (kelompok yang bertikai) sudah menyampaikan permohonan maaf karena telah mengganggu ketertiban dan keamanan di kota Wamena, dan itu mereka sampaikan secara terbuka. Jadi ini bentuk apresiasi dari kami, dan itu bagian dari kebersamaan yang telah kami lakukan,” jelas Atenius Murip.

Ia berharap, masalah pertikaian ini dapat segera selesai dengan perdamaian kedua kelompok.

Berdasarkan data yang dirangkum, pertikaian kedua kelompok suku asli di Papua Pegunungan ini bermula dari upaya penyelesaian masalah denda adat yang terjadi akibat pelanggaran hukum yang terjadi pada Desember 2025 lalu, tidak menemui titik terang. Setelah bubar dari mapolres Jayawijaya kedua kelompok pun melakukan aksi saling serang, hingga menewaskan seorang pemuda dari suku Lanny, hal menyebabkan situasi semakin memanas dan berujung saling menuntut denda adat. **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *