Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Field Staf Unit Kehutanan Mitra BUMMA, Angelius M. Nababan, dan Staf Divisi Patroli Hutan BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, Derek Demotekay, ambil bagian dalam Konferensi Ranger Borneo di Pontianak, Kalimantan Barat, 25–26 November 2025.
Kegiatan yang diselenggarakan Yayasan Planet Indonesia (YPI) tersebut mengusung tema “Mendorong Pengawasan Hutan Partisipatif Berbasis Masyarakat untuk Semangat Konservasi Berkelanjutan” dan diikuti 52 ranger atau penjaga hutan dari 25 tim patroli dampingan YPI, serta perwakilan instansi terkait, perwakilan dari 6 kabupaten di Kalimantan Barat, serta instansi seperti Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Kalimantan Barat, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kalimantan Barat, Balai Gakkum Kehutanan Wilayah Kalimantan.

Para peserta berpose bersama pada penutupan Konferensi Ranger Borneo di Pontianak, Kalimantan Barat, 25–26 November 2025. (Foto: Yayasan Mitra BUMMA)
Angelius mengatakan keduanya hadiran membawa amanah dan cerita dari BUMMA PT Yombe Namblong Nggua di Kabupaten Jayapura, Provinsi Papua untuk dibagikan kepada para ranger Kalimantan. “Saya ikut berbagi cerita terkait pola penjagaan hutan Suku Namblong,” ungkap Angelius.
Ia menilai patroli berbasis masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian hutan meski dihadapkan pada tantangan berat.
“Meskipun secara geografis terpisah ribuan kilometer, kami menemukan bahwa tujuan kami adalah sama, yaitu menjaga kelestarian keanekaragaman hayati, hutan, dan adat dari tekanan kerusakan lingkungan,” ujar Angelius.
Sementara itu, Derek Demotekay berharap pengalaman dari konferensi tersebut dapat diterapkan di wilayah adat Namblong.
“Kami berharap bisa menjalankan kegiatan penjagaan hutan, agar hutan yang kami miliki tetap lestari,” ucapnya.
Konferensi ditutup dengan diskusi dan pleno Rencana Tindak Lanjut (RTL) pola penjagaan hutan tahun 2026. **














