Iqbal Kaplele di COP30 Brasil: Deforestasi Ancam Keberlanjutan Noken Papua

Iqbal Kaplele membawa noken sebagai medium untuk menjelaskan keterkaitan antara hutan dan kehidupan masyarakat adat Papua dalam forum COP30 UNFCCC di Belém, Brasil, 10–21 November 2025. (Foto: Dok/Pribadi)

Oleh: Makawaru da Cunha  I

PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Deforestasi yang terus berlangsung di Tanah Papua mengancam keberlanjutan noken sebagai simbol hidup, identitas, dan pengetahuan masyarakat adat. Ancaman tersebut disuarakan pemuda adat Papua, Iqbal Kaplele, dalam forum Conference of the Parties ke-30 (COP30) United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) di Belém, Brasil, 10–21 November 2025.

Dalam forum internasional itu, Iqbal membawa noken sebagai medium untuk menjelaskan keterkaitan langsung antara hutan dan kehidupan masyarakat adat Papua.

Seluruh bahan baku noken, menurutnya, berasal dari hutan, sehingga hilangnya tutupan hutan berarti terputusnya mata rantai budaya.

“Bahan noken berasal dari hutan. Jika hutan hilang, noken pun ikut hilang,” ujar Iqbal di hadapan peserta dari berbagai negara.

Ia menegaskan, deforestasi bukan hanya persoalan lingkungan, tapi juga ancaman serius terhadap keberlanjutan budaya masyarakat adat. Hilangnya hutan berarti tergerusnya pengetahuan dan nilai budaya yang diwariskan lintas generasi.

“Yang hilang bukan hanya benda, tapi pengetahuan dan warisan budaya,” katanya.

Noken telah diakui UNESCO sebagai warisan budaya tak benda, sehingga kerusakan hutan berarti pula ancaman terhadap nilai budaya yang diakui dunia.

Iqbal mengungkapkan kegelisahan generasi muda adat yang kian nyata seiring pembukaan hutan di Papua. Ia menilai krisis iklim berdampak langsung pada identitas dan masa depan masyarakat adat.

“Mungkin suatu hari saya tak lagi bisa memegang noken seperti sekarang,” ujar Iqbal lirih.

Iqbal Kaplele terpilih sebagai delegasi masyarakat adat pada COP30 UNFCCC Belém setelah lolos seleksi dari sekitar 1.800 peserta berbagai negara melalui Life of Pachamama, organisasi berbasis di Bogota, Kolombia, yang didirikan kaum muda untuk menjaga hutan dari berbagai ancaman.

Organisasi ini mendorong advokasi dan penguatan suara masyarakat adat dalam upaya pelestarian hutan dan keadilan ekologis.

Pesan tentang pentingnya merawat noken dan hutan Papua juga kembali ia sampaikan dalam acara menoken “Isi Noken Mama, Pangan Lokal dan Puisi” pada peringatan Hari Noken dan Hari Ibu 2025 di Jayapura, Sabtu (20/12/2025). **

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *