Oleh: Makawaru da Cunha I
PAPUAINSIDE.ID, JAYAPURA—Tradisi Noken yang telah menjadi identitas budaya Papua dinilai makin terancam keberlanjutannya.
Koordinator Papua Tour Guide, Andre Liem, menyatakan para perajin masih menghadapi banyak kendala, termasuk menurunnya ruang budaya dan minimnya dukungan terhadap pengembangannya.
Penilaian itu disampaikan dalam peringatan Hari Noken Sedunia dan Hari Disabilitas Internasional 2025 yang digelar Komunitas Noken Mamta dari Yayasan Menoken Membumi Membumma (3M) di Resto Isasai, Waena, Sabtu (6/12/2025).
Acara ini menghadirkan empat narasumber perempuan. Petronella Giyai, Nokeners Tuli dan Perajut Noken, Yohana Tarkuo Dirut BUMMA PT Yombe Namblong Nggua, Naomi Waisimon Co Founder Ki Basic, dan Levina Yaung Influencer Noken.
Andre menyoroti kerusakan sejumlah ruang budaya di Papua, termasuk Taman Nasional Lorentz, yang tak lagi berfungsi sebagai pusat aktivitas budaya masyarakat adat. Ia juga menilai perajin penyandang disabilitas memberi kontribusi signifikan dalam menjaga mutu dan kesinambungan produksi Noken.
Peringatan Hari Noken Sedunia tahun ini menegaskan kembali pentingnya pelestarian budaya sebagai upaya menjaga identitas sekaligus membuka peluang peningkatan ekonomi bagi perajin.
Andre menuturkan, hal ini sebagaimana disampaikan tokoh pengusung pengakuan Noken dari UNESCO, Titus Pekey, menyebut Noken sebagai citra dan jati diri manusia Papua, sebuah simbol budaya yang harus dijaga keberadaannya. **














